
ðŧðŧðŧðŧðŧðŧðŧ
Kamar yuk.
Air mengurai pelukannya kemudian menarik Hujan masuk kedalam kamarnya.
"Eh, mau apa, Ay!" sentak Hujan.
"Beresin barang Lo! gue gak mau Lo disini sendri" titah Air yang menunggu Hujan segera membereskan Barang-barangnya.
"Tapi, Ay--_"
"Cepetan! sekalian Lo gak usah pulang-pulang lagi sampe kita nikah"
"Ay, gak gini caranya. Besok ada yang mau Dateng buat acara kita. Bunda juga paling lama lusa tapi bakal di usahain besok malam pulang kok" jelas Hujan.
"Gue gak terima penolakan!"
Pemuda itu sudah melipat tangannya di dada dengan sorot tajam kearah Hujan yang masih enggan menuruti perintahnya.
"Cepet!"
Gadis itu bukannya membereskan barangnya, ia malah kembali mendekat kearah Air.
"Aku gak apa-apa, percaya deh!" ucap Hujan sambil mengalungkan tangannya dileher Air.
Ide jahilnya muncul saat tubuh keduanya kian merapat karna ia sudah menarik pinggang calon istrinya.
"Mau nurut atau gue lempar Lo ke ranjang?"
Ancaman Air yang tak main-main tentu membuat gadis itu mendorong tubuh Air, ia menelan Salivanya lalu bergegas membuka lemari pakaian.
Hujan mengambil beberapa baju dan perlengkapan kuliahnya.
"Ya udah, Ayo!" ajaknya kemudian yang berjalan melewati Air di ambang pintu.
"Cie... tadi aja gak mau, sekarang ngajak cepetan, mau kemana gitu, Neng?" Goda Air sambil terkekeh.
Hujan yang mendengar celoteh ejekan pemuda itupun sontak membalikan tubuhnya.
"Ngomong apa Lo barusan!"
"Enggak, Lo gak sekalian noh ajak cicak cicak di dinding diam diam merayap datang suara Petir Dddduuaaaaaarrrrrrrr"
"Langsung di tangkap!"
Air tertawa saat calon istrinya masuk kembali kedalam pelukannya karna terkejut dengan akhir lagu konyolnya.
"Dasar Lo! tukang kardus" sungut Hujan kesal.
"Biarin, yang penting di peluk dua kali" cibirnya kearah gadis itu.
Hujan yang geram hanya mengumpat dalam hati sambil berjalan di belakang Air menuju mobil yang sudah di buka kan pintunya.
"Cepetan, dah mah ujan tuh"
.
__ADS_1
.
.
Air membawa mobil dengan kecepatan sedang karna derasnya Hujan juga petir yang saling bersahutan, Ia sesekali menepikan mobilnya hanya untuk menenangkan Hujan yang benar-benar ketakutan mendengar suara yang begitu menggelegar di Langit.
"Jangan takut ya, Kita gak sampe sampe kalo pelukan terus, Jan" ucap Air sambil mengelus punggung Hujan.
Lama tak terdengar isakan lagi, akhirnya Air mengutarai pelukannya. Ia menghapus jejak kebasahan di wajah pucat calon istrinya itu.
"Diem ya, Kita lanjut jalan lagi, Ok"
Gadis itu hanya mengangguk pasrah tapi tangannya tak lepas mencengkram baju bagian pinggang Air.
Hampir lima belas menit akhirnya mobil sampai juga area parkir apartemen, Air membujuk gadisnya itu agar mau turun bersamanya.
"Aku malu" rengek Hujan.
"Gak apa-apa, cepetan! gue laper"
Air menarik tangan Hujan agar ia mau keluar dari dalam mobil. keduanya kini berjalan bergandengan menuju apartemen Reza dan Melisa.
.
.
.
"Maaaaahhh"
"Mamah... kakak!" Panggilnya lagi di ruang tamu.
"Lo tunggu sini, gue panggil mama dulu"
Hujan duduk di salah satu sofa, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, ruang tengah yang tak terlalu besar yang langsung berhadapan dengan dapur dan ruang makan ini terasa begitu hangat ia rasakan.
"Hujan" sapa Melisa yang di gandeng putra sulungnya.
"Tante," jawabnya sambil menyalami wanita yang masih terlihat segar di usianya yang tak lagi muda.
"Panggil mama aja, Yayang juga panggilnya Mama" titah Melisa pada calon menantunya itu
"Hem, iya, Mah"
Kini ketiga duduk di ruang tengah, Melisa memulai obrolan pada gadis yang sedari tadi tangannya sibuk di mainkan oleh si sulung.
Liat kakak, berasa liat kamu dulu, Mas!!
"Oh, jadi Bunda kamu gak ada?" tanya Melisa saat tahu alasan Hujan datang.
"Iya, mah. nginep sini gak apa-apa ya" pinta Air.
"Iya gak apa-apa, nanti bisa tidur sama Adek" ucap Melisa .
"Gak usah, biar Hujan tidur di kamar aku, nanti aku tidir sama Bumi" Selak Air.
"Iya, terserah kamu, kalian mandi habis itu makan ya. Biar mama siapin dulu"
__ADS_1
keduanya mengangguk dan mengiyakan dengan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Usai membersihkan diri, Air dan Hujan makan malam begitu lahapnya, suasana yang begitu sepi membuat gadis itu merasa canggung.
"Pada kemana, Mah. kok sepi?" tanya Hujan sambil membantu Calo mertuanya itu membereskan meja makan.
"Adek lagi pergi sama Abang, kalau Bumi katanya ada urusan sebentar sedangkan papa ada diruang kerjanya gak bisa di ganggu kalo belum keluar sendiri"
"Oh, gitu ya" sahut Hujan sambil mengusap tengkuknya.
"Kalian istirahat ya, udah malem"
Melisa mencium Kedua pipi anak kesayangannya itu, hal yang sama juga ia lakukan pada Hujan, bagaimanapun Melisa harus siap menerima sosok gadis itu dalam hidupnya.
"Yuk, kamar gue" ajak Air yang lagi-lagi menarik tangan Hujan yang memang sudah di genggamnya Sedari usai makan malam.
Mereka menaiki tangga menuju pintu berwarna putih yang berada di paling ujung lantai atas.
"Langsung tidur ya" ucapnya saat membuka pintu.
"Hem, iya" Jawab Hujan yang baru masuk satu langkah kedalam kamar calon suaminya itu.
"Bye.. belom halal jadi dadah aja ya" kekehnya pada Hujan yang langsung merah merona di kedua pipinya.
Gadis itu langsung menutup pintunya karna malu.
.
.
Tok..tok..tok..
"Apalagi?" tanya Hujan yang kembali membuka pintu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pisang gue ketinggalan!!
ðððððððððððð
__ADS_1
Tar mah Meluknya udah bukan ððð ya kak...
Like komenya yuk ramaikan atau mau nyanyi bareng cicak cicak lagi ðĪŠðĪŠðĪŠðĪŠ