
🌻🌻🌻
"Gagal jantung bawaan"
Itulah yang dikatakan dokter Rissa saat Reza dan ia duduk berseberangan di ruangannya yang hanya tersekat meja kaca yang terdapat tumpukan map dan laptop diatasnya.
"Yakin Lo?" tanya Reza tak percaya.
"Ini hasilnya, Lo bisa baca"
Dengan tangan gemetar Reza meraih dua lembar hasil pemeriksaan MRI anak bungsunya itu, di bacanya dengan seksama tanpa ada satu huruf pun yang terlewat.
"Gue gak bisa izinin baby nya pulang hari ini, masih rentan buat dia keluar sekarang. Kurang lebih empat hari lagi dia di rawat secara insentif sampe bener bener stabil".
"Istri gue pasti gak mau, Ca!" sentak Reza.
"Harus mau, Lo harus kasih pengertian, Tekanan darahnya juga belum stabil meskipun tiga hari ini normal"
"Kenapa bisa kaya gini?, Lo kan tau bokap gue mana ada riwayat jantung?" tanya Reza heran.
"Kemungkinan besar dari pihak Melisa"
Reza mendengus kesal, hatinya remuk dan dunia mendadak menjadi gelap gulita saat mendapati kenyataan Putri bungsunya harus merasakan sakit di usianya yang baru tiga hari.
"Bisa sembuh kan?" tatapan mengiba jelas dari sorot matanya.
"Semoga, berdoa lah agar ada keajaiban"
"Ca, please lakuin sesuatu"
"Pasti, Lo juga tau kami disini selalu maksimal" ujar Rissa meyakinkan.
"Kalo gue kasih tau Melisa, apa dia bakal baik baik aja?" Reza yang mulai ragu bingung harus jujur atau justru menyembunyikan keadaan Cahaya yang sebenarnya.
*****
Keluar dari ruangan Rissa, Reza berjalan dengan langkah gontai. Berharap ini akan memperlambat waktunya untuk bisa sampai di kamar tempat dimana istri dan anak anaknya menunggu untuk pulang.
CEKLEK..
Ia membuka pintu dengan sangat pelan, terlihat Melisa sedang memangku baby Ay dan mama menimang baby Bu.
Ia langsung menangkap satu senyum manis dari sudut bibir istrinya yang sudah bisa di pastikan setelah itu ia akan melontarkan banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Bisa pulang sekarang?" tanya Melisa saat Suaminya sudah duduk disisi ranjang bersamanya.
Reza hanya mengangguk sambil mengusap usap pipi Baby Ay yang sedang merengek.
Dadanya kian sesak saat kini pertanyaan lain di ajukan.
"Nanti pulang langsung ambil Chaca atau kita ambil sekarang Juga?" tanyanya lagi dengan antusias.
"Kita pulang berempat dulu ya, si bungsu nanti nyusul kira-kira empat hari mendatang" jawabnya setelah menarik nafas berat.
" Kenapa?" Melisa yang bingung menatap tajam dengan sorot mata penuh selidik.
"Si bungsu masih belum bener bener stabil, gak apa-apa ya"
"Gak, aku mau kita pulang berlima, aku mau Chaca ikut juga gak mungkin aku tinggalin dia sendiri disini" ucap Melisa dengan derai air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya yang masih terlihat gembil.
"Disini banyak yang jaga, banyak yang perhatian Juga, Ra"
"Kenapa?, pasti ada sesuatu kan?, gak mungkin kalau cuma Sesek nafas sampe gak boleh pulang"
Mama yang sedari tadi diam memperhatikan kini mendekat, setelah ia menidurkan baby Bu di box kemudian ia meraih Baby Ay yang sudah menangis dalam dekapan menantunya.
"Ada apa, Za?" Mama yang tak kuasa ingin tahu akhirnya bertanya juga.
Dua wanita di hadapannya itu hanya melongo tak percaya beberapa detik, namun setelah itu Melisa mulai histeris.
"Mas Reza bohong, anakku gak apa-apa" jeritnya dalam pelukan sang suami setelah tubuhnya berhasil Reza rengkuh.
"Sabar Sayang, ku mohon tenang"
Reza dengan sekuat tenaga mencoba menenangkan istrinya yang meronta dalam dekapannya.
"Ayo, cepet bilang kalo mas Reza bercanda, ini semua gak bener, anakku baik baik aja" mohon nya kembali dengan menangkup kan kedua tangannya di depan dada.
"Kita berdoa ya, sayang." jawabnya lirih
Lebih dari dua jam lamanya Melisa merajuk dan menangis hingga akhirnya ia justru terlelap dalam pelukan suaminya sendiri. Reza tak berani menganggu, ia membiarkan istrinya terbuai mimpi karna lelah dalam rengkuhannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" gumam mama pelan namun masih bisa didengar oleh reza, walau wanita paruh baya itu sedang duduk disofa depan TV.
"Mah--"
Reza tak bisa meneruskan kata kata nya karna iapun bingung harus berkata apa, jujur dalam lubuk hatinya iapun masih tak percaya, ia ingin marah dan berontak namun pada siapa?.
__ADS_1
"Bisa sembuh kan?" kini pertanyaan mama membuyarkan lamunannya.
"Bisa, mah. semoga!" hanya itu yang bisa ia jawab walau tak yakin.
"Mas.."
Melisa mulai menggeliat, ia mendongak kan kepalanya agar bisa melihat wajah yang kini terlihat gusar dan sedih.
"Kita pulang sekarang?" ajak Reza dengan senyum getirnya
Melisa menggeleng, satu tetes air mata tumpah lagi dari matanya yang masih terlihat merah.
"Aku mau disini, aku mau nunggu anakku. kita pulang sama sama, Mas" pintanya lirih.
"Ra, kasihan Ay Sama Bu, mereka butuh tempat yang lebih nyaman, kita duluan ya"
Melisa kembali menangis, hati ibu manapun akan terluka dan berat jika harus meninggalkan bayinya yang baru saja ia lahirkan di rumah sakit sendirian terlebih ia tak pernah menggendong nya sedetikpun.
"Kita bisa pamit dulu sebelum pulang" bisiknya di telinga Melisa yang masih terisak.
Setelah lima menit akhirnya ia mengangguk, sungguh ini pilihan yang sangat sulit baginya.
Setelah semuanya siap kini Melisa yang sudah duduk di kursi roda di dorong suaminya menuju ruangan dimana ada anak bungsunya berada dalam sebuah inkubator.
Mama yang menggendong baby Ay pun tak kuasa menahan air matanya hanya bisa di tenangkan oleh eyang yang menggendong baby Bu.
"kuat ya ,Ra.. doakan anak kita bisa sekuat kamu, Ok!" bisik Reza saat sudah berada di depan kaca besar yang memperlihatkan gadis bungsunya sedang menggeliat.
Si mungil dengan perawakan jauh lebih kecil itu seperti merasakan kehadiran orangtua juga saudara-saudaranya yang kini sedang menatapnya sedih penuh air mata.
"Sudah, ayo pulang"
Ajak Reza meski di dasar hatinya pun ia tak ingin beranjak dari tempat ini.
***Mama pulang ya sayang, mama akan jemput kamu lagi nanti, kamu sehat sehat ya cantik..
mama dan papa juga kedua kakakmu sangat mencintaimu....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁***
Si bungsu gak ikut pulang 😭😭😭😭
Like komennya yuk ramaikan ❤️❤️
__ADS_1