Suami Dadakan

Suami Dadakan
Berat.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Terimakasih kamu selalu menjadi alasan ku bertahan...


Satu kalimat Reza bisikan di telinga Khumairahnya saat malam menjelang, dimana hanya gemintang dan rembulan yang menggantung di langit gelap usai matahari terbit.


Melisa...


Hadir lewat rencana yang indah. Namun bisa mencintainya sedalam ini tentu itu di luar dugaan, terlebih saat itu ia masih merasakan sakitnya di tinggal secara tiba-tiba oleh sang mantan kekasih.


Luka yang teramat perih berangsur hilang saat wanita itu tersenyum, kepolosannya juga bagai hiburan tersendiri bagi dirinya yang sedang patah semangat.


Dan kini, Reza semakin mengeratkan pelukannya, ia takut di tinggalkan tapi ia pun tak ingin meninggalkan.


Jika bisa bersama, kurasa itu jauh lebih baik, Ra...


Harapan dan doa itulah yang selalu Reza Rahardian Wijaya bisikkan dalam hati. Pergi bersama adalah impiannya saat ini.


Aku atau kamu yang lebih dulu, aku tak perduli. Yang penting masih dalam satu waktu saat kita masih saling menggenggam tangan.


Sadar jika sang suami belum juga terlelap, mata lentik sang Khumairah akhirnya terbuka. Wajah yang tak lagi muda namun tetap cantik itu langsung melempar senyum manis seperti saat pertama kali mereka menatap satu sama lain.


"Mas Reza kenapa? kok belum tidur?" tanya si bidadari hati.

__ADS_1


"Belum ngantuk, kamu kenapa bangun, apa aku mengganggumu?" Reza balik bertanya dengan senyum tersungging di sudut bibirnya yang masih saja melayangkan gombalan maut padahal umurnya sudah hampir satu abad.


"Entah, aku bermimpi berada dalam kegelapan"


"Jangan pernah takut sandiri, karna masih ada aku yang selalu ada di dekatmu, Ra" jawab Reza menenangkan.


"Aku tahu, tapi sayangnya di mimpi itu kamu tak ada, Mas"


"Hem... aku kemana? padahal aku tak pernah bisa jauh darimu, kan?" kekeh Reza, apapun topik pembicaraan mereka selalu ada saja selipan gombal di dalamnya.


"Mungkin kamu lagi cari Tutut" balas Melisa tak kalah tertawa, sampai mata keriputnya menyipit.


"Tutut gak usah di cari, dateng sendiri bersama si Bul-Bul juga si Bum-Bum" cetus nya sambil membuang napas berat.


"Si tukang Shoping dan si tukang pundung."


Keduanya malah tertawa bersama, berbaring saling memeluk di bawah satu selimut yang sama sambil membicarakan hal hal sederhana nyatanya membuat hubungan mereka bertambah baik dan harmonis.


Kapan terakhir bertengkar?


Satu pertanyaan yang tak pernah bisa di jawab entah oleh Reza ataupun Melisa, kenapa?


Ya, karna mereka tak pernah bertengkar meski sering merajuk, saat salah satu menjadi api, yang lain harus siap menjadi air yang sebisa mungkin memadamkannya dengan cepat.

__ADS_1


Mereka pun akan selalu memposisikan diri sebagai cermin, benda jujur yang tak pernah berbohong sama sekali, jika salah akan salah jika benar tentu akan benar pula. Sebab Cinta yang tulus tak mungkin buta dan tuli.


"Kita telepon mereka saat pagi nanti ya, Ra. Sebelum Embun berangkat sekolah" ucap Reza yang sama rindunya pada kedua cicitnya di rumah utama karna mereka kini berada di rumah si tengah, Bumi.


"Apa kita bisa melihat mereka tumbuh besar, menikah lalu memiliki anak? aku sangat ingin itu, Mas. Aku ingin merasakan kebahagiaan semua cicit kita. Karna semua anak dan cucu Rahardian sudah hidup bahagia" lirih Melisa mengungkapkan isi hati nya.


.


.


.


Permintaan mu berat, Ra... karna aku taruhannya.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Eaaaa....


Mari nego, bang 🤣🤣🤣


Mau yang kiri, kanan, atas atau bawah dulu 😘😘


mau langsung yang tengah juga boleh 🤫🤫🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2