
π»π»π»
Tok..tok..tok..
CEKLEK
"Mah..."
"Udah ada kabar dari Reza?" tanya mama sambil melangkah mendekat.
"Nanti jam lima kerumah sakit, jam tiga mas Reza udah pulang"
"Moga hasilnya bagus, Chaca cepet sembuh" lirih wanita paruh baya itu.
"Mah, apa itu penyakit turunan ya?" tanya Melisa.
"Menurut Rissa sih begitu, tapi papa gak punya penyakit jantung, apa mungkin itu dari ayahmu?"
Melisa mengernyitkan dahinya, Ayah.
"Aku gak pernah tau dan kenal, Mah" sahutnya langsung menunduk.
"Sudah..sudah, yang penting Chaca Udah di izinkan pulang walau harus berobat jalan gak apa-apa, mama masih bersyukur karna Chaca bisa berkumpul dengan saudara-saudaranya dirumah, bagaimanapun ikatan bathin mereka kuat mungkin jika bersama itu akan mempermudah penyembuhannya" Tutur mama menasehati sambil merangkul bahu menantunya itu yang sudah menitikan air mata.
"Aamiin, Mah"
"Kamu mau apa?, biar mama bawakan kemari cemilan untukmu" tawar mama.
"Gak usah, Mah. itu aja masih banyak banget" kekeh Melisa sambil menunjuk meja bulat dekat ranjangnya tempat berbagai macam cemilan tersedia.
"Bilang ya kalau butuh sesuatu"
Melisa hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian memeluk mama yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Anak anak rewel gak?, siang nanti Ncus dateng kesini kalian ngobrol lah dulu jangan sungkan kali kamu kurang nyaman ya sayang"
"Kenapa banyak banget sih, Mah?" tanya Melisa.
"Satu bayi, satu Ncus, kenapa?" mama balik bertanya.
"Kebanyakan, mah" sahut Melisa, sungguh ini terlalu berlebihan.
"Gak apa-apa, makin besar makin repot loh, sekarang aja mereka cuma tidur lihat aja sebulan kemudian" kekeh Mama.
Melisa tersenyum simpul, ia membayangkan tingkah buah hatinya kelak jika beranjak besar.
"Jangan lupa urus suamimu, itu yang penting" pesan mama dengan sorot mata serius.
"Iya, Mah" sahutnya sambil mengangguk tanda paham.
***
Waktu yang di nanti tiba, pukul tiga lewat delapan menit Reza datang dengan membawa eskrim pesanan istrinya yang di minta lewat sambungan telepon tadi siang.
Dengan langkah cepat ia menaiki tangga menuju lantai atas kamarnya berada.
Terdengar suara tangis baby Ay yang sangat melengking sampai Keluar kamar membuat Reza tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Reza langsung membuka pintu, terlihat Melisa sedang duduk bersandar di punggung ranjang sambil menyusui Ay yang masih menangis.
"Kenapa?, gak mau nyusu?" tanya Reza setelah mencuci tangannya lebih dulu lalu meletakan ice cream ke lemari pendingin.
"Aku nya sakit, Mas" kata Melisa dengan mata berkaca-kaca.
"Ya ampun, ko gini?"
__ADS_1
Reza menghapus air mata di kedua pipi istrinya karna menahan sakit di bagian pucuk pu Ting yang terluka.
"Kayanya Rissa kasih obat salep mana ya?" ucap Reza langsung bangun dari duduknya dan bergegas ke kotak obat diatas meja rias istrinya.
"Dokter Rissa kasih?"
"Iya, katanya kalau luka suruh di olesin" sahut Reza masih sibuk mencari.
"Gak akan kenapa kenapa nantinya gitu?, kan bakal di hisap baby-nya" tanya Melisa sambil mengernyitkan dahinya.
"Ini recommend dari dokter, pasti aman, atau kamu mau yang alami?"
"Kalo ada yang alami, aku mau" kata Melisa polos.
"Sini aku yang obatin, kalau kamu yang alami, ckck" goda Reza sambil membuka tutup salep.
"Ish, apa an sih"
Reza masih berusaha menenangkan Ay sedangkan Melisa mengolesi salep berbentuk gel pada pucuk payu dara nya yang luka dengan sangat hati hati karna rasa Perih yang teramat sangat.
Kini baby Bu yang merengek karna tidur lelapnya terganggu dengan jeritan Ay yang luar biasa memekakkan telinga orang yang mendengarnya.
"Udah dong, Kak. Dedenya bangun tuh denger Kamu nangis kejer gini" kata Reza sambil terus menimang.
"Sini, Mas biar aku susui sekalian berdua"
"Yakin bisa?"
"Kan udah di ajarin, mas Reza mandi sana udah sore kita mau jemput Chaca loh"
"Iya sayang"
***
"Tadi gimana sama Ncus, Ra?" tanya Reza di mobil saat perjalanan menuju rumah sakit.
"Cocok gak sama kamu?, kalo kamu gak cocok kita bisa ganti yang lain" ujar Reza yang masih fokus memutar stir mobilnya.
"Masih biasa aja, kan belum ngurus anak anak juga jadi aku belum tahu cara mereka ngasuh Ay Bu juga Chaca nanti" sahutnya santai sembari melempar pandangan lurus ke depan membayangkan gadis cantiknya yang akan ia bawa pulang hari ini.
Sampai di lobby rumah sakit keduanya langsung masuk beriringan, Reza menuntun tangan sang istri sampai ke lift menuju ruang praktek dokter Rissa.
TRIIIIING
Kotak besi itupun akhirnya terbuka lebar menandakan mereka sampai di lantai yang di tuju, dengan langkah santai keduanya kini sampai di depan ruangan praktek dokter Rissa, tanpa mengetuk lebih dulu Reza langsung membuka pintu bercat putih itu kemudian masuk bersama sang istri.
"Holla jelek" sapa Reza sambil menarik kursi depan meja.
"Sopan banget sih Lo" dengus Rissa kesal.
"Gimana? Bisa kan hari ini?" tanya Reza langsung tanpa basa basi lagi
"Sore Dok" sapa Melisa.
"Sore juga, Mel. gak sabar ya pengen bawa pulang si cantik?" goda Rissa yang membuat Melisa tersenyum simpul, ia memang tak bisa menyembunyikan perasaan tak sabarnya itu, ia hanya ingin anak anaknya berkumpul sebagaimana seperti dalam kandungan nya selama sembilan bulan kemarin.
"Tunggu ya, nanti aku suruh perawat buat bawa kemari"
"Iya makasih ya, Dok" balas Melisa.
TOK TOK TOK
"Masuk" titah dokter Rissa yang ternyata seorang suster yang datang membawa bayi mungil.
"Ini nih princess nya Rahardian" seloroh Rissa sambil meraih Baby Cha dari tangan suster.
__ADS_1
"Mau pulang ya sayang, mau ketemu sama Abang Abang" kekeh Rissa lagi membuat Reza memanyunkan bibirnya..
"Abang Ketoprak sama Abang es Doger maksud Lo?" sungut Reza kesal.
"Hahaha, bukan gue ya yang ngomong" ledek Rissa.
"Coba kamu susui dulu, Mel" titah Rissa sambil menyerahkan Chaca pada ibunya.
Dengan mata berkaca-kaca ia raih bayi mungilnya, didekapnya dengan sangat hangat untuk menumpahkan kerinduannya.
Lelehan air matanya membuat sang suami tak kuasa ikut terharu, Kini Melisa dan Chaca sudah masuk kedalam dekapan Reza.
"Sabar sayang, kita pulang sama sama" ucap Reza sambil menciumi pucuk kepala istrinya.
"Chaca pulang ya hari ini, ketemu sama kakak Ay juga kakak Bu" kata Reza setelah mencium pipi mulus kemerahan anak bungsunya.
"Bibirnya biru, Mas" lirih Melisa di sela Isak tangisnya.
"Iya, nanti juga enggak" jawab Reza mencoba menenangkan.
Kini reza sudah duduk berhadapan dengan Rissa di meja kerjanya, membahas tentang kepulangan Chaca, beserta cara merawatnya kelak dirumah dan rawat jalan nya yang harus di lakukan secara rutin di rumah sakit.
Sedangkan Melisa masih berusaha menyusu baby-nya meski harus bersusah payah karna Chaca belum terbiasa.
"Ayo sayang, dikit lagi" ujar Melisa terus menyodorkan wadah ASI alaminya ke mulut mungil si bungsu walau ia juga masih merasakan rasa perih yang luar biasa.
Sepuluh menit berlalu akhirnya Chaca mau menyusu walau masih sulit untuknya namun Melisa dengan sabar memberi arahan membuat Reza sangat terharu dengan sikap sang istri yang sangat Keibuan.
"Gimana udah bisa belum?" tanya Rissa setelah pembahasannya selesai dengan Reza.
"Udah nih bisa sedikit sedikit" sahut Melisa dengan mata masih fokus kearah Chaca.
"Wah, pinter ya" seloroh Rissa sambil mengusap lembut kepala baby Cha.
"Habis ini, kamu yang di periksa ya, aku mau lihat lukamu"
"Iya, dok" jawabnya singkat sambil meringis.
Cukup lama baby Cha menyusu hingga lebih dari tiga puluh menit secara bergantian antara kanan dan kiri, ia sepertinya sudah mulai terbiasa dan nyaman malah membuatnya sulit lepas.
"Udah kenyang, gitu?" kata Melisa pada Chaca saat bayi itu melepasnya dengan cepat.
"Udah, Mel?" tanya Rissa.
"Iya, dok, udah kenyang kayanya, sebentar lagi tidur nih udah ngantuk berat" kekeh Melisa pada si bungsu yang sudah dua kali menguap.
"Ok, aku bawa lagi ya ke boxnya biar nyaman, setelah kamu periksa kalian baru bisa langsung pulang" ujar Rissa sambil menyerahkan baby-nya pada suster.
"Ayo berbaring" titah si dokter cantik.
Melisa menurut, ia rebah kan tubuhnya di brankar pasien lalu menyibakkan baju atasannya sedikit.
"Ok, cukup" kata Rissa saat sudah terlihat bekas sayatan di bagian bawah perut Melisa.
"Udah bagus ko' lukanya asal jangan angkat barang berat ya.. hindari menarik sesuatu dengan keras juga, pokonya jangan ngapa-ngapain dulu" titah Rissa memberi penjelasan yang hanya di balas anggukan oleh Melisa.
"Mas Reza kenapa?" tanya Melisa bingung sebab melihat suaminya hanya diam tanpa berkomentar.
"Gak apa-apa, Ra. Aku liat jidatnya aja udah cenat cenut gimana kalo aku liat bibirnya"
ππππππ
Jidatnya jenong gak bang, kaya ikan lohan πππ... puasa bang ingetπ€π€.. jangan coba coba liat makin bawah ke bibirππ..
pentungan aman kan? ππ
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈβ€οΈβ€οΈ