Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 2


__ADS_3

🌻🌻🌻


"Bang, di panggil papa ke ruangan nya" ucapan Bumi langsung membuat yang lain menoleh kearah Langit yang duduk di atas karpet dengan tangan masih memegang stick PlayStation nya.


"Ada apa?" tanya Melisa bingung, sangat jarang suaminya itu menanggil anak-anak mereka ke ruanga kerjanya jika tidak ada hal yang sangat serius.


"Gak tau, papa cuma bilang gitu ke kakak" sahut Bumi yang hanya mendapat perintah tanpa tau alasannya.


"Ya udah, Abang ke atas dulu" pamit Langit sambil bangun dari duduknya.


"Bang..."


Cahaya langsung menarik tangan Langit, seakan memohon untuk tetap tinggal.


"Abang gak buat kesalahan, jadi kalian gak perlu takut" ucapnya seakan menjawab rasa khawatir yang kini sedang di rasakan Melisa dan adik-adiknya.


Setelah bangkit, langkahnya kini langsung menuju lantai atas ke sebuah ruangan paling pojok ujung Apartemen milik kedua orang angkatnya, seperti biasa Langit akan menghabis kan hari Sabtu Minggunya disana masih sama seperti lima belas tahun yang lalu.


Tok tok tok.


Ia mengetuk pintu berwarna putih itu dengan ketukan sedang, takut mengangetkan atau malah justru menggangu Reza yang berada di dalam, selepas makan malam ia tak kunjung lagi keluar menemui istri dan anak-anaknya.


"Masuk Bang" sahut pria tiga anak itu.


CEKLEK


Langit menarik nafasnya lebih dulu, masih sungkan baginya jika harus hanya berdua dengan Reza meski ayah angkatnya itu tak pernah membedakan ia dengan adik-adik nya, terbukti sampai detik ini pun Langit, Air Bumi dan Cahaya masih satu sekolah yang sama.


menggunakan fasilitas yang sama hanya uang saku yang berbeda, Langit mendapat lebih banyak dari si kembar karna penuh nya kegiatan di luar sekolah.

__ADS_1


"Ada apa, Om?" tanya Langit lebih dulu, tubuh tingginya itu sudah tepat berdiri dibalik meja kerja Reza.


"Duduk, ada yang mau Om omongin sama Abang" Pintanya mempersilahkan Langit untuk duduk, sekarang hanya meja kaca yang memisahkan mereka.


"Pilih salah satunya"


Reza tiba-tiba menyodorkan beberapa lembar brosur, Langit yang melihatnya langsung mengernyitkan dahinya.


"Apa ini, Om?" dengan ragu tangan kanan Langit meraih salah satu tumpukan kertas yang berserak di atas meja.


"Sebentar lagi kamu Lulus, pilihlah salah satu universitas yang kamu mau, terserah" ucap Reza dengan tegas.


"Tapi, Om--_"


"Pilih salah saja sesukamu, Om akan turuti semua"


Langit meletakkan kembali kertas brosur yang ia pegang tadi, menundukkan wajahnya dalam-dalam ia diam bingung mau mengatakan apa.


"Belum, om belum bilang sama Buna kamu soal ini sih, nantilah menjelang tidur akan om bicarakan" ucap Reza.


"Kalau Buna izinin, Abang akan pilih salah satu nya"


Reza tertawa kecil, dan sepertinya ia akan kalah lagi kali ini.


"Kalau Buna izinin, kamu janji akan pilih salah satunya?"


Langit mengangguk kan kepalaya dengan mantap.


Matanya melirik lagi kertas brosur di atas meja kerja Reza.

__ADS_1


apa Abang bisa kuat kalau jauh dari adek juga Buna? Abang mau jadi orang sukses biar Buna Sama Om seneng tapi bukan berarti Abang harus melangkah jauh ke luar negeri.


Abang gak bisa tinggalin cahaya.


Abang gak sanggup gada kalian.


Apa artinya Langit tanpa Cahaya.


.


.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


jangan Ngadi ngadi lu bang..


dah mulai deh resenya!!!


Like komen nya yuk ramai kan.


.


.


jangan bengong ya ganteng, biar ntar othor cincang tuh si gajah tua..

__ADS_1



__ADS_2