Suami Dadakan

Suami Dadakan
Extra bab 156


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Hujan bergeliat di balik selimut tebal tempat tidur calon suaminya, kasurnya begitu empuk dan nyaman sampai ia merasa tak ingin cepat bangun dari tidurnya.


Gadis itu mengerjapkan mata kemudian langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas sisi ranjang.


"Jam lima" gumamnya pelan sambil bangun badan bersandar di punggung ranjang.


Ia mengedarkan pandangannya ke seisi kamar milik Air, kamar yang begitu luas mungkin tiga kali lipat dari kamarnya sendiri dirumah bunda.


Ada kamar mandi di dalamnya lengkap dengan shower dan bathub untuk berendam, tentu itu yang ia impikan selama ini.


"Senyaman ini ya dikamar orang lain, dan ini kamar seorang cowok loh" kekeh Hujan, ia tak pernah menyangka tidur didalam kamar seorang pria dalam hidupnya.


TRIIIING..


Bunyi notifikasi pesan membuyarkan lamunan hujan Ia pun kembali meraih ponselnya yang tadi sudah ia letakkan di atas nakas setelah melihat jam pada layar benda pipih itu.


*Air


[ Pagi Jan Hujan deres yang takut petir ]


"Sialan nih orang!" umpat gadis itu.


*Hujan


[ Gak lucu, Aer comberan!!!! ]


drrrtttt... drrrrtttt... drrrttt


Hujan langsung mengangkat telepon dari Air saat ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk.


"Heh, Hujan deres! masih pagi udah bikin emosi" oceh Air tanpa basa-basi.


"Lo yang duluan, kenapa nyalahin gue" jawab Hujan ketus.

__ADS_1


"Tapi gak gitu juga kali!"


BRAAAAAKKKK...


Pintu kamar terbuka, Hujan langsung menoleh kearah suara dan terlihat disana sudah ada Air yang berdiri masih memegang ponselnya.


"Ini kenapa gak di kunci?" tanya Air pada Hujan. Ia yang tak berani mendekat hanya diam diambang pintu.


"Gak apa-apa" jawabnya masih santai bersandar.


"Kalo semalem gue khilaf lupa masuk kamar ini lagi gimana coba?"


******


Usai berdebat di depan pintu kamar keduanya memilih untuk turun ke lantai bawah menemui Melisa di dapur menyiapkan sarapan.


"Pagi, Mah" sapa Air sambil mencium pipi kanan wanita yang tengah sibuk memotong sayuran itu.


Sebuah pertunjukan yang mampu menghangatkan hati Hujan, ia tersenyum simpul saat calon mertuanya itu balik menggoda anak kesayangannya.


"Mah.."Sapa Hujan juga.


"Iya, Mah. nyenyak banget" sahutnya sambil meraih wadah berisi ayam yang baru di cuci


"Aku bantu ya?" tawar Hujan.


"Tentu, sayang" jawab Melisa sembari mengusap pipi mulus gadis itu.


Air yang melihat Hujan dan Melisa sudah nampak saling menerima pun hanya bisa tersenyum lega.


Setidaknya tak ada ganjalan dalam hatinya tentang hubungan yang sedang ia jalani.


"Eh, ada kak Hujan!" ucap Cahaya yang baru turun dari kamarnya.


"Wow..." Bumi yang ternyata dibelakang si bungsu pun ikut sedikit terkejut.

__ADS_1


"Apa?" tanya Air pada dua adiknya yang sedang saling pandang.


"Kapan kak Hujan kesini?" tanya Cahaya bingung.


"Semalam, kamu belum pulang sama Abang pas Kak Hujan datang" jelas Melisa. Dua anak lainnya sudah di biasakan Sedari awal untuk menyebut Hujan dengan sebutan kakak sebagaimana mereka memanggil Air meski gadis itu jelas lebih muda sedikit dari mereka.


"Oh, nginep?" ucap Chaca.


"Pantes kakak tidur sama aku!" timpal Bumi pada Air yang sedang menikmati raut wajah menahan malu calon istrinya itu.


"Kan semalem kakak udah bilang kalau ada Hujan" sahut Air.


"Ya aku kira Hujan beneran, kak. yang turun dari Langit" ucap Bumi.


.


.


.


.


.


.


.


Ini juga Hujan beneran, dek.


Dari mata turun ke hati...


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Kedip kak.

__ADS_1


tar tuh mata kelilipan tutup toples kepuruk loh 😂😂😂


LIKE komen nya yuk ramai kan ♥️


__ADS_2