Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 9


__ADS_3

🌻🌻🌻


Langit yang sudah dari semalam di apartemen di buat pusing dengan rengekan Air yang memintanya untuk mengantar ke area balapan di pinggiran kota, Bukan ia tak mau, tapi resiko yang akan ia terima bisa berakibat juga bagi Cahaya, Ia tak ingin gadis kecilnya itu merasakan susah bertemu dengannya lagi dalam batas waktu yang lama.


"Abang, kan cuma sebentar!" Remaja itu masih saja menarik ujung Hoodie yang di kenakan Langit, keduanya kini sedang berada di balkon.


"Kalo kakak dapet izin, Abang mau anter" ucapnya tegas, kali ini ia tak mau kecolongan lagi.


"Bener ya, kalo mama izinin Abang mau anter?" kata Ay memastikan.


"Bukan Buna, kalo Buna sih iya aja kita mau apa juga kan yang sudah itu papa!"


Ay merengek lagi, bahkan ia hampir menggigit bahu Langit Karna jengkel jika saja Langit tak menghindar.


"Papanya belum pulang, Bang"


"Ya udah tunggu papa sampai pulang, Abang anter kalo udah dapet izin!" tegas Langit lagi.


Air mendengus kesal sambil meninggalkan Langit yang masih di balkon ia menggerutu sembari menuruni anak tangga ke lantai bawah.


"Abang mana?" tanya Chaca saat berpapasan dengan Ay.


"Ada di balkon" sahutnya ketus dengan muka masam.


Cahaya yang tak mau ambil pusing tak mau bertanya sebab kakaknya yang merengut kesal, ia langsung melanjutkan lagi langkahnya menuju balkon menemui Langit.


.


.


"Abang sayang....."


Gadis kesayangan Langit itu langsung memeluknya dari belakang, menghirup aroma tubuh Langit adalah kebiasaan Cahaya sedari ia kecil.


"Ada apa?" Tanya langit sambil mengusap tangan Cahaya yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


"Kakak, kenapa?"


Langit yang mendengar pertanyaan Cahaya langsung memutar badannya agar bisa saling berhadapan.


"Kakak mau minta Abang buat anter liat balap motor di pinggiran kota, dek" jawab Langit, kini tubuh mungil Cahaya sudah berada dalam dekapannya.


"Terus Abang mau?" tanyanya lagi, Cahaya sedang menikmati ritme detak jantung pujaan hatinya.


"Kalo papa izinin, ya Abang mau!"


Cahaya mendongakan wajahnya sambil tersenyum.


"Aku yang nanti minta izin ke papa!" ucapnya, ia lalu mengurai pelukannya.


"Dek, mau kemana?" teriak Langit saat punggungnya mungil itu perlahan menjauh darinya.



*****


"Boleh ya, pah" Rayu Cahaya lagi, kepalanya kini sudah berada di lengan Reza yang Bersandar di punggung ranjang.


"Gak!" sahut Reza masih setia dengan penolakannya.


"Apa sih, ini kan weekend"


"Terus kalo weekend kenapa?, adek mau jalan kemana?, ayok sama papa!" kata Reza sambil mengusap kepala anak bungsunya itu


"Aku mau sama kakak!" pintanya memaksa.


Reza menarik nafasnya dalam-dalam, melirik kearah istrinya yang mengangguk kan kepalaya.


"Janji kalau kalian akan pulang tepat waktu?"


"Janji tidak akan melakukan hal yang membahayakan?"

__ADS_1


"Janji untuk berhati-hati?"


"Janji untuk tidak Jajan sembarangan?"


"Janji untuk tidak--_ sering sering berpelukan dengan Abang?" ucapan Reza yang terakhir ini sambil berbisik di telinga Cahaya, anak gadisnya itu langsung terkejut dengan pipi merona merah.


"janji Pah, kita semua akan patuh dengan semua aturan papa!" Cahaya mencoba meyakinkan Reza.


"Bagus, pergilah.." titahnya kemudian, yang dengan cepat langsung mendapat pelukan hangat dari bungsu.


"Makasih ya, pah.. sayang papa banyak banyak pokonya"


Cahaya mencium Kedua pipi Reza secara bergantian, lalu turun dari kasur, kini mamanya juga mendapat hal yang sama.


"Sayang mama juga!"


"Daaaaaaah....."


.


.


.


.


.


"Dadah para cebong, gajah senior akan mengadakan sirkus, aman tanpa gangguan!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺***


Mau rujak bonteng πŸ₯’πŸ₯’πŸ₯’ ya bang 🀣🀣🀣


like komen nya yuk ramai kan

__ADS_1


__ADS_2