Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 161


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻


Kepergian Bumi dan Kahyangan dan kembalinya Reza serta Melisa ke kamar membuat Hujan merasa tak nyaman berdua dengan Air di dapur, keduanya masih duduk berdampingan meja makan.


"Gue mau pulang" pinta gadis berambut sebahu itu.


"Ngapain? emang bunda udah pulang?" tanya Air yang sibuk memainkan jari-jari lentik Hujan yang menurutnya sangat lucu.


"Katanya lagi di jalan, dua jam lagi sampe rumah" jawab Hujan, gadis itu sedang merasakan debaran jantung yang luar biasa dahsyatnya.


Air tak menjawab, ia diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Entah apa yang ada dalam pikiran pemuda itu yang jelas ia tak ingin mengabulkan keinginan Hujan yang masih berharap Air mau mengantarnya pulang malam ini.


"Ay..." panggil Hujan dengan begitu lembut tak seperti biasanya.


"Hmmm"


"Gue pulang ya" pintanya lagi.


Air menggelengkan kepalanya setelah menoleh dan saling menatap.


"Besok gue anter Lo pulang, malam ini tetep nginep dan tidur di kamar gue, Ngerti!" ucapnya tak ingin di bantah.


Hujan bergeming, ia ingin menolak tapi hatinya terlalu takut untuk mengatakan tidak saat tatapan mereka saling bertemu, mata itu begitu tajam menyorot.


"Pagi banget ya, banyak yang harus kita siapin buat pernikahan ini"


"Iya, bawel!" sahut Air sambil bangun dari duduknya dan menarik tangan Hujan.


"Yuk, tidur!" ajaknya kemudian.


Keduanya naik secara bersamaan menuju kamar si sulung dilantai atas, Air sempat menoleh sejenak ke kamar adiknya untuk melihat kondisi Cahaya.


.


.


.

__ADS_1


"Bang..." panggil Air pelan.


Senyum tersungging di sudut bibirnya saat melihat Langit dan Cahaya tengah terlelap dengan tangan saling menggenggam.


"Udah pada tidur ternyata" gumamnya pelan sambil kembali keluar, Hujan yang hanya mengekor di belakang Air tak begitu banyak bertanya.


CEKLEK..


Pintu ia buka dengan lebar lalu mendudukkan Hujan di tepi ranjang miliknya sedangkan ia duduk di kursi meja belajar.


"Betah gak?" tanya Air dengan tangan menyentuh dagu gadisnya.


"Apa?" Hujan justru bertanya dengan polosnya.


"Kalo tinggal disini Lo kira-kira betah gak?"


Hujan mengernyitkan dahinya, satu hal yang sepertinya ia lupakan selama ini.


Gadis cantik itu tak menjawab hanya diam bergeming sambil berpikir.


"Kita gak mungkin tinggal dirumah Bunda, bukan gak mau, tapi--_" Air menarik nafasnya dalam-dalam.


"Gue mau Lo yang ikut gue disini" pinta Air, pemuda itu mengusap pipi lembut Calon istrinya.


"Kita baru masuk kuliah, awal tahun ini kayanya bakal sibuk banget, apalagi Lo yang hampir setiap hari jadi gak apa-apa lah kita tinggal disini ya" tambahnya lagi.


"Tapi kalo gue pengen ke Bunda gimana?"


"Ya kesana lah, nanti gantian juga nginep di rumah bunda buat temenin" jawab Air meyakinkan.


"Janji?, gak akan larang gue buat pulang?"


"Iya, asal Lo izin ke gue baik-baik, jangan pernah pergi tanpa gue tau, Paham!"


Hujan mengangguk dengan senyum kecil di ujung bibirnya membuat Air entah kenapa begitu gemas melihatnya.


"Ya udah sekarang Lo tidur ya, gue mau balik ke kamar Bumi. Tar pagi abis sarapan gue mau anter Lo pulang soalnya besok juga gue banyak urusan"

__ADS_1


Hujan akhirnya meringsek ketengah kasur setelah menyibakkan selimut tebalnya, kini tubuh langsingnya sudah berada di balik selimut tersebut.


"Tidur ya, dan wajib mimpiin gue" kekeh Air sambil mencium kening Hujan yang membuat gadis itu tersentak kaget.


" Ya, Lo juga langsung istirahat" balas Hujan dengan wajah merah meronanya.


"Hahaha, iyalah jangan sampe aja gue ikut ketiduran disini" ucap Air.


"Emang kenapa kalo ketiduran di sini?" tanya Hujan.


"Ya gak apa-apa, takut khilaf aja" kekehnya.


"Lo mau gue tendang sampe jatuh ke lantai?" goda Air sambil tergelak dan Hujan langsung memanyunkan bibirnya.


"Gue percaya Lo gak akan macem macem sama gue, iya kan?" ujar Hujan dengan percaya diri.


.


.


.


.


.


.


.


Cih... siapa bilang?


Kalo Lo nya ngasih ya tentu gue bakal macem-macem!!


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Tahan kak.. nanti Mak jewer ya! 🙄🙄🙄🙄

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan ♥️


__ADS_2