Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 233


__ADS_3

🌻🌻🌻


"Kita mau kemana, Pah?" tanya Ay saat memasuki kotak besi yang akan membawanya ke lobby apartemen.


"Kita mau jajan, kak!" jawab Reza santai.


"Iya, jajan apa?" Tanya Ay lagi penasaran.


.


.


.


.


.


" Jajan mobil baru!!!"


Air langsung mendongakkan wajahnya kearah Reza yang jauh lebih tinggi darinya, tatapan bingung terlihat jelas di kedua manik bocah tampan tersebut.


"Mobilan kakak udah banyak, Pah!"


"Beli mobilan buat papah, kak" ucap Reza sambil menuntun tangan mungil si sulung.


kini keduanya sudah berada di dalam mobil, Reza mulai menyalakan mesinnya kemudian menjalankan kereta besi itu untuk membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai lancar.


"Pah, nanti beliin Bumi tayo ya" pinta Air.


"Kakak mau beli apa?" tanya Reza sambil terus memutar stir mobilnya.


"Kakak beliin motor besar aja, haha"


Reza Langsung menoleh kearah si sulung yang masih tertawa.


"Buat apa motor besar?" Reza bertanya lagi, kali ini dengan nada serius.


"Buat balap balap dong, pake helm keren, Pah" Jawab Air dengan antusiasnya.


Reza langsung diam tak menanggapi lagi ucapan si sulung, hatinya langsung gelisah tak menentu.


Arah mobilnya langsung ia belokkan ke sebuah showroom besar dengan merk mobil ternama.


"Yuk, turun ,kak" ajak Reza sambil melepas setbelt nya dan setbelt putranya.


"Ok, papa"


Keduanya masuk kedalam showroom melewati pintu kaca besar, sudah ada dua orang berpakaian rapih yang ternyata tengah menunggu kedatangannya.


"Selamat sore, pak" sapa pria pertama dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


"Sore" jawab Reza sopan dan ramah.


"Mari, pak. saya perlihatkan mobilnya" Ajak si pria itu mempersilahkan Reza lebih dulu berjalan.


"Kakak mau yang mana mobilnya?" tanya Reza pada si sulung saat langkahnya berhenti di tiga mobil mewah keluaran baru yang tentunya limited edition.


"Kakak mau motor, Pah!" jawabnya keukeh.


"Iya, nanti kalau udah besar, hari ini pilih mobil dulu ya buat anter kakak sama adek sekolah" kata Reza yang kemudian berjongkok dihadapan Air agar sejajar dengan putranya itu.


"Yang itu!" Tunjuk nya lurus pada sebuah mobil mewah keluaran terbaru berwarna biru Dongker.


"Tapi kakak mau warna kuning, ada?" pintanya polos membuat orang-orang di sekelilingnya menahan senyum.


"Ish, gak banget sih kak, pengen kuning!" sahut Reza dengan tatapan malas.


"Bagus loh, pah!" balasnya dengan senyum menggoda.


"Saya mau itu aja" unjuk Reza pada mobil pilihan anaknya.


Setelah itu keduanya duduk di sofa yang terletak di sisi tengah gedung tersebut.


Reza menadatangani beberapa kertas lalu menyerahkan sebuah card pada pria tadi.


Lima menit kemudian kunci mobil barunya pun kini sudah ada di tangannya.


"Yuk, pulang" ajak Reza pada anaknya yang masih sibuk membolak balik kan sebuah buku berisi gambar gambar mobil.


"Jadi kan kalo kakak besar nanti di beliin motor, Pah?" tanya Air memastikan kebenaran janji papanya.


"Ok, papa ganteng" kekehnya.


"Eh, gantengan kakak, tapi.. Haha"


Reza tersenyum simpul melihat sikap si sulung yang selalu menggemaskan.


Didalam mobil barunya, ia mencoba merogoh saku celana yang di kenakan nya, meraih benda pipi yang tersimpan disana


"Gak ada nanyain aku sih, Ra!" gumamnya saat mengecek ponselnya yang ternyata tak ada satupun pesan dari KHUMAIRAHnya.


"Aku yang ngambek kok kamu yang gini sih" dengusnya kesal, lalu menaruh kembali ponselnya kedalam saku.


***


Makan malam kali ini semuanya duduk berkumpul di meja makan menunggu pesanan datang, Cahaya yang rewel Karna sempat terjatuh saat mandi membuat Melisa tak sempat menyiapkan apapun.


Suara bel berbunyi, dengan sigap Langit langsung bangun menuju pintu utama.


"Bisa gak bang?" teriak Melisa dari arah ruang makan.


"Bisa Bun" sahutnya sambil berjalan setelah menutup pintu.

__ADS_1


"Banyak banget?" tanya Melisa yang terkejut saat Langit menaruh semua bungkusan diatas meja makan.


"Biar pada kenyang" Jawab Reza santai dengan tangan membuka satu persatu bungkusan tersebut.


Melisa menghembuskan nafasnya pelan, Kelakuan suaminya yang tak pernah berubah jika membeli makanan selalu dalam porsi banyak dan beraneka ragam.


" jangan di acak-acak, kalau gak habis nanti bisa di bawa Bu Siti pulang kerumahnya" pesan Melisa pada ke empat anaknya.


Usai menyantap makan malam dengan celoteh polos ketiga buah hatinya kini tinggal Melisa yang sibuk membereskan sisanya, memilih mana yang belum tersentuh untuk di bawa oleh Asisten rumah tangga nya.


"Bi, Udah aku beresin, di bawa ya buat Salwa dirumah" kata Melisa sambil menyodorkan plastik merah berisi dua kotak makanan.


"Terima kasih,, Bu" Jawabnya saatnya menerima pemberian majikannya itu.


Setelah Bi Siti pulang dan dapur pun kembali bersih, kini Melisa pun ikut berkumpul dengan anak-anak ruang tv, Air yang sedang memperagakan aksi super Hero seperti yang di tayangkan di TV membuat Bumi akhirnya pindah duduk di dekat adik perempuannya yang sedang di sisiri rambutnya oleh Langit.


"Kak, pelan pelan dong" ujar Melisa saat melihat Air meloncat dari sofa.


"Kan mau injek musuh, mah" jawabnya dengan pedang di tangan.


"Hoby berantem tapi cengeng" ejek Reza sambil berlalu kearah dapur.


"Huaaaaaaaa, papah bilang kakak cengeng mah" Adu air yang berhambur memeluk pinggang Melisa.


"Udah jangan di denger kata papa" rayu Melisa sambil mengusap air mata anaknya


Reza yang mendengar tangisan anaknya malah tertawa di depan lemari pendingin sembari menegak minuman soda kaleng di tangannya.


"Minggir!"


Melisa mendorong tubuh suaminya agar tak menghalangi langkahnya.


"Emak emak galak banget"


Melisa langsung mendelik kan matanya kearah sang suami yang sedang pura pura tak melihatnya.


.


.


.


.


"Belom kan liat emak emak melintir belalai suami kaya Meres jemuran baju?"


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Tanduknya mulai keluar tuh bang 🤭🤭


Siap2 di pelintir sampe kriting 😂😂😂

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan ♥️



__ADS_2