
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
BRAAAKKK
Bang, ikut om sekarang
Kedatangan Reza yang tiba-tiba sambil menggebrak pintu tentu membuat Langit dan Cahaya terlonjak kaget. Apalagi anak perempuannya itu hampir saja ingin terlelap.
Melisa yang berdiri di belakang suaminya itupun Kebingungan saat sorot mata Langit seakan bertanya padanya.
"Mas, ada apa?" tanya wanita itu yang merasa panik.
"Bang ayo!" sentak Reza, bukan menjawab pertanyaan sang istri, ia malah memaksa anak angkatnya itu untuk ikut dengannya.
"Kemana, Om?" tanya Langit, ia belum bangun dari duduknya karna tangannya masih di genggam oleh Cahaya.
"Ada apa sih, Pah?" Si bungsu pun ikut bertanya.
Raut khawatir jelas terlihat di wajah pria beranak tiga itu, tak ada satupun pertanyaan yang ia jawab karna matanya fokus pada Langit.
"Ayo, Bang!"
Langit akhirnya reflek bangun dari duduk, ia melepas pelan tangannya sambil tersenyum saat melihat Cahaya menggeleng kan kepalanya.
"Abang pergi sebentar ya, kamu tidur lagi" pesan Langit.
"Abang mau kemana?, Adek takut" gadis itu mulai terisak pelan, Melisa yang tahu hal itu langsung masuk kedalam kamar menghampiri si bungsu.
__ADS_1
" Gak apa-apa, ini pasti urusan kantor"
Langit mencoba menenangkan Cahaya meski ia sendiri pun merasa gelisah tak menentu, Langit mencium kening gadisnya sebelum benar-benar pergi dengan Reza.
"Bun, jagain Adek, ya" titip Langit
"Pergilah dan cepat pulang jika urusan Kalian sudah selesai'' pesan Melisa sambil melirik ke arah suaminya yang masih berdiri di ambang pintu dengan gelisah.
"Iya, Bun "
Langit terus menoleh ke arah Cahaya, ia sungguh sangat tak tega meninggalkan gadis itu.
" Ayo, Om"
Pria tampan itu tak lagi bertanya kemana ia akan di bawa, Kilat mata Reza sudah membuat ia paham jika ini pasti suatu yang sangat penting apalagi sampai Reza tak memperdulikan anak istrinya seperti tadi.
Keduanya masuk kedalam mobil mewah milik Reza dengan ia sendiri yang mengendarainya sampai bandara.
Begitu banyak pertanyaan tapi tak satupun Langit lontarkan, sepanjang perjalanan darat dan udara Reza dan Langit saling diam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Pesawat pribadi yang berukuran lebih kecil dari yang mereka naikin saat pernikahan Air kini sudah mendarat sempurna di salah satu kota besar yang Langit sudah tau itu dimana meski tak sekalipun ia menginjak kan kakinya di kota tersebut.
Mobil sedan mewah berwarna silver ternyata sudah menunggu kedatangan mereka sedari tadi, Reza dan Langit tentu langsung memasukinya.
Masih dengan sikap yang sama sejak keluar dari kamar Cahaya, Reza sama sekali tak mengucapkan satu kalimat pada Langit.
Keduanya masih diam membisu selama perjalanan yang entah Langit pun tak tahu karna sudah lebih dari tiga puluh menit mereka belum juga sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Sebuah kota yang nun jauh dari tempatnya ia tinggal terlihat begitu indah dibawah gelapnya malam yang bertabur bintang, Cahaya seakan memberikan kedamaian di relung hatinya yang gundah gulana.
"Ayo turun" aja Reza saat mobil berhenti di depan bangunan besar berkisar sepuluh lantai dengan area parkir cukup luas
"Iya, Om" jawab Langit tanpa ada keraguan dalam hatinya karena mendadak merasakan kedamaian yang bercampur kerinduan.
Mereka masuk kedalam bangunan tersebut, Langit hanya bisa mengekor di belakang langkah Reza yang begitu tergesa.
TRIIIIIING..
Pintu lift terbuka dengan lebar, kini hanya ada mereka didalamnya. angka tujuh adalah angka yang di tekan Reza setelah pintu kotak besi itu tertutup
Sampai di lantai yang dituju, mereka berjalan menyusuri lorong yang nampak begitu sepi.
Reza berhenti di satu pintu berwarna coklat paling ujung.
Masuklah... di dalam ada ibumu!
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Nah loh..
Abang Ada emaknya.
Gue mau Sungkeman dulu ya sama calon Mak mertua 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
#NoDebat
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan ♥️