Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 94


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Hujan langsung berjongkok di sisi makam yang bertuliskan nama Rafka dan Adella , Gadis itu memberi salam dengan senyum getir menahan tangis.


"Ayah, ibu... Hujan datang lagi" ucapnya lirih sambil mengusap batu nisan berwarna hitam.


"Hujan jenguk kalian lagi, padahal baru kesini Minggu lalu sama bunda"


Air yang ikut berjongkok disisi Hujan memandang bingung gadis itu, ia masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi.


"Ay, ini orang tua gue, Lo bisa jelasin sama mereka"


Air mengernyitkan dahinya, lalu tertawa sumbang tapi setelahnya mengucapkan salam.


"Gue ngomong apa?" tanya Ay pada Hujan.


"Terserah Lo"


"Cih, rese banget sih!" desisnya kesal.


Air diam beberapa saat, ia tak tahu harus berkata apa di depan dua makam yang berdampingan yang di sebut Hujan adalah orang tuanya.


"Lo cerita aja dulu deh, tar gue baru ngomong sama mereka" pinta Air, otaknya sedang tak bisa berpikir saat ini.


"Yang ini ayah" tunjuknya pada makam yang tepat di dihadapan mereka.


"Yang sebelah sana itu ibu"


Air mengangguk paham, matanya mengikuti kemana jari telunjuk Hujan mengarah.


"Mereka meninggal di hari yang sama Karna sebuah kecelakaan saat gue berumur lima bulan"

__ADS_1


Hujan menarik nafasnya sesaat sebelum melanjutkan ceritanya, Air tetap fokus mendengarkan tanpa mau mencela cerita Hujan tentang keluarganya.


"Dan yang kemarin itu adalah adik dari Ayah, aku gak punya siapa-siapa lagi selain Bunda karna keluarga ibu yang juga jauh. Kami bukan orang asli kota sini tapi kami berasal dari lain pulau, dan setelah saat ayah dan ibu menikah mereka pindah kemari bersama bunda"


"Jadi Lo itu sebenarnya keponakan bunda?" tanya Air yang kini sedikit mengerti.


" Iya, Bunda Anna satu-satunya yang gue punya, Ay"


Keduanya terdiam lagi, Tangan Hujan sibuk membersihkan daun-daun kering di atas pusara kedua orangtuanya.


"Gue gak pernah tau sosok ayah dan ibu, gue gak punya sedikit pun kenangan bersama mereka" gumamnya samar-samar namun masih bisa Air mengerti.


"Seumur hidup gue, gue cuma tau Bunda. Gada sosok laki-laki dewasa deket gue, Ay"


Hujan menundukkan wajah untuk menutupi tangisnya sendiri.


"Bunda Lo gak punya suami atau anak?" Dengan ragu Air mencoba bertanya lagi, dan gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Bunda jadiin gue sosok perempuan yang harus jaga jarak dengan pria, Khususnya pria dewasa"


"Lah, tapi kan gue seumuran sama Lo" elak Air.


"Masih beruntung traumanya tak separah dulu, udah beberapa tahun ini lebih bisa membuka diri semenjak Bunda jadi dokter karna dulu hanya seorang perawat"


"Makanya gue ngerti banget kalo dia sampe sebegitunya kemarin sama gue, Ay. Dia cuma takut gue yang di urusnya sedari bay inii harus punya nasib buruk kaya dia"


Air mulai paham, ternyata dua wanita itu memiliki luka yang begitu dalam, Hujan yang seorang anak yatim piatu di besarkan oleh korban pelecehan yang akhirnya membekas menjadi sebuah trauma tersendiri.


"Orang yang udah nodai Bunda gak ketemu sampai sekarang, makanya kemarin seakan takut kalau kamu lari"


"Kenapa gak di cari?, enak banget habis manis sepah di buang!" umpat Air yang ibu ikut kesal.

__ADS_1


"Karna Kami langsung pindah kesini, Bunda mau lupain masalalu kelamnya disana" jelas Hujan.


"Tapi tetep ya, Gue gak mau nikah sama Lo" ujar Air yang tetap pada pendiriannya.


"Emang Lo pikir gue mau?" dengus Hujan pada Air.


.


.


.


.


.


.


.


Ya kali Lo mau ikut Jajaran para pencinta AIR...


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Aer apa Kak?


Aer kobokan ya 🤣


Kelarin masalah kakak Ay dulu ya 🙏🙏🙏🙏


jangan dulu menghujat, ketika mungkin tak sesuai dengan pemikiran Kalian 🤭🤭🤭

__ADS_1


LIKE KOMEN NYA YUK RAMAI KAN.


__ADS_2