
🌻🌻🌻
A B C #2
Langit yang berdiri di gerbang sekolah sudah bersiap menunggu kedatangan ketiga adiknya, dengan senyum mengembang bocah kelas empat sekolah dasar itu sudah merentangkan kedua tangannya saat Air, Bumi dan Cahaya turun dari mobil.
"Abang, kakak" teriak Ay.
"Abang bareng bareng loh, kak" protes Cahaya
"Bang, jaga Adek ya" pesan Reza setalah ke empat bocah itu bersalaman padanya.
"dadah, Pah.. hati-hati" seru semuanya berbarengan.
Reza melambaikan tangan di dalam mobil dengan kaca yang sengaja ia buka.
**
Ay yang langsung berlari tak mendengar saat Langit berteriak memanggil manggil namanya.
BUGH..
"Ups, maaf!" ucap Ay saat ia menabrak teman perempuannya.
"Jatuh semua kan?" Seru gadis manis dengan rambut di kepang dua.
"Biar aku yang beresin!"
Ay langsung berjongkok membereskan perlengkapan belajar gadis tersebut, Kedua adiknya yang baru datang pun ikut membantunya
"Kan Abang bilang jangan lari-lari, kak" ujar langit sambil membantu Cahaya bangun.
"Gak sengaja, bang"
"Maaf ya!" ucap Ay sekali lagi.
"Iya, lain kali hati-hati" jawabnya sebelum pergi.
__ADS_1
Langit kembali menggandeng Si bungsu masuk kedalam kelas mereka, beberapa temannya sudah ada didalam, ada yang duduk santai, bermain atau sekedar bercanda.
"Kalian jangan ribut!" pesan Langit sebelum ia beranjak keluar menuju kelasnya sendiri.
"Kakak noh suka lari-lari" cibir Cahaya melirik kearah kakak sulungnya.
"Aku diem, janji" ucapnya lantang.
"Bagus, Nanti istrirahat Abang tunggu di taman ya, kita makan sama sama lagi"
Ketiganya mengangguk bersamaan, Langit keluar dengan sesekali menengoknya ke arah belakang, namun belum sampai depan pintu ia kembali membalikkan tubuhnya, berjalan kearah Cahaya yang duduk sendiri.
"Duduk diem diem ya, jangan banyak gerak nanti adek capek, cukup perhatikan yang ibu guru terangkan, Ok" ujar langit yang duduk di sisi Cahaya sambil mengelus pucuk kepalanya.
"Iya, Abang!" sahutnya dengan senyum manis.
***
Di dalam ruangan kerja Reza, sudah ada Viana yang berdiri di depannya dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia tak berani menatap mata bos besarnya yang terlihat kecewa dengan keputusannya yang mendadak.
" Kenapa harus resign sih, Vi?" tanya Reza sambil mendesah kesal.
"Mendadak banget, kamu tau bulan ini lagi banyak kerjaan"
Viana masih menunduk, pernikahannya yang berjalan empat tahun membuatnya ingin benar-benar melakukan program hamil secara serius.
"Maafkan saya sekali lagi"
"Kamu tau, kamu itu sekertaris terbaik saya, kamu gak pernah punya masalah, kalau begini bisa gantung diri saya di pohon toge!" dengus Reza sebal
Viana yang mendengar ucapan terakhir Reza pun tak kuasa menahan senyumnya.
"Jangan dulu resign sebelum ada gantinya yang mirip kaya kamu, paham!" ancam Reza.
"Baik, pak!" jawab Viana, kemudian ia berpamitan Keluar ruang presiden direktur nya.
Reza membuka jas dan melonggarkan dasinya, jika tak ada Viana sudah pasti ia tidak akan bisa pulang kantor tepat waktu. ketiga asisten pribadinya sudah mempunyai tugas masing-masing.
__ADS_1
Reza memang sangat menyayangi Viana layaknya adik sendiri, jadi bukan hal yang aneh jika Viana sering mendengar hal konyol dari atasannya itu.
CEKLEK..
"Hallo teman!" sapa Ardi yang tiba tiba datang tanpa mengetuk pintu lebih dulu seperti biasanya.
"Mau ngapain Lo?"
"Mumet amat, kenapa?, lagi nyoblos di ganggu lagi ya, hahaha" ejek Ardi yang duduk di depan meja kerja Reza.
"Sialan Lo!" Reza melempar tutup ballpoint nya tepat di wajah sahabat nya itu.
"Gue kesini ada perlu nih" kata Ardi mulai serius.
"Emang biasanya gitu kan?, inget gue ada perlu doang, basi banget laga Lo!" sungut Reza semakin kesal.
"Gue serius, bro" kekehnya malu-malu.
"Apa, butuh dana?" ejek Reza.
"Sepupu istri gue lagi butuh kerjaan, ada gak?"
Reza mencondongkan tubuhnya mendekat pada Ardi sambil menjentikkan jarinya.
"Lo datang di saat yang tepat!!!"
.
.
.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Abang sayang siapa yang punya?
Tentu othor yang punya 🤭🤭
__ADS_1