
🌻🌻🌻🌻
Semenjak kejadian Cahaya tak sadarkah diri, acara jalan-jalan dibatalkan sampai keadaan si bungsu benar-benar membaik, tentu itu membuat Air menjadi semakin pecicilan dirumah ada saja tingkahnya yang membuat Melisa berteriak hingga akhirnya ia selalu mendapat hukuman dari Reza.
Seperti hari ini misalanya, Remaja tampan itu harus ikhlas saat papanya menghukum ia naik ke atas pohon untuk membungkus beberapa buah mangga yang hampir matang.
"Pah, kakak mau turun" teriaknya dari atas pohon sedangkan kedua orangtua dan adiknya berada di bawah menikmati salad buah yang baru saja Melisa buat.
"Diem disitu, gak usah turun" seru Reza sambil mendongakkan wajahnya ke atas pohon.
"Mas, udah dong, kakak suruh turun" pinta Melisa pada Suaminya karna si sulung sudah lebih dari satu jam di atas pohon.
"Pusing aku, Ra dia gak mau diem banget, kan kalo di atas begitu diem tuh" tunjuknya pada Si sulung.
Melisa memukul bahu suaminya dengan sendok sampai pria itu mengaduh Karna kaget.
"Anak aku itu, Mas!"
"Anak kita sayang, kan bikinnya berdua" ucapan Reza membuat kedua anaknya yang lain saling pandang.
"Maaaaaaah, aku sisain saladnya" Lagi-lagi ia berteriak.
"Iya sayang, nih buat kakak yang paling banyak"
Reza hanya terkekeh melihat Air duduk di salah satu batang pohon sambil memanyunkan bibirnya yang merah sambil menggerutu kesal.
Dan kedatangan Langit usai mengantar mang Ojo dari pasar seolah menjadi angin segar untuk Air, ia akan merengek minta tolong pada Abang angkatnya itu.
"Bang, kakak laper tauuuuuuuuu"
Semuanya menoleh ke atas secara bersamaan, termasuk Langit yang terkejut saat melihat adiknya berada di atas pohon.
__ADS_1
"Kakak ngapain?" tanya Langit sambil mendekat ke arah pohon.
"Papa jahat, Bang!"
Langit menoleh kearah Reza dan Melisa meminta jawaban, Karna ia tak tahu alasan kenapa si sulung bisa ada diatas pohon mangga.
"Adek kamu tuh, pecicilan banget sampe Buna teriak teriak terus" jawab Reza seakan tau apa yang di ingin di tanyakan Langit.
"Papa nyuruh kakak mindahin air danau, bang" Dengan wajah menyedihkan Air lagi-lagi mengadukan kelakuan papanya.
"Kan papa tanya, mau mindahin air danau apa manjat pohon?, kan kakak sendiri yang milih"
Air mendengus kesal sambil mengayunkan kakinya,
Tak ada pilihan yang menurutnya menguntungkan
Langit mengambil satu bungkus kue yang ia bawa dari pasar tadi, memanjat pohon kemudian duduk bersebelahan dengan adiknya, Air langsung memeluk Langit karna senangnya.
"Tuh anak kamu emang nyebelin!" bisik Reza di telinga Melisa sambil menunjuk ke arah Langit.
"Abang itu terbaik, Pah" protes Cahaya yang mendengar ucapan papanya.
"Hem, bener... Abang mana tega sama kakak" timpal Melisa dengan senyum menyindir pada suaminya.
"Hei.. hei.. kalian ini malah belain Abang dari pada papa sih"
"Bu.. papa atau Abang yang terbaik?" tanya Reza saat merasa tersudutkan oleh kedua wanitanya.
"Tergantung!! siapa yang lebih menguntungkan untukku"
Reza mengangguk sambil mengacungkan dua ibu jarinya kearah si tengah.
__ADS_1
"Calon Presdir terbaik nih"
Melisa mengusap punggung suaminya, berkata pelan memberi pengertian.
"Biarkan mereka menjadi apa yang mereka ingin, Air bumi Cahaya juga Langit punya kriteria sendiri, jadi boleh ya kakak turun sekarang?" Pintanya dengan lembut sambil mengedipkan satu matanya.
"Boleh, boleh banget, Ra" jawab Reza sambil tersenyum menyeringai.
Ia menyuruh Air dan langit untuk turun dari atas pohon, memberikan kunci mobilnya pada Langit
.
.
.
.
.
Jalan jalan sana.....
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Jangan pulang dulu ya cebong 😂😂😂
Tuh gajah lagi ngasih kode gak mau ganggu 🤭
Like komen nya yuk ramai kan
__ADS_1