
🌻🌻🌻🌻
Air duduk di tengah kolam yang sudah ia kuras hingga bersih, keringat sudah membanjiri tubuhnya yang tidak memakai baju.
Ia mendesah kesal saat melihat Bumi dan Langit justru asik bermain PlayStation sedangkan kedua orangtuanya entah apa yang di perbuat di dalam kamar sampai dua jam lamanya belum juga turun ke bawah..
"Abaaaaaaaang" terdengar suara Cahaya dari ujung tangga, pemuda tampan itu pun langsung melempar stik PSnya dan berlari menaiki tangga.
"Iya, Yank...."
"Woy, kedengaran papa di gantung tuh!"
Langit langsung menutup mulutnya saat sadar ia kelepasan memanggil Cahaya dengan sebutan Yank
"Itu pacaran apa maen petak umpet sih, ckckck"
Cahaya turun di papah oleh Langit menuju sofa depan TV, bosan sendirian di kamar membuat ia nekat keluar walau Reza sempat memohon agar putrinya itu diam di atas ranjang.
"Masih sakit ya?" tanya Langit pada Cahaya, gadis itu duduk Sofa sedangkan ia duduk di karpet sambil meniupi luka di lutut Chaca.
"Emang panas ya Bang di tiupin?" goda Air sambil tertawa, Air kadang merasa Langit terlalu memanjakan adiknya itu Sampai Cahaya sangat bergantung padanya.
Sikap lembut dan penyabar Langit memang luar biasa, tak pernah sekalipun pemuda itu berteriak pada si bungsu jika sedang merajuk manja.
Cahaya wanita kedua paling di agung kan olehnya setelah Melisa.
"Kakak nih, lututku jadi kaya gini kan" dengus cahaya kesal, gadis cantik itu tak suka tubuhnya terluka.
"Heh, itu lutut kalo gak bonyok mana mungkin tuh duduk berduaan gitu sama Abang!" cibir Ay pada adiknya.
"Oh, iya.. Abang jadi pulang kesini ya, kita makan bareng juga tadi di kamar" kekeh Cahaya dengan wajah imutnya sampai Langit reflek menciumi tangan Cahaya berkali kali.
__ADS_1
"Bu... kamu gak ngiler tuh liatnya?" goda Ay memanggil adiknya yang fokus pada layar Tv
"Aku masih di bawah umur, kak!" jawabnya singkat namun begitu menusuk ke jantung ketiganya.
"Njiiiiir,,, kalo ngomong gada filter, ckck" Sahut Air sambil menggelengkan kepalanya.
"Nyindir nya dalem banget, kak" Ujar Cahaya dengan mimik wajah di buat menyedihkan.
Bumi hanya menoleh sekilas lalu tersenyum kecil.
"Oh, kesindir?"
"Kakak sumpahin kamu bakal ngejar-ngejar cewek sampe ujung dunia, hahaha" Gelak tawa Air sampai terdengar ke kamar orangtuanya.
.
.
.
" Mereka lagi apa sih berisik banget?" tanya Melisa sambil meraih bajunya yang berserakan di lantai.
"Gak tau" jawab Reza yang hampir terlelap.
Melissa menghela nafasnya sambil melirik suaminya yang sudah mendengkur halus.
Permainan yang hampir memakan waktu empat puluh lima menit itu langsung membuat pria beranak tiga terkapar kelelahan.
Melisa tak pernah kuasa menolak setiap ajakan suaminya kapanpun dan dimana mereka sempat.
Baginya, senyum terbaik Reza adalah saat ia selesai melepas hasrat dan mendapatkan kepuasan darinya, bukan ia tak tahu dan tak pernah tahu jika sudah lumrah jika banyak pengusaha sering mempunyai simpanan di luar sana.
__ADS_1
Jika melihat Reza, tentu pria itu sedang berada di posisi semakin mapan dan matang.
Tak perlu menggoda karna sudah pasti wanita sendirilah yang akan mendekat padanya.
.
.
.
Reza bergeliat di balik selimut tebal yang di tutupi oleh istrinya sebelum beranjak turun menemui keempat anaknya.
Ia melirik kearah jam yang sudah menunjukan pukul empat sore.
Ia memaksa tubuhnya agar mau bangun untuk membersihkan diri sehabis berpiknik ria di tengah hari bolong di saat Bumi dan Langit sibuk main PS, Cahaya tidur siang dan si Ay tentu masih dalam masa hukuman walau ia terus merengek dan mengatakan.
.
.
.
.
Pah.. ikannya bisu.. cuma mangap mangap doang gada suaranya...!!!
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁***
Ini yang oleng..
Reza.. Air apa authornya ya?
__ADS_1
like komen nya yuk ramai kan ❤️😂