Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 219


__ADS_3

🌻🌻🌻


Jam istirahat di gunakan si kembar untuk menghabiskan cemilannya, berbagai menu makanan terhampar di atas meja bulat di taman samping sekolah, ada empat kotak nasi dan beberapa kotak cemilan yang siap Air, Bumi, Cahaya, dan Langit nikmati bersama.. gelak tawa Air yang tak henti menggoda Si bungsu menjadi pusat perhatian beberapa siswa yang lain di dekat mereka, ada yang ikut tersenyum simpul bahkan ada yang memilih pergi saat si sulung berteriak.


"Jangan nangis!" ancam Bumi saat Ay sudah memanyunkan bibirnya karna Langit sibuk membela Cahaya.


"Sini tuker duduknya" Ay segera bangkit, kemudian memaksa duduk di tengah Cahaya dan Langit membuat keduanya terpaksa menggeser kan bokong mereka


"Apa sih nyelip nyelip!" gerutu si cantik yang tak suka dipisahkan dari Abangnya.


"Gak boleh deket-deket" jawabnya santai dengan tangan melipat di dada.


"Kan emang lagi sama-sama, Kak" sahut Langit.


"Tetep gak boleh" jawabnya keukeh.


Namun bukan Langit namanya jika tak punya akal banyak, demi menyenangkan lagi hati si bungsu yang mulai merengut, akhirnya Ia harus menggenggam tangan gadis cantik itu di belakang punggung Air, Bumi yang tahu hanya membuang pandangannya seakan tak melihat apapun.


"Udah bel, masuk yuk" ajak Ay yang tiba-tiba berdiri namun tanpa sengaja ia menyentuh kedua tangan yang masih saling bertautan.


"Eh apa ini?" tanya Ay.


"Apa?"


"Abang pegang pegang adek ya?"


"Abang lagi ngasih permen buat Adek, iya kan dek?" ujar Langit dengan mengedipkan satu matanya.


"Kok kakak gak di bagi?" sungut nya kesal.


"Hehe, cuma punya satu, kak" jawab Langit sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Loh.. Buuuuuuuuuu" teriak Ay yang sadar jika adiknya sudah lebih dulu berlalu masuk kembali kedalam kelas.


Langit dan Cahaya akhirnya tertawa bersama sebelum akhirnya ikut menyusul Ay dan Bu masuk kedalam kelas.


****


Reza yang baru keluar dari ruang rapat berhenti sejenak di depan meja Viana, membuat sekertaris cantik itu melongo karna kaget.


"Bapak!" pekiknya yang langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Yakin mau keluar?" tanya Reza lagi.


"Iya, Pak" jawab Viana lirih.


Reza menarik nafas, jujur dalam hatinya ia tak pernah rela melepas Viana yang sudah hampir sepuluh tahun bersamanya, Otak pintar Viana dan sikap profesionalnya selalu membuat semua pekerjaannya selesai tepat waktu, Viana selalu bisa di andalkan saat Reza harus mendadak kerumah sakit saat Si bungsu tiba-tiba sesak nafas atau pingsan.


"Besok ada yang mau ngelamar jadi gantinya kamu, kamu handle dengan baik ya, inget loh saya mau yang kaya kamu!" ucap Reza.


"Bapak udah dapet sekertaris baru?" tanya Viana heran.


"Sepupu istri si Ardi tuh katanya lagi butuh kerja, makanya kamu urus ya, kalo emang gak bisa jangan di paksa nanti cariin tempat di bagian lain aja sesuai kemampuan dia"


"Perempuan kan, Pak?"


"Iyalah, masa batangan semua!" jawab Reza sambil berlalu meninggalkan Viana yang melongo mendengar ucapan bosnya itu.


"Huh, apa bedanya kalo dapet batangan, gue cakep begini aja gak pernah di lirik" kekeh Viana sebelum melanjutkan pekerjaannya.


.


.


.


"Makin cantik, makin hot" ujarnya dengan senyum nakal.


"Tapi aku gak yakin udah bahagiain kamu, Ra.. maaf ya"


Reza meraih ponsel di saku jasnya, memencet tombol angka satu yang otomatis langsung tersambung ke nomer sang istri.


"Hallo, sayang" sapa Reza saat KHUMAIRAHnya sudah mengangkat panggilannya.


"Iya, By, ada apa?" tanya Melisa.


"Kangen, kangen banget" jawabnya.


"Kamu lagi apa, anak anak udah pulang belum?" Reza melirik sesaat jam di pergelangan tangannya.


"Lagi di jemput mang Udin, by"


"Mas Reza udah makan siang?"

__ADS_1


"Udah tadi sebelum rapat, Ra"


"Kamu lagi apa?"


"Lagi bikin makanan buat anak-anak nanti pulang" sahutnya yang berhenti sejenak dari aktivitas memasaknya.


"Jadi pengen cepet pulang" lirih Reza, ia memang selalu merindukan kebersamaan saat dirumah, maka dari itu ia selalu mengusahakan pulang tepat waktu.


"Iya, tinggal beberapa jam lagi, By"


"Kamu tau gak, Ra?"


"Enggak, haha" jawab Melisa tergelak, ia sudah menyiapkan hatinya yang sebentar lagi pasti di serang oleh rayuan suaminya jika sudah bertanya seperti itu.


"Kenapa?, pipinya pasti udah merah nih" goda Reza yang ikut tertawa.


"Ih, cepetan ah"


"Loh, jadi gak sabaran banget sih" godanya lagi.


"Tunggu aku hitung dulu ya, satu.. tiga.. empat.. lima... enam"


"Kok gada duanya sih mas?" tanya Melisa bingung.


"Iya, sama kaya kamu, gak ada duanya, Ra"


.


.


.


.


.


💦💦💦💦💦💦💦


Hayo siapa yang kangen sama gombalan babang Reza ,???


Kamu juga gda duanya bang 🤭😀😂

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan ❤️



__ADS_2