
🌻🌻🌻
CEKLEK
"Buuuuuu...." panggil Ay saat memasuki kamar mereka yang masih bersebelahan dengan kamar kedua orangtuanya.
"Apa?" sahut Bu dengan suara serak di balik bantal guling.
"Kamu nangis ya?" tanya Ay yang kini sudah duduk di sisi adiknya yang berbaring di tengah tempat tidur.
"Engga" jawabnya cepat
"Iya, itu suaranya kaya kodok" seru Ay sambil mengulum senyumnya.
"Mana ada aku kaya kodok!" protes si tengah yang langsung bangun dari tidurnya.
"Iya tuh, serak gitu kaya kodok" unjuk Ay pada adiknya yang kini sudah duduk dihadapannya.
"Sini peluk." Ay merentang kedua tangannya.
"Kakak" lirih Bu Langsung berhambur kedalam pelukan Kakaknya.
"Adek gak apa-apa, kita tunggu papa jemput ya"
Bumi mengangguk dalam dekapan kembarannya, Bocah yang lebih dulu lahir tiga menit darinya.
"Aku mau adek kasih sakitnya ke aku kak, biar adek gak sendirian" keluh Bumi.
"Jangan, kasian mama kalau sakit semua"
"Kasian adek, kak. pingsan terus" lirihnya lagi.
"Nanti juga sembuh, main main lagi, kalau adeknya sakit kakaknya harus kuat, hihi" seru Ay sambil terkekeh setelah mengurai pelukannya.
"Kuat apa?" tanya Bumi mulai curiga.
"Kuat tahan nangis, laaaaaaah"
*****
Reza kembali keruang rawat inap setelah tadi sempat dipanggil keruangan dokter untuk membicarakan keadaan si bungsu.
Dilihatnya Melisa yang masih memandangi putri kecilnya yang kini sedang terlelap setelah sempat siuman beberapa saat.
"Raaaa"
"Mas, dokter bilang apa?" tanya KHUMAIRAHnya saat menoleh.
__ADS_1
"Gak apa-apa, kamu jangan khawatir" sahutnya sambil meraih bahu sang istri.
"Biasanya bangun kalo aku kasih minyak, ini tadi enggak" Melisa kembali berderaian air mata, begitu takutnya ia tadi bahkan tangannya saja masih sedikit bergetar dan dingin.
"Iya, aku ngerti, sekarang kamu tenang ya"
"Chaca nginep?" tanya Melisa.
"Hem, iya malam ini kita tidur disini dulu" jawabnya sambil mencium kening Melisa.
"Aku tadi bilang kakak kalau mas Reza mau jemput" kata Melisa yang baru ingat janjinya pada kedua anaknya yang lain.
"Mama jaga kakak aja di rumah, biar adek nanti aku sama Melisa yang disini" kata Reza pada mamanya yang sedari tadi menemani rumah sakit.
"Ya sudah, tapi kabari mama jika ada sesuatu"
"Iya, mah. Terima kasih" sahut Melisa yang berhambur memeluk ibu mertuanya.
"Omma pulang ya cantik" pamit mama, peluk cium untuk Chaca mama lakukan dengan penuh kasih sayang.
Sepeninggal mama, kini hanya Reza dan Melisa yang berada di dalam kamar menemani si bungsu yang sedang terlelap, bibir yang tadi membiru kini berangsur memudar.
"Apa Chaca perlu cangkok jantung, Mas?" tanya Melisa.
"Belum, Ra. dokter masih pantau kondisinya"
"Banyak berdoa, Cahaya kuat, Ra" berkali kali Reza mencium pucuk kepala istrinya.
Dering ponsel di saku jas Reza mengalihkan perhatian keduanya yang menunggu Chaca bangun dari tidurnya.
"Adek" gumam Reza saat melihat layar ponselnya.
"Hallo, dek" sapa Reza pada adiknya yang kini sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
"Kakak jemput Ay sama Bu gak?" tanya Ameera.
"Enggak, kakak nginep di rumah sakit, bilangin sama mereka ya"
"Mama juga?" tanya nya lagi.
"Mama pulang, dek" sahut Reza.
"Papaaaaaaaaaa" terdengar teriakan si sulung yang sepertinya dari jauh.
"Aunty, itu papa ya, kakak mau ngomong ih" serunya masih berteriak.
"Iya, sabar dong, berisik!" kata Ameera, keduanya bagai musuh jika bertemu sikap usil Air yang selalu mengganggu Ameera membuat gadis itu sering uring-uringan.
__ADS_1
"Hallo, papa ini kakak loh" serunya sambil cekikikan.
"Iya, sayang, kakak lagi apa?" tanya Reza pada si sulung, suara riangnya selalu mengobati rasa gundah dalam hati kedua orangtuanya.
"Lagi apa ya tadi?, kakak ngapain ya tadi?" serunya sendiri.
"Auntyyyyy...kakak ngapain sih tadi!" teriak nya pada Ameera yang sudah pergi meninggalkan bocah yang selalu berisik itu.
"Gak tauuuuu!" jawab Ameera tak kalah berteriak.
"Hayo, kakak ngapain?" kini Melisa yang bertanya, bayangan si sulung dengan wajah bingungnya sudah terlihat di pelupuk matanya.
"Makanya, kakak tuh diem, haha" goda Reza yang tau sikap aktif anaknya, yang selalu banyak melakukan kegiatan di waktu yang bersamaan.
"Kakak tadi banyak ngapain ngapain nya pah"
"Coba ngapain aja?" tanya Melisa yang kini mengalihkan telepon menjadi video call.
"Kakak main ikan, ikannya gak dadah dadah loh mah, jadi kakak gak samperin ikannya dalam air, terus temenin oppa mandiin burung, Kakak nyanyi sama burung, Pah, terus burung nya ikutan nyanyi juda katanya gini cuit.. cuit.. cuit.." selorohnya sambil tertawa.
"Duet maut dong sama burung" ejek Reza sambil terkekeh.
"Iya, tapi kakak bingung, Pah" tanyanya mulai serius.
"Bingung kenapa?" tanya kedua orangtuanya berbarengan.
"Ko bunyi burung sama bunyi mang Udin sama sih?"
"Mang Udin, supir kita?" tanya Melisa memastikan.
"Iya, mah mang Udin!"
"Emang mang Udin bisa bunyi, ha-ha-ha" Reza tertawa mendengar celotehan si sulung.
"Bisa Pah, Kakak kalo pergi sama Bi Siti tuh mang Udin suka cuit..cuit..cuit...gitu?"
💦💦💦💦💦💦💦💦💦
Bukan bunyi itu sih ay 😂😂😂
Like komen nya yuk ramai ♥️
kakak Ay.. si cengeng yang selalu bahagia ya sayang..
Sumpah demi apa!
pengen cium bapaknya nya 😘😘😘
__ADS_1