Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 53


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Usai makan malam, seperti biasa semuanya sudah berkumpul di ruang tengah, Air menyibukkan diri dengan ponselnya, berkirim pesan dengan pacar-pacarnya yang selama liburan ini tak bertemu dengannya. Sedangkan Langit dan Bumi asik bermain PlayStation.


Cahaya yang duduk bersandar di sofa nampak kesal karna tak ada yang menemaninya bahkan mamanya sedari tadi hanya diam membisu tanpa suara dan bicara


" Papa minta waktu Kalian sebentar bisa?" suara Reza yang nampak serius membuat keempat anaknya langsung menoleh secara bersamaan.


"Ada apa?" tanya Air dan Bumi berbarengan.


"Ada hal yang mau papa bicarakan dengan kalian, terutama Abang"


Kini sorot mata si kembar beralih pada Langit, ia yang menjadi pusat perhatian menelan Salivanya kuat-kuat.


"Abang kenapa, om?" tanya Langit, ia meletakkan stik PlayStation ke atas meja, Begitupun dengan Bumi. Sedangkan Air menyimpan ponselnya di saku celana.


"Om, udah pilihkan satu universitas terbaik buatmu, lengkap dengan apartemen juga mobil yang bisa kamu gunakan untuk kuliah nanti"


Langit mengernyitkan dahinya, ia masih belum paham dengan yang di katakan Reza.


"Gak usah tinggal di apartemen, om. Abang bisa tinggal di panti asuhan kok" Ucap Langit yang merasa Reza sudah terlalu berlebih-lebihan.


"Kamu harus tinggal di apartemen, kamu sudah besar"


Langit kembali terdiam begitu pun dengan Melisa juga sikembar, Mereka merasa suasana malam ini sungguh mencekam padahal hanya membahas soal kuliah Langit.

__ADS_1


"Dan juga...."Reza menghentikan kata-katanya saat ia melirik ke arah sang istri yang sedang berusaha menahan air matanya.


"Dan juga apa, pah?" tanya Cahaya, ia yang sedari tadi diam mulai gelisah


"Dan juga....tempat kuliah Abang jauh dari panti asuhan jadi gak mungkin kalau harus bulak balik"


"Dimana, Pah?'" tanya Air, ia mulai tak enak hati saat melihat mamanya menunduk sambil menghapus air mata.


"Kota x" jawab Reza pelan namun tegas.


Semuanya terhenyak kaget, Langit, Air, Bumi dan Cahaya menatap mata papanya lekat lekat.


"Abang akan kuliah di kota x, dan lusa sudah bisa berangkat kesana" Reza mengulang nama kota yang akan menjadi tempat Anak angkatanya itu menimba ilmu selama kurang lebih empat tahun lamanya.


"Papa jangan bercanda, adek gak suka"


"Apa pernah papa bercanda soal masa depan kalian?"


"Mungkin akan sulit di awal, tapi papa yakin Kalian akan terbiasa" tambah Reza, ia mencoba meraih tangan si bungsu, namun Cahaya dengan kasar menepisnya.


"Papa jahat kalau mau nyuruh abang kuliah di luar kota" sentak si bungsu yang langsung berlari ke kamarnya di lantai dua, Langit menarik nafasnya saat melihat punggung itu kini telah menghilang dari pandangannya.


"Kenapa gak di sini, Pah?" Bumi Akhirnya ikut bersuara, ia yang juga terkejut sungguh tak bisa menerima keputusan papanya yang dirasa sangat mendadak.


" Disana jauh lebih bagus, Papa ingin Abang jauh lebih mandiri karna menjaga kalian itu gak mudah kan, bang?" Reza justru melirik dan bertanya pada Langit yang langsung mengangguk kan kepalaya.

__ADS_1


"Kakak gak mau, Pah" rengek Ay, kini ia sudah pindah duduk ke dekat Reza.


"Semua sudah di siapkan kak" ujar Reza sambil mengusap bahu si sulung.


"Gimana, bang?" Reza bertanya pada anak angkatnya yang sedari tadi menatap Melisa dengan tatapan sedih, kecewa, marah , pasrah.


.


.


.


.


.


Ya, Om! Buna pun sepertinya mengizinkan"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


dadah Abang Langit ,πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­


Mak othor siap nemenin kok nanti 😎😎


Like komen nya yuk ramai kan...

__ADS_1



__ADS_2