
🌻🌻🌻🌻
"Bisa ijab kabul di depan wali hakim Lo nanti!"
Hujan tersenyum kecil, ia ingat dengan statusnya yang memang anak yatim piatu yang tak memiliki orangtua yang sudah pasti bukan di hadapan ayahnya lah nanti calon suaminya itu akan mengikrarkan janji sehidup semati.
"Yuk, kita kerumah Oppa. Kawin!" goda Air sambil mengulurkan tangannya.
"Apa Lo suka sama gue, Ay?" tanya Hujan tiba-tiba meski ia malu mengatakan itu tapi ia butuh kepastian tentang hati pemuda yang kini mengajaknya bertemu keluarga besar Rahardian.
"Suka, gue kan normal. Gue suka semua yang bentuknya cewe" kekeh Air, kini tangannya menangkup wajah Hujan yang datar.
"Bukan, bukan itu maksudku gue!"
Air menarik nafasnya sambil menarik juga pinggang Hujan masuk kedalam dekapannya lagi.
"Yang penting gue akan memperlakukan Lo dengan sangat baik" bisik Air, entah kenapa hari ini ia selalu ingin memeluk gadis itu.
Padahal ia sangat jarang melakukan hal itu jika tidak dalam keadaan terpaksa memeluk para kekasihnya.
"Perlakuan baik saja tak cukup bila tak ada rasa apapun, Ay" ucap Hujan, kini gadis itu malah membalas pelukan Air. Ia merasakan damai dan ketenangan yang luar biasa.
pemuda yang merasa tubuhnya juga di dekap hanya tersenyum simpul, ada hal lain yang juga ia rasakan dalam hatinya.
"Emang Lo mau rasa apa, Jan Hujan!" kekeh Ay sambil mengusap punggung Hujan.
"Mau yang asin, manis apa asem?" godanya lagi.
"Aw... sakit!"
Pemuda itu menjerit antara sakit dan terkejut saat Hujan mencubit perutnya.
"kenapa sih Lo galak banget!" sentaknya kesal.
__ADS_1
"Lo tuh nyebelin" Sahut Hujan mendorong tubuh Air agar menjauh darinya.
"Nanti disana Lo Jangan banyak omong ya, diem aja pokonya kita nurut, dosa kan kalo kita ngelawan orang tua apalagi ada oppa sama omma gue!" pesan Air pada Hujan.
"Emang kita mau di apain?" Raut panik jelas terlihat di wajah cantik gadis itu.
"Mana gue tau, kan kita belom kesana"
Hujan mendesah bingung, tubuhnya mendadak lemas hingga kakinya seakan tak sanggup lagi menompang tubuhnya sendiri.
Gadis itu berjongkok menenggelamkan wajahnya di atas telapak tangan.
Ada Isak tangis kecil serta guncangan di bahunya yang membuat Air ikut berjongkok di hadapan Hujan.
"Kok nangis, kenapa?" tanya Ay.
Tak ada jawaban, Tangisnya semakin lirih di dengar.
"Udah diem Jan, gue nangis nih ya" ancam Air tak main-main karna bayangan gadis itu kini mulai kabur di matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Jan, gue salah ya?" tanya Air, ia mengusap cairan bening di ujung matanya sendiri.
Hujan mendongakkan wajahnya setelah puas menumpahkan sesak dalam dadanya.
"Lo nangis?" tanya Hujan bingung.
"Dikit, gak apa apa ya" jawabnya malu-malu.
Gadis itu tersenyum kecil kemudian berlutut di hadapan Air sambil merentangkan tangannya.
"Sini gantian gue yang peluk" ucapnya pada Air.
Pemuda itu langsung berhambur memeluk hujan, menitikan lagi air matanya di bahu gadis itu.
__ADS_1
"Gue pasrah sekarang, kalo ini takdir kita buat nikah muda gak apa-apa" Hujan mengusap kepala Air yang berada di lehernya.
"Benaran, Lo mau gue nikahin?" tanya Ay memastikan.
"Tentu, gue mau kok jadi istri--_" Hujan memotong ucapannya.
"Istri apa?" tanya Air yang langsung menarik kepalanya.
Kini mereka berlutut saling berhadapan.
.
.
.
.
.
.
Gue mau kok jadi Istri buaya cengeng!!!!!
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Ampun Si kakak.. masih suka nangis juga ternyata.
nanti kalo punya anak kayanya bakal balap nangis kak,😂😂😂😂😂
like komen nya yuk ramai kan ♥️
__ADS_1