
π»π»π»
"Raaaaa... ngapain sih?"
Reza terus saja menggedor pintu kamar mandi, Sudah lebih dari dua puluh menit Melisa tak juga keluar dari sana.
"Iya, apa sih berisik banget deh"
Melisa melewati suaminya seakan menghindar untuk menutupi raut wajahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Reza curiga, melihat istrinya memalingkan muka sungguh itu bukan kebiasaannya.
"Gak apa-apa, Mas Reza cepetan mandi sana udah siang" ucap Melisa sambil sibuk memilih baju untuk suaminya pakai hari ini.
"Kamu bohong, kenapa?"
Tangan kekarnya kini menahan bahu sang istri agar berhadapan dengannya, terlihat sisa kebasahan meski Melisa sudah mencuci mukanya sebelum keluar tadi.
"Aku gak apa-apa,Mas" ucapnya meyakinkan Reza.
"Lalu kenapa nangis?, ada masalah?" tanya Reza, kini tangannya mengusap perut istrinya.
"Gak, aku baik, anak kita baik" ucapnya dengan bibir bergetar.
Reza yang menyadari keresahan istrinya hanya bisa memeluknya dengan sangat erat, rasa khawatir jelas sangat ia rasakan kini.
"Aku panggil Rissa kesini ya?" ucapnya pelan, ia takut menyinggung sang istri.
__ADS_1
"Kan aku bilang gak apa-apa, mas Reza gak denger ya?" wanita hamil itupun marah, melepas pelukan suaminya dengan kasar lalu pergi keluar kamar dengan kesal.
Reza menghela nafas berat, ia duduk di tepi ranjang mengacak rambutnya frustasi.
Kandungan Melisa memang sedikit bermasalah meski bukan hal yang terlalu mengkhawatirkan namun tetap saja bagi keluarganya itu adalah hal yang harus segera di tangani secara medis, dan Melisa tak menyukainya karna rasa takut berlebih.
"Tumben turun sendiri?" tanya mama saat melihat menantunya datang tanpa sang putra.
"Masih dikamar belum mandi" sahut Melisa yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Kamu kenapa?" mama yang curiga akhirnya bertanya juga.
"Aku? aku gak apa-apa, Mah" balasnya dengan senyum dipaksakan.
Mama hanya mengangguk, ia mencoba percaya walau masih terselip keraguan.
"Siang ini, Za" jawab mama.
"Kita jemput ke bandara yuk, Ra" ajak Reza mencoba menghibur Melisa yang masih tampak masam.
"Aku mau dirumah aja nunggu papa, aku mau bikinin kue nanti" jawabnya ketus.
Lagi-lagi ia harus menarik nafas berat, Reza kembali menikmati roti bakar gandum menu sarapan favoritnya.
"Aku berangkat ya" pamit Reza pada istri dan mamanya, Ameera sedang tak ada dirumah kebiasaan baru anak remaja itu selalu ingin tinggal dirumah sepupunya.
"Hati hati dijalan, Nak" sahut mama setelah Reza mencium punggung tangannya.
__ADS_1
Melisa berjalan di belakang Reza, tak seperti biasanya yang selalu bergelayut manja di lengan sang suami.
"Kamu marah sama aku?" tanya Reza saat keduanya sudah berada di teras rumah.
"Gak!" jawabnya singkat.
"Aku minta maaf, aku sama khawatir nya kaya kamu,Ra aku cuma gak mau_"
"Aku gak apa apa" Melisa langsung memotong ucapan suaminya.
"Ok, KHUMAIRAH kuat, anak ku juga kuat!" kata Reza lalu memeluk istrinya lagi, kali ini Melisa membalas pelukannya, hatinya kini sudah sedikit lebih tenang.
"Aku berangkat ya, jangan terlalu lelah dirumah" pesan Reza yang selalu ia ucapkan setiap pagi sebelum berangkat ke kantor.
"Iya, mas Reza hati-hati dijalan, telepon aku jika sudah sampai ya"
"Iya, sayang"
Ritual CapCipCup pun mereka lakukan..
Reza bergegas masuk kedalam mobil, melajukan kereta besinya dengan kecepatan penuh, arahnya kini bukan ke kantor seperti apa yang ia katakan saat pamit pada istrinya.
"Maaf,Ra.. Izinkan aku berbohong padamu hari ini saja" lirihnya, sambil terus memutar stir mobilnya..
ππππππ
jewer nie ya, udah mau boong segala!!
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikanπ€