
🌻🌻🌻
"Mamaaaaaaa"
Melisa yang sudah siap di depan pintu sudah merentangkan tangannya lebar-lebar untuk merengkuh semua anak kesayangannya.
"Gimana sekolahnya?" tanya Melisa setelah menciumi seluruh wajah wajah imut bibit unggul Suaminya yang tak di ragukan lagi kualitasnya.
"Seneng dong, tadi kakak nulis di depan loh, mah" cerita Ay.
"Anak pinter, kakak sama adek gimana?"
"Semua maju kedepan secara bergiliran, mah" sahut Bumi.
"Kalian ganti baju dulu sana, kita makan siang sama-sama ya" titah Melisa.
"Siap, komandan!" kekeh Ay yang langsung berlari ke arah tangga.
Melisa menatap ketiga punggung kecil ketiga anaknya yang mulai menjauh darinya, terlihat genangan air bening di sudut matanya saat memory otaknya sedang memutar waktu yang seakan cepat berlalu, masih jelas di ingatan saat sang ibu yang entah kini berada dimana memaksanya untuk menikah dengan pria yang tak pernah ia kenal sama sekali, dengan derai air mata ia memaksa untuk iklhas saat baju kebaya membalut tubuh rampingnya, Belum lagi ketika seruan kata
SAH menggema ke seisi rumahnya, dunia bagai gelap tak terlihat lagi, namun Tuhan ternyata sangat menyayanginya, justru ia di pertemukan dengan sosok pria berhati hangat yang mampu memberikan kasih sayang yang luar biasa berlimpah.
Siapa sangka gadis biasa yang hanya lulusan Sekolah Menengah Atas yang bekerja di sebuah panti asuhan mengurus anak-anak kurang beruntung yang haus kasih sayang sama seperti nya bisa menjadi istri dari seorang pengusaha muda, tampan dan jelas setia.
Bahtera rumah tangga selama sembilan tahun bukan tanpa kerikil, dari kehadiran sang mantan di awal pernikahan sampai si setan kecil yang mencoba mengusik ketenangannya, belum lagi sifat cemburu Reza yang kadang di luar nalar membuatnya pernah ingin menyerah. Namun kata rayu dan sentuhan lembut suaminya seakan menjadi obat dan candu tersendiri baginya.
.
.
"Kok mama ngelamun" Suara Bumi membuyarkan lamunan Melisa.
" Ah, enggak sayang, mana kakak sama adek?"
"Masih di kamar, mah rebutan handuk"
"Kok bisa?" tanya Melisa bingung.
"Gak tau kakak, godain adek terus, itu berdua lagi jerit jerit" adu Bumi yang memilih turun lebih dulu dari pada pusing menyaksikan kedua saudaranya.
"Coba mama lihat dulu, kamu tunggu di meja makan ya"
Melisa langsung bergegas naik ke lantai dua menemui kedua anaknya yang lain, baru sampai tengah tangga sudah terdengar jeritan Cahaya beserta gelak tawa Ay..
.
.
CEKLEK
"Kakak!" pekik Melisa saat melihat Ay yang berdiri di tengah kasur dengan perut buncit.
"Kakak, mah.. handuk adek di umpetin" adu Cahaya merengek.
__ADS_1
"Kasih gak, kak!" pinta mama.
"Ish, nyebelin banget" seru Ay memberikan handuk adiknya yang ia sembunyikan dari balik bajunya
" Kamu tuh iseng banget sih, kak" oceh Melisa sambil meraih handuk tersebut kemudian di berikan kepada si bungsu.
"Yuk makan dulu, Bu udah nunggu dibawah" titah Melisa sembari berlalu keluar kamar anak-anaknya.
.
.
.
"Abang kenapa sih gak tinggal disini sih?" tanya Bumi saat semuanya sudah berkumpul di meja makan.
"Emang kenapa?" Melisa balik bertanya.
"Biar makin rame aja"
"Jangan, mah!" kata Ay dengan mulut penuh makanan.
"Nanti tanya aja ya sama papa" sahut Melisa, bukan tak ingin tapi semua keputusan ada di tangan suaminya, Selama ini iapun hanya memendam keinginan itu.
"Apa nih?, ada rapat apa kok papa gak di ajakin?" tiba-tiba Reza datang dengan kemeja yang di gulung bagian tangan
"Papaaaaaaa" seru ketiganya antusias saat melihat Reza datang.
"Kangen kalian, kangen kamu banyak banyak" jawabnya setelan mencium anak istrinya bergantian.
"Makan dulu, mas"
"Enggak, Ra.. aku mau buah aja"
Melisa langsung meraih pisau dan membuka beberapa buah yang memang tersedia di atas meja.
"Makasih, Ra" ucapnya setelah satu potong buat pir masuk kedalam mulutnya.
.
.
.
"Kalian tau gak?" ujar Ay yang langsung menjadi pusat perhatian semuanya.
"Enggak, walaupun tau juga pura pura gak tau" jawab Bumi yang langsung mendapat cibiran dari kakaknya.
"Apa?, kakak punya tebakan apa?" tanya Melisa.
"Nih, dengerin ya, Makanan apa yang bikin anak kecil bahagia sampe ketawa-tawa?" tanyanya dengan mengulum senyum.
"Rainbow cake!" jawab Cahaya.
__ADS_1
"Salah dek"
"Apa dong?" tanya Melisa dengan wajah pura-pura bingung.
"Tebak lah, mah.. kan ini maen tebak tebakan"
"Bukan ketoprak lagi kan, kak?" seru Bumi
"Pasti bubur ayam!" kekeh Reza sambil terus menyuapkan buah ke mulutnya.
"Kalian salah sekua, payah!" cebik Ay sambil tertawa.
"Lalu apa?" Melisa yang gemas mencubit pipi anak sulungnya itu.
"Jawabnya adalah--_,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" ***CILOK BAAAAA....."
💦💦💦💦💦💦💦💦***
Cubit kakak boleh gak?
Tau aja makanan favorit othor 🤭🤭
Bikin cilok yuk bang!
like komen nya yuk ramai kan ♥️♥️
__ADS_1