Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 22


__ADS_3

🌻🌻🌻


"Kalian sedang apa?"


Suara Langit mengagetkan Cahaya dan Alan, keduanya langsung bangun dari duduk.


Langit menatap mereka secara bergantian, namun matanya fokus pada Cahaya, gadis cantik yang terakhir ia temui saat jam istirahat tadi.


"Abang"


"Ngapain disini?" tanya Langit.


"Gak ngapa-ngapain"


"Ayo masuk, banyak angin"


Langit langsung meraih tangan Cahaya, meninggalkan Alan yang masih berdiri bergeming menatap kedua punggung Cahaya dan Langit.


Sampai di dalam Cahaya menarik tangannya membuat Langit menoleh bingung


"Kenapa?"


"Abang dari mana?, jam segini baru pulang?" cecar Cahaya dengan pertanyaan.


"Telepon aku gak diangkat, pesan aku pun gak ada yang baca!"


"Kenapa?, ayo jawab kenapa?" gadis cantik itu terus bertanya tanpa memberi celah kepada Langit untuk menjawab salah satunya.


"Jawab, Bang!" sentaknya kemudian sambil mendorong tubuh pria di hadapannya itu sampai mundur dua langkah.


"Ponsel Abang ketinggalan, yank"


"Bohong!"


Cahaya yang baru saja ingin pergi langsung di tarik oleh Langit, di bawanya gadis pencemburu itu kedalam kamarnya.


CEKLEK...


Masih dengan tangan yang di cekal oleh Langit, ia berdiri di dekat meja belajar matanya langsung menangkap benda pipih yang tergeletak begitu saja


"Abang lupa bawa, tadi buru-buru di panggil om Ilham taunya disuruh nganterin tamu pulang. Abang langsung dikasih kunci motor jadi gak balik ke kamar lagi buat ambil ponsel juga jaket" jelas Langit pada Cahaya jujur apa adanya.


"Abang boncengan sama perempuan lain" lirih Cahaya sambil menunduk.


"Cuma nganterin pulang, gak ngapa-ngapain lagi" ucap Langit, Gadis di hadapannya itu sulit sekali di bujuk jika sedang cemburu.


"Tapi pinggang Abang di pegang dia, pasti di peluk kan perutnya, kaya aku suka lakuin itu ke Abang"


Langit terkekeh, sungguh lucunya Cahaya sampai ia jauh membayang semua itu.

__ADS_1


"Sayang, dia cuma pegang ujung Kaos Abang aja kok, bener deh"


Langit menangkup wajah sendu Cahaya dengan kedua tangannya, ia tersenyum manis pada gadis kesayangannya itu.


"Cantiknya Abang jangan marah lagi ya"


"Maaf, maaf karna Abang gak pamit perginya"


Cahaya hanya mengangguk, ia mencoba mengerti walau jauh di dalam hatinya ia masih kesal.


Keduanya kembali keluar dari kamar Langit menuju halaman samping, disana ada Air yang sedang bermain basket dengan beberapa anak panti lainnya, begitupun dengan Bumi ia fokus mengajari dua bocah kecil merakit mobilan, hadiah yang baru saja mereka terima tadi


"Kalian sedari pulang sekolah kesini?" tanya Langit.


"Enggak, tadi ke kantor papa dulu"


"Buna gak ikut?"


"Nanti kesini buat jemput"


Langit hanya mengangguk paham, namun setelahnya ia mendengar deru langkah yang semakin mendekat


"Abang, adek" seru Melisa yang sudah berdiri di belakang mereka.


"Mama"


"Buna"


"Kita pulang yuk" ajak Melisa Karna hari semakin sore.


Si kembar mengangguk, namun Langit hanya tersenyum simpul.


"kakak panggil Adek dulu" Air sedikit berlari mendekati adiknya yang baru saja selesai merakit mainan.


Setelah berpamitan, Langit mengantar keluarga angkatnya itu sampai di depan gerbang.


"Dadah Abaaaaaaaang!" seru si kembar berbarengan di dalam mobil.


"Daaah, ketemu lagi besok ya di sekolah" ucapnya sambil melambaikan tangan.


Reza menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang karna jalanan mulai ramai lancar, bunyi klakson saling bersahutan seakan tak ingin ada yang mau mengalah, begitupun dengan pria tiga anak ini yang beberapa kali mengumpat kesal.


" Beli mobil yang bisa terbang, Pah.. biar gak emosi kalo di jalan" kekeh Air menggoda papanya.


"Iya, kenapa kita gak naek Helly aja ya, Ra?"


Melisa Langsung mendelik ke arah Suaminya yang sedang menahan tawa.


Sampai di apartemen semua Langsung berhambur ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri, Ay dan Bu tentunya sedang ribut di depan pintu kamar mandi, tak ada yang mau mengalah siapa yang akan lebih dulu membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


"Kamu tuh lama Kalo mandi!" sungut Ay.


"Ya udah, kakak kan cuma Sebentar jadi aku dulu" balas Bu.


"Gak mau!"


Ay yang akhirnya masuk lebih dulu langsung mengunci pintu kamar mandi, Bumi yang kesal akhirnya harus berlalu ke kamar adiknya


CEKLEK.


"Dek, kakak mau mandi"


"Hem." sahut Cahaya hanya berdehem.


.


.


.


Melisa yang sudah rapih sudah bersiap menyiapkan makan malam yang tadi di belinya di jalan menuju arah pulang.


Namun tangannya masih sibuk mencari sesuatu padahal anak dan suaminya sudah sangat kelaparan.


"Nyari apa sih, Ra?" tanya Reza.


"Kue bolu gulung aku mana ya?, aku sisain satu buat dirumah" jawabnya masih bingung, ia tadi membeli sepuluh bolu gulung untuk di bawa ke panti asuhan namun hanya sembilan yang ia berikan, karna satu gulung nya akan ia bawa pulang untuk cemilan tengah malam.


"Mama taronya dimana?" tanya Chaca.


"Disini, udah mama potongin terus mama tinggal mandi" jelas Melisa.


"Paling kerjaan kakak" ujar Bumi melirik kearah Air.


"Kakak makan kuenya?" selidik Melisa pada si sulung.


.


.


" Tadi kakak liat kue, eh kuenya malah balik liatin kakak.. karna Kakak kesel di liatin terus ya udah kakak gigit semua Kuenya... sekarang kue kue nakal itu udah hilang....!!!!"


.


.


💦💦,💦💦💦💦💦💦💦💦***


Astaghfirullah..

__ADS_1


Bilang aja dimakan gitu kak, Ampe muter-muter segala 😂😂😂😂😂😂😂


Like komen nya yuk ramai kan ♥️🤗🤗


__ADS_2