
π»π»π»
Lenguhan demi lenguhan keduanya suarakan diatas sofa panjang depan tv ruang tengah, sampai tak perduli dengan ponsel yang terus saja berdering sedari tadi.
"Mas angkat dulu" bisik Melisa setelah melepas pagutannya.
"Tanggung, Ra" jawabnya dengan nafas berat.
"Takutnya penting, itu gak berenti berenti" kata Melisa sambil berusaha mendorong tubuh suaminya
"Ish, siapa sih" dengus Reza kesal sambil bangun dari atas tubuh sang istri.
papa..
"Hallo, pah"
"Kamu lagi ngapain?" tanya papa.
"Menurut papa aku lagi ngapain coba malem malem begini?" Reza justru balik bertanya dengan nada kesal.
"Mana papa tahu, mana mantu papa, papa ingin bicara dengannya"
Reza langsung memberikan ponselnya pada Melisa yang sudah duduk bersandar di sampingnya.
"Papa mau ngomong"
Dengan raut wajah bingung akhirnya Melisa mengambil ponsel itu dari tangan suaminya.
Tak lupa Reza memencet tombol loudspeeker agar ia bisa mendengar apa yang di katakan papanya.
"Ada apa pah?" tanya Melisa, kini fikirannya justru melayang pada ketiga buah hatinya di rumah, apakah terjadi sesuatu?, fikirnya.
"Bagaimana dengan hukuman anak singa itu?, apa dia sudah menghadap tembok?" tanya papa langsung, Melisa hanya diam belum menjawab karna ia mencerna lebih dulu maksud yang di katakan papa mertuanya.
" Tembok!" gumam Melisa.
" Iya, apa Reza sudah menjalankan hukumannya?" papa mengulang pertanyaannya.
" Enggak, pah, mas Reza belum ngadep tembok, iya kan, Mas?" Melisa melirik kearah suaminya yang ternyata sudah tenggelam di daerah favoritnya.
"Kenapa?"
"Tanggung pah kalo tembok, aku malah justru lagi ngadep gunung nih" teriaknya sengaja membuat Melisa langsung mendorong wajah suaminya itu dari belahan dua gunung kembarnya.
" Wah, ternyata kamu lebih milih di hukum papa di kantor ya?"
"Eh, enggak! pah" Reza langsung meraih ponsel yang masih di genggam Melisa.
"Papa mau tembok yang mana?" tanya Reza yang sudah kembali memakai kaosnya.
"Papa tunggu sampai sepuluh detik jika belum menghadap tembok, bersiaplah kamu anak singa!" ancam papa, kemudian langsung mematikan teleponnya.
"Ya ampun, begini banget ya mau open house silaturahmi" dengus Reza kesal sambil bangun dari duduknya.
"Gak usah senyum-senyum gitu, rapihin lagi tuh bajunya jangan bikin aku gak fokus"
Melisa hanya mengacungkan dua jempolnya sambil mengulum senyum, untuk ketiga kalinya ia akan menyaksikan suami tercintanya di hukum oleh papa, pertama kali saat di kantor dan yang kedua kalinya di rumah sakit, saat itu Reza harus di hukum di tembok kamar mayat.
"Lima belas menit aja, gak usah lama-lama" pinta Reza sambil menyodorkan ponsel yang sudah terhubung ke video call pada papanya.
"Hallo papaaaaaaaa" suara mama begitu nyaring terdengar, namun Reza tak bisa menoleh walau ia sangat ingin.
Terdengar celoteh Baby Al dan Baby Bu yang saling bersahutan membuat Reza sangat gemas
"Papanya lagi ngapain itu?" kekeh mama di sana yang di balas teriakan melengking dari Ay, si sulung seakan ikut bertanya dengan apa yang sedang di lakukan papa nya yang hanya terlihat punggungnya saja.
"Mama kangen, kalian jangan nakal ya, adek kemana?" tanya Melisa karna ia tak melihat Cahaya disana.
"Baby Cha tidur di kamar sama Ncus, kalo kakaknya baru aja pada bangun, mungkin ingin ikut menyaksikan drama hukuman papanya" ejek mama di sela gelak tawanya.
Reza yang kesal hanya bisa mengumpat dalam hatinya, ingin rasanya ia menoleh kearah ponsel untuk melihat kedua NaGa nya.
Lima belas menit sudah hukuman Reza akhirnya berakhir berbarengan dengan terputusnya video call yang berlangsung tadi.
Masih terngiang di telinganya bagaimana tadi suara kedua jagoannya menjerit dan merengek karna jauh dalam lubuk hatinya, iapun rindu dengan ketiga kesayangan nya itu.
"Mas, anak-anak belum tidur loh" kata Melisa saat keduanya kini sudah berada di kamar.
__ADS_1
"Nanti juga tidur, kan banyak yang jagain"
"Kita egois gak sih?, mentingin begini dan harus ninggalin anak-anak"
"Gak setiap hari kan?, kita juga butuh waktu berdua, Ra. makanya ayo cepetan kita selesai in misi ini, besok pagi langsung pulang" goda Reza yang sudah meraih tubuh sang istri dalam pelukannya.
"Pagi-pagi ya, aku takut ASIP ku gak cukup di freezer"
"Iya, Ra, besok pagi kita langsung pulang itupun kalo kamu kuat jalan tapinya, haha"
"Ish, mas reza mah gitu, pokonya sekali aja" ancam Melisa sambil meronta kesal dalam pelukan suaminya.
"Aku puasanya lama, masa dikasih sekali, tega banget kamu" oceh Reza tak terima, justru ia merasa tertantang dengan ancaman istrinya.
SREEKKKKK
Gaun tipis berwarna maroon yang sangat kontras dengan kulit Melisa pun akhirnya sobek dengan sekali tarikan.
Melisa langsung terkejut saat bahan tipis itu benar-benar lepas dari tubuhnya. kini hanya tersisa kabut penghalang dua gunung kembarnya yang sangat menantang, dengan pucuk yang kini semakin menggoda karna lebih besar, Reza menyeringai dengan tatapan yang kini penuh nafsu birahi.
Meski sebulan ini ia terbiasa melihat istrinya membuka bagian atas tubuhnya namun tak pernah menimbulkan hasrat, berbeda dengan malam ini, Reza sudah benar benar ingin melahap habis gundukan daging kenyal di depan matanya itu.
"Jangan ya " Melisa memberi peringatan.
Reza mengangguk paham apa yang di katakan istrinya, ia hanya boleh bermain tanpa harus menyesapnya.
Puas bertraveling ria di puncak gunung setelah memberikan begitu banyak tanda jejak petualang kini ia beralih ke leher jenjang yang putih mulus, menyesapnya lagi dan lagi tanpa ampun, semakin Melisa mengeluarkan desahan sexynya Reza justru semakin menggila dan liar.
"Maaaass" lenguhnya dengan mata terpejam.
"Tahan, Ra!" bisiknya yang lalu mencium habis bibir merah ranum sang istri.
Pelan tapi pasti namun setelahnya semakin dalam dan menuntut, Pertukaran Saliva dan Permainan lidah yang seakan bertarung di dalam rongga mulut seakan membuktikan betapa besarnya hasrat keduanya kini.
"Sekarang ya" ujar Reza dengan suara berat.
Entah kapan Reza sudah melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya, karna mata Melisa selalu terpejam menikmati sentuhan lembut suaminya itu, seakan tak ingin melewatkan setiap kenikmatannya.
"Pelan-pelan, Mas"
"Hem, kamu tenang aja, cukup nikmatin tapi jangan tidur ya masa dua kali ngebobol tidur Mulu" kekeh Reza, kini Melisa langsung melotot ke arahnya.
Reza Langsung menyerang bibir sang istri lagi yang tadi mulai merengut, ditambah gigitan gigitan kecil yang memabukkan.
"Tahan ya, Ra"
Melisa hanya mengangguk ia mulai memegang bahu Reza untuk bersiap, lama tak melakukan nya Justru kini membuatnya takut. belum lagi luka di bagian bawah perutnya
Reza sedikit bangkit untuk memulai aksinya, ia mengarahkan miliknya langsung kedalam area sensitif istrinya yang sudah sangat ia rindukan, wangi harum dari hutan belantara yang rimbun namun rapih itu selalu menjadi candu baginya.
Pria yang sudah banjir keringat itu tak langsung menerobos, masuk secara perlahan menikmati rasa hangat yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Susah, Padahal udah basah" gumamnya terus fokus pada kedua bagian inti mereka
BLAASSSS
Keduanya melenguh nikmat, Melisa langsung menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara yang lebih keras lagi.
Karna suaminya sudah kembali sibuk bermain di Kedua pucuk gunungnya.
Reza sesekali menadahkan wajahnya keatas sambil menggigit bibirnya sendiri dengan tangan me remas kedua bongkahan daging kenyal kesukaannya.
Hentakan demi hentakan Reza lakukan dengan ritme pelan namun meski begitu tetap saja terasa sesak di bagian milik Melisa.
"Raaaa" Reza terus saja menyebut nama istrinya di tengah rasa nikmat yang seakan ingin meledak sesaat lagi.
Keduanya merancau bersama dengan mata terpejam, menikmati semua rasa yang ada.
"Raaaa.. tahan ya sayang!"
Dalam hitungan detik Reza justru mengubah ritme hentakannya menjadi lebih cepat, bulir keringat sudah sangat membanjiri tubuh polos mereka, hingga pada akhirnya pasangan suami istri ini sampai di ujung kenikmatan secara bersama melepas semua hasrat yang sedari tadi mereka gali bersama.
"Aaaarrghh.. Raaa..!!!" lenguh Reza di ceruk leher Melisa yang terkulai lemas tak berdaya setelah ia merasakan getaran hebat di seluruh tubuhnya termasuk di daerah inti yang sesaat tadi menerima semburan benih baru suaminya.
"Sakit gak sayang?" tanyanya dengan masih menenggelamkan wajahnya di perpotongan antara leher dan bahu sang istri.
Meski dengan suara parau dan nafas terengah-engah Melisa masih bisa mendengarnya dengan baik, tapi ia hanya menjawab dengan gelengan kepala tak sanggup rasanya bersuara terlebih milik suaminya masih menancap sempurna.
__ADS_1
"Capek ya?" Reza menumpu tubuh nya dengan satu tangan, karna tangan lainnya ia pakai untuk menyeka keringat di dahi dan leher istrinya.
"Hem, capek banget, Mas" jawabnya lirih karna tenggorokannya seakan kering.
"Tapi enak kan?"goda Reza.
Melisa Langsung membuang mukanya, rona merah sudah jelas seperti biasanya di wajah cantik alaminya.
"Ih, apaan sih, udah ah awas, berat nih!" Melisa mencubit dada polos Reza yang juga sama basahnya oleh keringat.
"Iya...iya.." Jawabnya sambil terkekeh.
tapi keanehan terjadi..
"Loh, Ra. Ko gak bisa lepas ya, gak bisa di cabut sih, Ra!!!" ujar Reza dengan tampang serius dengan tangan masih memegang pentungan perkasanya
"Mas, apaan sih ah, jangan bercanda"
"Beneran, gak bisa!"
DEG....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" EH TAPI BOHONG!!!!!!"
π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦
Astaghfirullah Astaghfirullah..
mari istighfar bersamaπ€π€
abis baca part Hareudang π€§π€§
Lu nyemburin apa bang, Ampe gak bisa di cabut πππ
Curiga gue Lo nyemburin lem Aibon ππ..
Like komennya yuk ramaikan β€οΈβ€οΈ
jangan lupa mampir ke lapak babang reynand ya kasih like juga komen ya disana.
__ADS_1
#MenikahiSahabatku