Suami Dadakan

Suami Dadakan
Akhir segalanya.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Aku tahu, apa ini waktunya kita berpamitan?"


"Mungkin" kekeh Reza, ia malah masih sempat sempatnya menggoda sang Khumairah padahal semua orang di sekitar mereka berdua sedang terisak sedih.


"Ucapkan apa yang ingin kamu katakan"


"Tidak, Mas. Kali ini aku hanya ingin menjadi pendengar. Akan ku buka dua telingaku lebar lebar untuk mendengarkan apa yang ingin kamu katakan, Sayang" balas Melisa yang malah mengeratkan pelukannya.


"Kenapa harus aku sendiri? kamu ingin aku seperti sedang berpidato di hadapan anak anak?"


Kekehan kecil pun mulai menggema ke seisi kamar. Rasa yang mereka rasakan tak bisa di gambarkan. Saat melihat pasangan baya itu diam dan terpejam rasa takut tentu langsung menyelimuti, tangis pun seolah tak bisa di bendung lagi.


Tapi, saat suara pelan itu mulai terdengar, hati pun merasa sedikit lega karna itu artinya mereka masih bernapas.

__ADS_1


"Kalian gak akan kemana-mana, janji pada kami" lirih Air, ia dan putranya adalah dua pria yang paling jelas terlihat takut, suara isak tangisnya begitu pilu membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut merasakan sedihnya.


Reza dan Melisa hanya melempar senyum, keduanya tak ingin berjanji saat di rasa mereka sudah berada di titik paling akhir kehidupan.


"Kalian lah yang harusnya berjanji pada kami, untuk tetap saling akur entah itu bersama saudara maupun pasangan. Jadikan istri-istri kalian sandaran ternyaman dan tempat untuk pulang. Muliakan mereka sebagai mana papa memuliakan mama dan Amma kalian" pesan Reza, derau air mata pun kembali runtuh di wajah semuanya yang mendengar kata kata Tuan besar Rahardian.


"Mama senang memiliki menantu seperti kalian. Hujan, Yayang, Biru, Ara dan....." ucap Melisa pelan, napasnya tak bisa panjang dan teratur lagi seperti kemarin kemarin. Sorot mata wanita tua berambut putih lurus itupun semakin teduh dan menyipit.


"Mah, mama tuh mama kami, Hujan dan yang lainnya cuma punya mama. Hujan mohon mah, jangan berkata seolah akan ada perpisahan"


"Puluhan tahun lalu kamu datang bersama putra sulung mama, kamu cantik dan tegas. Mama semakin suka padamu saat kamu bisa mengurus Air dengan sangat baik, Terima kasih ya, Nak" ucap Melisa saat menantu pertamanya itu menangis tergugu sedih.


"Iya, Mah." sahut Khayangan dengan lembut.


"Terimakasih atas segala pengorbananmu juga penatianmu pada Bumi. Kalian banyak melewati kerikil dan hantaman batu sebelum halal bersama. Mama akui sabarmu luar biasa"

__ADS_1


"Mama panutan ku, mama cermin rumah tangga ku saat menjadi istri putramu, Mah" balas Khayangan yang air matanya tak henti mengalir.


"Abang, Abang kamu peluk Buna?" Melisa melambaikan tangannya pada mantu bungsu laki-laki satu-satunya itu.


"Jangan membuatku cemburu hingga harus menjewer telinga anak itu, Ra" cetus Reza, Langit tetap menjadi saingan terberat pria itu selama ini karna dua wanita istimewanya jatuh ke dalam pelukan seorang Langit marvelio Biantara.


"Dia anak kesayanganku, Mas"


"Buna, peluk Abang terus kaya gini ya. Abang pengen tidur sambil di peluk, Boleh?" pintanya manja seperti saat Langit pertama kali bertemu dengan Melisa. Isakan tangisnya tak memancarkan ia adalah seorang PresDir Biantara Corp dan Rahardian Group.


"Boleh, memang Buna pernah nolak saat Abang lari ke pelukan Buna?" tanya Melisa.


"Engga, tangan Buna selalu siap buat peluk Abang." jawab Langit sambil menggeleng kan kepalanya. Hatinya bertambah perih saat Melisa mengusap kepalanya yang tenggelam di dada wanita itu.


.

__ADS_1


.


Buna sayang Abang, terimakasih sudah mau melengkapi hidup Buna selama ini.


__ADS_2