
π»π»π»
BBRAAAAAKKKK
"Halo..halo..halo..Mas Reza..Mas.."
Melisa terus saja meneriakan nama suaminya yang tiba tiba terputus begitu saja setelah terdengar bunyi dentuman keras di sebrang sana yang entah apa.
fokusnya teralih saat mendengar jerit tangis Bu yang tak seperti biasanya di barengi dengan Chaca yang ikut merengek namun tak lama kemudian ia pun ikut terisak juga meski tak sekencang Bu tapi entah kenapa tangisnya begitu lirih terdengar sampai Melisa dan Ncus yang sedang menggendongnya pun harus terheran heran.
"Kasih ASIP dulu mbak, kakak Ay gak mau lepas yang ada nanti nangis semua" titah Melisa.
"Baik , Bu" jawabnya cepat dan langsung berjalan menuju freezer tempat dimana ASIP tersimpan.
Ada apa ya...
perasaan aku ko' gak enak banget, anak anak juga nangis berbarengan gini sih .. ini tuh jarang terjadi kalau bukan Ay yang duluan mulai..
Mas Reza... kamu gak apa apa kan? padahal
Aku belum sempet jawab " aku juga kangen"
Kini air matanya mulai meleleh sampai jatuh membasahi pipi Ay yang masih menyecap dengan rakus wadah ASI alaminya.
"Doakan papa kalian tidak terjadi apa apa ya" lirih Melisa sambil mencium kening Ay yang kini terlelap dengan damai, di pandanginya wajah bulat berpipi merah itu dengan seksama sebelum menidurkannya di box.
"Gimana?, masih nangis semuanya?" tanya Melisa saat memasuki kamar anak anaknya yang terletak tepat disebelah kamarnya namun bisa terhubung langsung dari dalam.
"Kakak Bu udah enggak, Bu. tapi dede Cha masih rewel" jawab suster yang mengasuh Bu.
"Terus dedenya dibawa kemana?" tanya Melisa saat tak melihat Cahaya di kamar itu.
" Keluar bu, mungkin kebawah" sahutnya kemudian, masih dengan tangan memegangi dot botol berisi ASIP pada baby Bu.
Melisa hanya mengangguk paham sebelum melangkah keluar kamar, dicarinya si bungsu yang tadi terisak lirih bermaksud ingin di susui nya secara langsung.
"Mbaaaaakkk;" teriak melisa saat keluar dari lift, terlihat eyang keluar dari kamar mama membawa nampan berisi wadah yang berisikan air .
"Cari siapa, Non?" tanya eyang.
"Suster Cahaya dimana ya?, eyang liat gak?"
"Ada di kamar nyonya, dede kecil demam" jawab eyang yang sontak membuat melisa terkejut dan setengah berlari memasuki kamar mama.
TOK TOK TOK
"Maaaahhhh.."
"Iya, Mel.. masuk sayang" sahut mama dari dalam.
Tak membuang waktu lama ia langsung membuka pintu dengan tergesa, di lihatnya baby Cha sedang berbaring di tengah ranjang menggeliat dengan tubuh yang memerah.
"Ada apa, mah?" Melisa yang panik lngsung meringsek mendekati si bungsu yang mulai merengek saat mndengar suaranya.
"Demam sayang, coba kamu susui Langsung"
Melisa hanya mengangguk, lalu membuka dua kancing baju atasannya serta mengeluarkan wadah ASI alaminya agar baby
Cha bisa menyusu secara langsung.
namun gadis kecil itu enggan menyecap justru semakin merengek dengan isak tangis pelan namun menyayat hati
`
" Ayo terus, Mel.." kata mama agar melisa lebih bersabar dan tak terburu buru.
"Iya, Mah, tapi ini gak mau mana udah tumpah tumpah" sahut Melisa yang terus mencoba memasukan pucuk wadah ASI-nya pada mulut mungil Cahaya.
"Yang sabar, ayo coba lagi. mama mau lihat Ay dan Bu dulu ke atas"
__ADS_1
"Aku ikut deh, mah" ujar Melisa sambil membenarkan bajunya, tak mungkin ia ditinggal di kamar mertuanya seorang diri.
Kini keduanya berjalan menuju kamar Melisa di lantai atas menggunakan lift dengan baby Cha dalam dekapan mama.
"Ma, kenapa ya kok pada nangis semua gini sih, tadi mas Reza telepon juga aneh banget tiba tiba mati tapi sebelumnya ada suara keras banget terus sekarang ponselnya gak aktif"
" Serius kamu, Nak?" tanya mama khawatir.
"Iya, mah. tadi mau aku telepon lagi anak anak keburu nangis semua" sahutnya dengan nada bergetar entah kenapa dadanya begitu sesak.
"kamu hubungi Reza sekarang, biar si kembar sama mama juga Ncus" titah mama yang hanya di balas angggukan oleh melisa kemudian langsung mengambil ponselnya di atas nakas.
Lama ia meletakkan benda pipih itu di telinga kanannya tapi tak sekalipun suara suaminya ia dengar hanya suara operator yang mengatakan jika sambungan di luar jangkauan hingga berujung tidak aktif.
Air matanya kini lolos lagi, ia remat ujung baju bagian dadanya yang terasa nyeri, bayangan sang suami yang tersenyum saat ia bangun tidur pagi tadi terlintas di ingatannya.
mungkin ponselmu habis baterai, iya kan mas?, tak ada sesuatu yang terjadi padamu, aku yakin itu...
*****
"Non, makan siangnya" seorang pelayan menyerahkan nampan berisi nasi sayur dan lauk pauk menu makan siang.
"Taruh aja disana, nanti aku makan" jawab melisa dengan wajah menunduk menatap layar ponsel di tangannya.
"Tapi saya di suruh nyonya memastikan nona untuk segera memakanya" ujar pelayan itu lagi.
"Pergilah, aku mau sendiri" titah melisa tanpa menoleh sama sekali.
"Baik, nona, permisi"
Melisa menghembus kan nafasnya dengan berat untuk melonggarkan rasa sesak dalam dadanya, kepalaya terasa pening dan kini bayangannya mulai kabur.
Eaaaaaaakkkk
Tangis Ay mampu mengerjapkan kesadaran Melisa lagi, meski dengan badan yang lemas seperti tak bertulang ia paksakan langkahnya menuju box bayi dimana ketiga buah hatinya terlelap.
"Ah, iya bawa kemari, mbak, sebelum adiknya semua ikut bangun".
Melisa akhirnya kembali ke atas ranjang dan duduk bersandar, kini si sulung sudah berada dalam pangkuannya namun berkali-kali ia menyodorkan pucuk wadah ASI alaminya bayi montok berhidung mancung mirip Reza itu seakan menolak, ia hanya mengeliat seakan mencari sesuatu.
" Ay, kenapa?, tumben gak mau nen mama, sayang" kata Melisa yang kini sudah mendekapnya.
Melisa kini melirik ke arah jam yang tergantung di dinding ternyata sudah lewat dari jam makan siang, biasanya jam jam seperti ini Reza selalu menyempatkan waktu untuk pulang sebentar atau setidaknya melakukan video call hanya untuk tau keadaan istri dan anak anaknya serta melepas rindu dan rasa penat di sela-sela pekerjaannya yang menumpuk, dari ketiga anaknya hanya si sulung Ay yang lebih sering bermain dengannya.
"Kakak cari papa ya?" bisik Melisa di telinga kiri baby Ay.
"Papa nya kerja jauh sayang, ponselnya mati makanya belum bisa telepon kakak, kakak main sama mama aja ya siang ini" ujarnya lirih.
Bayi montok berpipi bulat merah itu pun seakan menyiratkan kegelisahan terlihat saat ia mulai merengek dengan mata yang tetap menatap sang mama.
"Lusa papa pulang, sabar ya sayang"
Meski dengan hati gelisah tak menentu Melisa tetap mengurus ketiga anaknya dengan baik sesuai dengan pesan suaminya sebelum berangkat tadi pagi, walau harus mengisi perutnya dengan terpaksa minum obat dan vitamin yang hampir saja ia muntahkan lagi serta susu yang lupa ia minum karna sibuk terus menghubungi Reza yang belum ada kabar.
"Non, makan malam sudah siap, mau eyang bawakan kemari atau makan malam di bawah?" tanya eyang tiba-tiba mengejutkan Melisa yang sedang duduk di sofa dengan TV menyala.
"Hah... makan malam ya?, biar aku turun kebawah aja tapi aku mau mandi dulu, anak anak ada di kamar sebelah eyang".
"Ya sudah, biar eyang temui anak anak lebih dulu setelahnya eyang akan memberitahu nyonya jika nona kan makan malam bersama"
"Terima kasih, eyang, aku mandi dulu" ujar Melisa yang langsung bangkit dari duduknya kemudan melangkah gontai menuju kamar mandi.
Awal membuka pintu entah kenapa perasaannya semakin tak menentu, di lihatnya deretan perlengkapan mandi sang suami yang berjejer rapih, di raihnya handuk yang biasa Reza kenakan sehabis mandi dan ternyata masih menyisakan bau harum tubuhnya yang melenakan.
Kini Melisa sudah duduk di lantai dengan meremat handuk tersebut sampai menutupi wajahnya yang banjir air mata.
Jangan membuatku takut dengan tak adanya kabar darimu, Mas..
kamu dimana? tolong hubungi aku, ingat aku Mas.. atau setidaknya ingat ketiga anak anakmu..
__ADS_1
Melisa mengguyur tubuhnya di bawah air shower yang dingin berharap bisa menyegarkan hati otak dan tubuhnya kembali setelah seharian bergelut dengan ketidak pastian dari suaminya.
Usai membersihkan diri dan memakai baju rumahan ia lebih dulu melihat ketiga anaknya yang sedang bermain di atas bouncer bersama Ncus mereka masing-masing, tapi tidak dengan si cantik, bayi mungil dengan sedikit rambut itu sedang di timang sembari di nyanyikan lagu penghantar tidur.
"Aku tinggal makan sebentar ya, mbak " ucap Melisa setelah mencium kedua jagoannya.
"Iya, Bu, silahkan"
"Kalian udah makan malam belum?" tanya Melisa pada ketiga suster berpakaian biru muda itu
"Sudah, bu.. kami sudah makan malam" jawab suster Ay..
"Disana banyak makanan, makanlah sesuka kalian, jangan sungkan" ujar Melisa sambil menunjuk salah satu meja di sisi lemari pendingin sebelum keluar dari kamar anak-anaknya.
Ketiga suster itupun hanya mengangguk sopan pada nona muda mereka.
Setelah dirasa cukup melihat si kembar Melisa pun bergegas keruang makan, karna ini sudah lebih dari delapan menit dari jam yang seharusnya.
"Ko sepi, mama sama papa kemana, dek?" tanya melisa pada Ameera yang sedang menikmati kuah sayur kesukaanya.
"Tadi keruang tamu, kak" jawabnya dengan mulut penuh sayuran.
"Ada tamu, tumben malam malam begini"
"Gak tau, kak.. tadi mama sama papa langsung pada kesana"
Melisa mengernyitkan dahinya bingung, lalu dengan langkah cepat menuju ruang tamu dimana kedua mertuanya kini berada.
"sepi..." gumamnya saat sampai di belakang sofa tempat mama dan papa duduk membelakanginya.
Hanya ada papa yang duduk bersandar sambil memijit pelipisnya, sedang mama di sisinya seperti sedang menangis
" Gak mungkin, pah.." kata mama yang sangat pelan melisa dengar.
"Mama tenang dulu, mah" sahut papa.
"Gimana mama tenang, pah!"
" REZA HILANG, PAH.."
PPRRAAAAAAAANG......
πππππππππππ
Huuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaπππππ
babang kemana???
diculik wewe gombel kah kau bang?
π₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ί
thor,, ko sekarang up sehari 1 bab sih?
kemren2 sehari bisa 3 babπππ..
hahahahahahah πππππ
maf ya sayang, lagi covid 19
novel babang reza juga mau ikutin protokol kesehatan buat jaga jarakπ€π€π€π€π€..
gak boleh deket deketan dan berkerumun..
alasan aja lo thorππππ
au ah...
Like komennya yuk ramaikan kalo perlu bawa pentungan sam panci bolong sambil teriakin babang reza biar pulangππ..
__ADS_1