Suami Dadakan

Suami Dadakan
Terindah dan tak terganti.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Ra... "


Merasa terpanggiil, Melisa pun langsung menoleh kearah suaminya yang sedang tersenyum simpul. Reza duduk bersandar di punggung ranjang dengan sebuah majalah di tangannya. Pria baya itu selalu menghabiskan waktu dengan membaca apapun itu jika sedang tak di recoki oleh kedua cicit kesayangannya. Entah sedang apa Embun dan Rain saat ini karna sejak sarapan tak satupun dari mereka masuk kedalam kamarnya.


"Apa? Mas Reza butuh sesuatu?" tanya Sang istri, rambut putih yang tersanggul rapih menambah kesan keibuannya.


"Hem, aku butuh di peluk" jawab Reza seraya terkekeh geli.


"Itu bukan butuh, Mas.Tapi udah jadi kebiasaannya kamu selama ini"


Melisa menyahut sambil berjalan pelan, ia yang tak sekuat dulu tentu harus hati-hati saat bergerak termasuk berjalan, lelah sedikit saja Nyonya besar Rahardian itu akan merasakan sakit di kepala bahkan sesak napas dan jika itu sudah terjadi, Reza akan mengutuk dirinya sediri karna sudah lalai menjaga Khumairahnya.


"Kemarilah, aku ingin tidur"


Reza mengulurkan tangannya yang kini sedikit berkeriput, tak segagah dulu tapi masih terlihat tampan dan rupawan karna semua itu terpancar dari kebaikan hatinya.


"Pejamkan mata mu, mimpi indah akan lekas datang siap membuaimu, Mas" ucap Melisa yang kini sudah berbaring di sisi ayah ke tiga anaknya.

__ADS_1


"Mimpi indah itu tak akan datang jika aku tak tidur dalam pelukanmu, Ra"


"Jangan terlalu banyak merayu, belalaimu sudah tak sanggup mengacak-acak hutan ku, Mas."


"Kamu meremehkan ku, Ra." cebik Reza sambil muncium pipi istrinya.


Wajah yang tak sekencang dulu tak pernah mengurangi candu dalam jiwa kelelakiannya. Reza memang tak lagi melakukan aksi luar biasanya menerobos ke rimbunan hutan belantara yang membuat ia mabuk kepayang, tapi Sesekali Reza masih aktif naik-naik ke puncak gunung meski bukan hanya karna napsu semata.


"Mas, geli..."


"Aku gak ngapa ngapain loh" sahutnya yang sudah menenggelamkan wajahnya si ceruk leher sang istri.


Tempat ternyaman yang Reza rasakan selain di dada Khumairahnya. Wangi harum yang tak pernah berubah meski sudah puluhan tahun bersama.


"Mas, boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa? Apa masih ada yang belum ku katakan padamu, Ra?" tanya Reza dengan suara seperti bergumam pelan.


"Kira-kira apa alasanmu mencintaiku, Mas?"

__ADS_1


Reza yang masih di ceruk leher Melisa pun membenarkan posisi baringnya.


"Tuhan yang menanam rasa cinta ini dalam hati kita masing-masing, Ra. Jadi jangan tanya kenapa aku sangat mencintaimu" jawabnya santai namun penuh penekan.


"Akupun tak punya jawabannya jika kamu menanyakan hal itu padaku" balas Melisa sambil terkekeh, jika seandainya mereka masih muda seperti dulu, sudah bisa di pastikan ia akan di hukum suaminya habis habisan tanpa ampun lagi.


"Hey, kamu sedang mengujiku ternyata"


"Haha, bukan begitu, Mas. Sudah terlalu banyak cerita yang sudah kita lewati. Mungkin kini saatnya kita fokus pada kisah kita lagi, bagaimana aku mencintaimu dan kamu mencintaiku" ucap Melisa sambil menahan tangan suaminya yang sudah diam diam merayap.


.


.


.


Ya, disini kita semua bertemu, semua begitu indah tersusun menjadi sebuah cerita. Tapi aku yakin, sebanyak apapun kisah yang DIA tulis, kisah kita lah yang paling manis" ..


🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Tau aja lo bang ðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠ


Cium sini, bae napa mumpung di bulan penuh berkah 😂


__ADS_2