Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 189


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Langit dan Reza kini duduk berhadapan di kantin rumah sakit di teman dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap nya.


"Bagaimana, mau ikut pulang?" tanya Reza memulai obrolan.


"Iya, Om" jawabnya cepat tanpa keraguan sama sekali.


"Alasannya?"


"Abang kangen adek," Langit menunduk untuk menyembunyikan raut wajah malunya.


Kadang jawaban sepele itulah yang membuat Reza begitu bangga dan semakin menyayangi Langit, pemuda itu benar-benar serius dengan perasaannya pada si bungsu, ia memperlakukan putrinya di atas segalanya.


"Lalu ibumu?"


"Mami gak apa apa Abang tinggal, nanti kalau udah baikan Abang minta mami buat ke kota, Abang. mau kenalin Cahaya ke mami, boleh?" pinta Langit sungguh-sungguh, ada rasa bahagia dalam hatinya bisa melakukan hal yang dulu sepertinya mustahil baginya.


"Boleh, ibumu orang baik. Om yakin kalau adek bisa menerima ibumu dengan tangan terbuka meski ia pasti terkejut" kekeh Reza, anak kesayangannya itu persis sekali dengan KHUMAIRAHnya yang tak suka di bagi kasih sayangnya.


Karna dua wanita itu terbiasa hidup dengan limpahan cinta dan perhatian.


"Buna masih marah?" kini Langit yang bertanya, ia sangat mengkhawatirkan ibu angkatnya itu.


"Buna gak marah, cuma masih belum terima dan terbiasa. Untuk sekarang Abang ambil hati Buna dulu ya, buat keadaan seperti biasa. Sikapnya yang sekarang semata hanya karna takut kehilanganmu" pinta Reza untuk Langit lebih mengerti posisi Melisa yang masih belum terima.


"Abang ngerti banget perasaan Buna, abang gak akan tinggalin Buna demi mami, walau mami yang lahirin Abang, Om. Abang mau mereka ada untuk Abang dan Abang ada untuk mereka walau adil itu sulit" tuturnya sambil menghela nafas panjang.


"Kamu harus bisa membagi waktu dan kasih sayang untuk kedua ibumu, Buna tahu semua jadwal dan keseharian mu, om harap kamu bisa terbuka saat bersama ibu kandungmu nanti, jangan ada kesalahpahaman antara mami dan Buna mu, Bang"


"Haha, aku kira yang sulit itu punya dua istri ya, ternyata punya dua ibu pun sulit" kekeh Langit sebelum ia menyeruput minumannya.


"Emang Abang punya pikiran buat punya istri dua?" sentak Reza, kali ini ia memposisikan dirinya sebagai calon mertua Langit.


Langit langsung terkejut sambil menelan Salivanya kuat-kuat, tentu itu adalah hal yang tak pernah terlintas di benaknya.

__ADS_1


"Enggak, satu aja udah penuh banget di hati Abang" Ucapnya polos karna kejujuran, dan Reza sadar hal itu.


"Jadi kita pulang sekarang?"


Langit menganggukkan kepalanya. Bayangan gadis kecilnya tak pernah luput dari matanya beberapa hari ini, apalagi saat Cahaya merengek memaksa ingin tahu keberadaannya kini, gadis itu menangis sesenggukan hanya karena tak kuat menahan rindu.


***


Kedua pria tampan itu kini sudah kembali lagi kedalam ruang rawat inap Diana, hawa dingin dan Canggung sangat terasa bagi siapapun yang berada di sana.


Langit yang tadi masuk langsung merangkul bahu Melisa, hal yang sudah biasa ia lakukan selama ini setelah tinggi tubuhnya sudah melebihi wanita Kesayangannya itu.


"Udah ngobrolnya?" tanya Langit pada kedua ibunya.


"Udah, Bang" jawab Melisa, karna Diana hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Buna udah siap banget mau pulang" goda Langit untuk mencairkan suasana agar lebih nyaman.


"Buna mikirin adik-adik mu, makanya ayo cepat pulang"


"Iya.. ayo pulang,"


Senyum terbaik Langsung terukir di wajah cantik Melisa, ia begitu senang karna Langitnya tak berubah ia masih anaknya yang penurut yang mau melakukan apapun demi dirinya.


"Abang pamit sama mami dulu ya"


Melisa sedikit terkejut dengan cara Langit memanggil Diana, hatinya kembali teriris dan perih saat Langit menyebut wanita lain dengan sebutan keibuan.


Langit mulai melepas rangkulannya dari bahu Melisa, ia berjalan mendekat menuju ibu kandungnya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.


Melisa yang mulai lemas dan mata berkaca-kaca langsung di papah oleh Reza


"Yuk kita keluar duluan" ajak Reza saat tahu jika KHUMAIRAHnya tak akan sanggup saat melihat Langit berpamitan pada Diana, apalagi saat anak itu mencium punggung tangan ibunya dengan takzim kemudian beralih ke keningnya.


"Abang pulang ya, mami cepet sembuh. Abang tunggu mami di kota. Kita sama-sama ya" ucapnya begitu lembut sampai Diana harus menitikan air mata haru dan bahagianya.

__ADS_1


Reza yang tahu jika Melisa terluka terus mencoba membawa tubuh yang hampir ambruk itu untuk keluar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Biarkan aku melihat semua ini, mas.


Setidaknya aku tahu karna aku melihatnya sendiri.


Meski sakitnya luar biasa tapi aku harus terbiasa.


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Biasain ya 😂


Ish.. tenanglah.. yang penting ada 🐘


Jangan fokus sama Langit atuh Mel tar gajah gue colong, Elo gak sadar 🙄🙄

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan ♥️


__ADS_2