Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 88


__ADS_3

🌻🌻🌻


"Iya, Hallo"


DEG..


Melisa langsung menjatuhkan ponsel saat bukan suara suaminya yang terdengar.


"Ada apa, Mel?"tanya mama.


"Gak, Mah. Hapenya masih mati, Mel masuk kamar dulu ya" ucapnya panik dan terbata-bata.


Mama langsung mengangkat bahu saat ada pertanyaan lewat sorot mata papa.


"Ada apa dengannya?" gumam mama bingung sambil terus menatap punggung menantunya yang tergesa menaiki tangga menuju lantai dua.


BRAKK


Ia banting pintu dengan keras, menyandarkan tubuh di daun pintu sambil meremat baju bagian dadanya.


Siapa? siapa yang memegang ponselmu malam malam begini . bathin Melisa.


Rasanya sesak membayangkan yang tak seharusnya terjadi pada suaminya yang kini entah dimana dan bersama siapa.


Kembali ia melihat ponselnya, membuka roomchat untuk mengecek semua pesannya.


"Terbaca, dan mas Reza tak membalasnya" gumamnya dengan mata mulai berkaca-kaca.


Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ranjang tempat tidur merangkak naik dan duduk bersandar dibalik selimut yang hanya menutupinya sebatas pinggang.


Matanya terus memperhatikan jam dinding yang tepat berada didepannya, bergeser kearah kanan tanpa henti justru semakin menunjukkan semalam apa saat ini.


"Sudah lewat tengah malam" gumamnya lirih.


sambil terus mengusap air mata yang terus jatuh dari kedua matanya yang tak bisa terpejam.


CEKLEK.


Melisa menoleh, senyum mengembang di sudut bibirnya saat ia melihat bocah kecil di ambang pintu dengan piyama kuning bergambar Spongebob.


"Ko bangun?" ujar Melisa melambaikan tangannya agar Langit masuk dan mendekat.


"Bobo sama Buna, boleh?" kata langit dengan mata yang sedikit terkatup.

__ADS_1


"Boleh dong, sini naik"


Melisa menyibakkan selimutnya agar Langit bisa ikut masuk dan berbaring di sisinya, di peluknya bocah kecil itu sambil mengusap pucuk kepalanya hingga kembali terlelap.


****


Dalam keadaan setengah sadar Melisa terus memperhatikan sosok yang ia tunggu semalaman sedang tersenyum kearahnya.


Rambut yang masih basah dengan dada polos tanpa apapun, hanya memakai handuk sebatas pinggang yang ia kenakan guna menutupi pentung ajaibnya.


"Pagi sayang" ucapnya dengan senyum manis sambil mencium kening Melisa.


"Hey, kamu udah bangun belum sih?" tanyanya sembari mengusap usap pipi.


Melisa mengerjap seperti baru mendapatkan kesadaran penuh, ia langsung bangun dan duduk.


"Mas Reza, kapan pulang?"


"Semalem, jam satu aku sampe rumah, maaf ya" diraihnya tubuh sang istri masuk kedalam dekapannya.


"Kenapa gak kabarin aku?" Melisa mendorong suaminya, ingin rasanya ia melupakan rasa kecewanya saat ini juga jika tak mengingat langit masih terlelap disisinya.


"Cuci muka dulu sana, aku mau pake baju dulu" ujarnya Langsung bangun dan berlalu kearah lemari.


"Katakan!" ucap Melisa menunggu penjelasan.


"Jika masalah kantor, mungkin papa sudah menceritakannya padamu." kata Reza mengawali ceritanya.


"Dari apartemen aku langsung kekantor, ada rapat dadakan yang harus aku hadiri karna papa sudah menolak hadir lebih dulu dan memintaku yang datang"


Melisa masih bergeming, tetap mendengarkan apapun yang ingin di katakan ini suaminya.


"Jam sembilan aku baru sarapan, Viana yang bawa"


"Kamu sama Viana?" tanya Melisa sambil mengernyitkan dahinya.


"Viana cuma ikut rapat di kantor sambil bawain aku sarapan" jawaban.


Bukan.. aku yakin itu suara Viana, yang semalam bukan Viana yang angkat telepon ku.


"Jam sebelas aku mulai pantau lokasi, adanya di pinggiran kota, Ra. susah signal dan gak lama hape ku lowbet"


Reza meraih tangan istrinya, digenggamnya erat sambil ia ciumi berkali-kali.

__ADS_1


"Ada apa? ada yang mengganjal dihatimu?" tanya Reza.


"Kamu pulang kapan kemarin?" Melisa justru balik bertanya.


"Aku pulang lebih dari jam 5, cuaca mendung juga sedikit gerimis. Aku dengar papa juga Menelepon paman Robby"


Melisa mengangguk, ia membenarkan ucapan suamianya.


"Kalau mas Reza pulang hampir malam, lalu kenapa sampai rumah justru lewat tengah malam? kemana kamu mas selama berjam jam diluar tanpaku dan tanpa memberikan kabar padaku"


"Sayang," Reza yang bingung dengan ocehan istrinya hanya menatapnya heran.


"Kamu membuatku menunggu lagi, berkali kali aku kirim pesan tak ada satupun kamu balas walau kamu membacanya!" Melisa terus saja mengoceh, dadanya mendadak Sesak saat ia mengingat suara perempuan yang semalam.


"Ra, hey! tenang dulu" Reza mencoba menenangkan KHUMAIRAHnya.


"Tenang?, kamu fikir aku akan tenang saat suamiku diluar sana bersama wanita lain?" kini Melisa meninggi kan nada bicaranya.


"Bunaaaaa"


Teriakan Melisa berhasil membuat bocah laki-laki yang sedang terlelap itu bangun dari tidurnya, menatap bingung dua orang dewasa yang sedang saling pandang dengan tatapan yang tak biasa.


Reza dan Melisa menoleh bersamaan.


Reza mencegah tangannya saat Melisa mencoba bangun untuk menghampiri Langit.


"Lepas, Mas!"


"Aku gak ngerti sama yang kamu omongin,Ra"


"Sadari dulu kesalahanmu, barulah bicara lagi padaku"


Melisa menepis tangan suaminya dengan kasar, beranjak ke tempat tidur menemui Langit kemudian membawanya ke kamar mandi.


Reza yang masih bingung akhirnya meraih ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya dekat jendela besar.


Mengecek seluruh isi Roomchat yang di bicarakan sang istri.


Pesan apa yang dimaksud kamu, Ra?


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Ko berantem sih bang?😂😂😂

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan ♥️♥️


__ADS_2