Suami Dadakan

Suami Dadakan
Tiga waktu.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Habiskan, Ra" titah Reza sambil menggeser piring berisi pancake kearah Khumairahnya.


"Aku kenyang, Mas. Jangan paksa aku untuk terus makan yang manis saat dekat denganmu" tolak Melisa sembari menggelengkan kepala.


"Stop, Ra. Jangan menggoda ku" kekeh Reza dengan senyum simpul di ujung bibirnya.


Hatinya kini rapuh, sedikit saja di goda jantung pria itu akan berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Kenapa? aku hanya ingin kamu merasakan apa yang kurasakan selama ini, terbang tinggi saat kamu melayang kan sebait gombalan maut" cibir Melisa.


"Hey, aku mana pernah melakukan itu, aku hanya berusaha membahagiakan mu saja, Ra" protes sang Gajah.


"Bahagia ku cukup kamu tak melepas genggaman tangan kita, Mas. Sederhana, bukan?" sahut sang Nyonya besar Rahardian.


"Ya, tapi tak semua pasangan mampu melakukan hal itu. Setiap ujian rumah tangga ada saja saatnya ingin pergi, dan aku akui itu pernah terlintas di benakku. Tapi, sedetik kemudian aku berpikir jika belum tentu aku bahagia tanpamu karna sudah jelas aku sangat bergantung dengan semua caramu memperlakukanku selama ini" tegas Reza, salah paham adalah hal biasa dalam sebuah hubungan tapi menyelesaikannya pada saat itu juga tentu jarang orang melakukannya hingga masalah justru bertumpuk bagai bom waktu yang siap meledak kapan saja.


Obrolan panjang lebar mereka bincangkan sampai tak terasa sinar matahari sudah sangat tinggi, yang tadinya udara begitu dingin terasa karna embun pagi justru kini berganti dengan hangatnya sang penguasa langit.

__ADS_1


"Masuk, Ra" ajak Reza.


"Iya, Mas. Oh iya, apa kita jadi pulang lusa?" tanya Melisa saat keduanya berjalan bersama masuk kedalam villa.


"Kita pulang sore nanti, Anak-anak sudah ribut sejak semalam bahkan Air dan Sam sampai menangis berjamaah" jawab Reza sambil terkekeh. Niat hati akan berlibur lebih lama harus urung di lakukan karna semua keturunan mereka tak kuasa menahah rindu lagi.


"Hem, aku tahu itu. Padahal kita melalukan itu hanya demi mereka terbiasa tanpa kita, kan?"


"Ya, harusnya begitu, Sayang" jawab Reza sambil mengeratkan rangkulannya di bahu sang belahan jiwa.


.


.


Keduanya duduk di kursi belakang dengan Melisa menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, satu kebiasaan yang membuat ia selalu nyaman.


"Perjalanan kita berapa lama, Mas?"


"Biasanya lebih cepat di banding saat kita pergi, Sayang. Tidurlah, aku akan memelukmu"

__ADS_1


Reza sedikit mengubah posisi duduknya, Ia letakkan kepala sang istri di dada bidangnya. Sampai detik ini, wanita itu masih senang merasakan detak jantung suaminya yang malah menenangkan hatinya.


"Aku tak akan membuang waktu bersamamu, Mas. Rugi rasanya jika terlalu sering tertidur karna kenyataan jauh lebih indah dari mimpiku" kata Melisa yang punggung tangannya terus di kecup berkali-kali.


"Benarkah, semakin hari rasa kita semakin sama. Apa yang kurasa kamu pun ikut merasakannya. Bohong jika aku mengatakan aku tak tak semakin bahagia bersamamu di penghujung waktu kita, Ra"


"Hem, tentu. Kuharap masih ada banyak hal yang masih bisa kita lakukan ya, Mas" pinta Melissa.


"Sebanyak apapun itu, akan ku pastikan aku tak akan berhenti menyapamu di tiga waktu setiap harinya, Ra" ucap Reza sebelum ia menarik napas pelan.


"Apa saja itu, Mas?"


.


.


.


Waktu pagi, karena kamu adalah tujuan hidupku. Kamu semangatku saat mengawali hari sebelum aku beraktivitas.

__ADS_1


Waktu siang, Aku hanya ingin memastikan semua baik-baik saja.


Waktu malam, Aku hanya ingin kamu jadi orang terakhir sebelum aku menutup mata.


__ADS_2