
Kepulangan Langit tentu menjadi hal yang paling di nanti oleh Cahaya, putri bungsu dan cucu satu-satunya Rahardian Wijaya.
Empat hari tanpa bertemu pujaan hatinya membuat kesehatannya sedikit drop meski tak harus masuk rumah sakit seperti biasanya, Cukup Langit berjanji akan pulang tepat waktu itu sudah membuat Cahaya jauh lebih tenang dan akhirnya membaik.
Ketergantungannya itulah yang menjadi beban pikiran Reza dan Melisa.
"Adek gak bisa jauh dari Abang, mas"
Perdebatan masih terjadi meski mereka sudah kembali ke apartemen.
"Kita belum tahu hari esok, Ra. jangan menakutkan hal yang belum terjadi" pinta Reza sambil memijit pelipisnya.
"Aku akan minta Abang buat nikahin Adek secepatnya, Adek jauh lebih butuh Abang dibandingkan aku atau pun Diana, Mas." Wanita itu kembali panik.
"Kita bicarakan itu nanti, Ra. Aku mau tidur"
Reza Meringsek naik ke atas ranjang, kepalanya berdenyut seakan seperti bom yang hampir saja meledak.
Sang putri tentu segalanya bagi Reza. Jangankan orang lain, seekor nyamuk pun harus mati jika berani menggigit anak bungsunya itu.
.
.
.
.
"Gak telat makan kan selama gak ada Abang?" tanya Langit saat keduanya sedang berada di salah satu mall terbesar di ibu kota, Langit mengganti liburannya yang gagal karna kepergiannya yang mendadak.
__ADS_1
"Enggak, kan Abang selalu video call saat waktunya aku makan" jelas gadis kecilnya, Cahaya akan selalu dianggapnya seperti itu meski kini ia sudah berusia dua puluh tahun.
Dua puluh tahun keduanya bersama saling menjaga hati dan raga, saling melengkapi dan setia tapi apakah hubungan itu akan selalu sama jika Langit harus membagi hatinya lagi untuk ibu kandungnya?
Suka tak suka mau tak mau kini ada rasa sayang untuk wanita yang sudah melahirkannya itu, ada perhatian yang harus ia beri pada wanita yang sudah menyusuinya selama dua tahun lamanya.
Ia wajib membagi rasa yang dulu hanya ia beri pada Cahaya dan Melisa.
"Dek,. nanti ada saatnya kamu harus kenal seseorang yang kamu harus hargai dan hormati, mau?" pinta Langit mulai serius saat keduanya usai makan malam.
Cahaya mengernyit kan dahinya bingung, ia tak paham dengan yang di maksud dan di inginkan Langit.
"Kenal siapa?" tanya si bungsu.
"Seseorang, dan kamu akan tau nanti ya sayang" Langit mengusap lembut kepala calon istrinya itu.
"Kenapa harus nanti? sekarang aja"
Langit tertawa, ia tahu betul dengan sifat tak sabar Cahaya yang terbiasa semua langsung ada saat ia baru saja selesai berucap atau meminta sesuatu.
"Abang mau kenalin siapa sih?, Abang dapet cewe baru ya selama tinggalin aku?" cecar Cahaya yang dibuat semakin penasaran.
"Hahaha, pikiran kamu tuh kejauhan. Cewe mana yang mau sama Pria yang hatinya udah cinta mati sama satu perempuan?" jawab Langit sambil tertawa, ia begitu gemas dengan raut wajah gadis kecilnya itu yang sangat lucu jika sedang Kebingungan tak mendapat jawaban dari pertanyaannya sendiri.
"Adek gak mau Sabar nunggu nanti, ayo sekarang aja" Cahaya bangun dari duduknya sambil menarik tangan Langit agar ikut bangun juga sepertinya.
"kemana sayang?" Goda pria berusia dua puluh empat tahun itu.
"Menemui orang yang Abang bilang, aku mau sekarang aja, dimana dia?" tanyanya ketus, Langit yakin jika Cahaya sedang berfikir hal buruk tentang perkataannya tadi
"Nanti sayang, bukan sekarang!"
__ADS_1
"Aku maunya sekarang, Bang!" rengek Cahaya memaksa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kalo sekarang kita ketemu pak penghulu aja yuk di
K.U.A
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Cie Abang ,🤭🤭🤭🤭
Gue yang baper sih..😋😋
__ADS_1
kan jadi pengen cium calon mertuanya wkwk 😂😂
like komen nya yuk ramai kan ❤️