
π»π»π»
PLAAAKKK
GUBRAAKKK
"Durian jatuh, Mas" unjuk Melisa pada sebuah pohon besar di ujung kebun dekat tembok.
"Mana?" Reza langsung menoleh mencari sumber suara.
"Cepetan, ambil" Melisa mendorong bahu suaminya agar cepat menghampiri durian jatuh tersebut.
"Apa sih?"
"Ih, sana cepetan ambil" titahnya lagi tak sabar.
Reza menurut, ia berjalan menuju pohon besar tersebut melewati kebun strawberry yang sedang panen.
"Wih, gede banget" gumam Reza saat menemukan durian yang tergelatak di tanah.
Melisa yang sudah berada di gazebo bersama papa dan mama bertepuk tangan kecil saat di lihatnya sang suami menenteng buah durian.
"Gede banget!" kata Melisa dengan sorot mata berbinar.
"Kamu mau ini? gak boleh, Mel" kata mama, melarang menantunya untuk memakan buah itu.
Melisa menggelengkan kepalanya
"Terus buat apa nyuruh aku ambil?" tanya Reza bingung.
"Mas Reza yang makan, ayo di buka lalu habiskan!" kata Melisa dengan senyum menggoda.
"Haha, jangan bercanda Sayang" kekeh Reza menganggap ucapan istrinya hanya lelucon.
"Aku gak bisa makan, jadi mas Reza yang makan" kata Melisa sambil mengelus perut besarnya, ada sedikit pergerakan di sana.
"Gak, ah!" tolak Reza, Melisa langsung diam saat sang suami menolak keinginannya, raut wajah kecewa jelas terlihat.
"Aku kenyang, Ra" itulah alasan yang diberikan Reza.
"Makan sedikit, aku pengen" lirihnya sedih.
__ADS_1
"Biar papa yang makan, gimana?" ucap pria paruh baya itu.
Melisa menggeleng, matanya tetap menatap kearah suaminya seraya memohon.
"Kita makan sama sama ya, sayang" kini mama mencoba membujuk menantunya.
Melisa diam bergeming, pandangannya beralih pada buah berduri itu.
"Ya udah aku aja yang makan!"
"JANGAN!!!" jawab ketiganya serentak.
"Ya udah, mas Reza cepetan makan aku cuma mau liat aja aku gak akan minta nyicip"
"Nah, ini dia nih!" Reza menarik tangan Aby yang baru saja datang dari pasar membeli pupuk.
"Apa?" tanya Aby, bingung. ia menatap semua orang secara bergantian.
"Buka, terus Lo makan" bisik Reza.
"Hah!" Aby mengernyitkan dahinya, bingung.
"Mas Reza mau nyuruh Aby, didalam sini anak siapa?" Melisa menunjuk perutnya sendiri.
"Ok, aku makan" jawab Reza pelan.
Mama dan papa hanya saling pandang, namun ada tawa yang di tahan dari wajah
Papa, sedangkan mama hanya meringis.
"Bukain, gue gak bisa" titah Reza pada Aby.
PLAK
"Nyuruh terus, buka sendiri dong"
"Gak bisa, ini gimana?" Reza yang bingung terus memperhatikan buah tersebut membuat semua orang terkekeh.
"Ya itu, pake pisau"
"Hadeuh, belah duren yang Laen gue baru bisa!" gumam Reza.
__ADS_1
Reza akhirnya meraih pisau yang tergeletak di dekat gelas yang berjejer, di pegangnya ujung buah durian dan mulai menancapkan pisaunya.
"Gini?" tanya Reza pada Aby, pemuda berlangsung pipi itu mengangguk.
"Aaww" jerit Reza tiba-tiba.
"kenapa?" tanya semuanya berbarengan.
"Kena duri, tajem banget" sahut Reza, ia meniup tangannya.
"Berdarah gak?" tanya Melisa khawatir.
"Gak, cuma ketusuk aja"
Reza kembali mencoba lagi, walau sulit sangat sangat sulit baginya namun ia tetap berusaha.
"Ih lama banget" ujar Melisa tak sabar.
"Aku mana pernah buka beginian ,Ra. Aku tuh biasanya duduk manis tanda tangan" ucapnya sombong dengan menaikkan kedua alisnya.
"Dan buka yang lain lainnya" tambahnya lagi, membuat kedua orangtuanya terkekeh, sedang Melisa membelalakkan matanya, ia sangat malu saat Aby tertunduk mengulum senyum.
"Nah, bisa nih"
"Mana, aku liat isinya" si bumil pun mulai meringsek mendekat.
"Isinya bagus, gede banget"
Melisa langsung mengambil satu buah dari cangkang yang sudah terbelah menjadi empat itu..
"Ayo, buka mulutnya, Mas" titah Melisa, tangannya sudah berada tepat di depan mulut suaminya.
Satu dua tiga.
"OOOEEEEEEKKKKK"
πππππππππ
Napa bang?
Ini duren asli lohπππ
__ADS_1
Duren yang onoh juga sampe muntah kanπ€
Like komennya yuk ramaikan β₯οΈβ₯οΈπ€π€