
🌻🌻🌻🌻🌻
Diana yang baru saja sadarkan diri masih terlihat begitu lemas dan itu membuat Langit tak sedetikpun meninggalkan wanita yang katanya ibu kandungnya itu.
Ia belum mendengar cerita apapun dari Diana, ia hanya percaya apa yang dikatakan Reza padanya karna ia tahu jika pria yang telah membesarkannya selama dua puluh tahun itu tak pernah membohonginya.
Dan ia rasa ini juga bukan sebuah lelucon yang dimainkan Reza dan Diana untuknya.
"Bu.. mau makan lagi?" tanya Langit yang sedari tadi duduk disisi Diana.
"Enggak" jawabnya dengan ragu, begitu banyak yang ingin ia sampaikan tapi lidahnya begitu kelu dan berat.
"Aku bingung mau panggil apa?" ucap Langit sambil menunduk.
"Saat kamu kecil dulu, kamu panggilnya Mami" jawab Diana sambil tersenyum.
"Mami?" Langit menautkan Kedua alisnya kemudian tersenyum kecil.
" Baiklah, Mami..." ia mengulang kata itu.
Diana menitikan air matanya, ini panggilan pertama untuknya setelah dua puluh tahun berpisah dari putra semata wayangnya itu.
Ia sungguh terharu, ini adalah hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, Sudah bisa melihat Langit dari jauh saja sudah membuat ia cukup senang.
"Terima kasih, kamu mau terima mami lagi"
" Iya, sama-sama, Langit mohon mami cepet sembuh ya karna nanti Langit akan kenalkan mami dengan calon istri Langit" pinta pria berusia dua puluh empat tahun itu.
"Iya sayang, itu pasti. mami akan sehat demi kamu, mami ingin lihat kamu bahagia"
__ADS_1
Obrolan keduanya terhenti saat mendengar suara pintu terbuka, dan Langit langsung menoleh lalu tersenyum.
"Bang, kita pulang ya" ajak Melisa, ia masih memaksa Langit untuk pulang bersamanya.
"Sekarang?" tanya Langit, ia melirik kearah ibu kandungnya.
"Kenapa?, gak mau pulang sama Buna?"
Langit menggelengkan kepalanya cepat.
"Enggak gitu, Bun" elaknya tak enak hati saat melihat raut wajah dingin ibu angkatnya.
Reza mengusap tengkuknya, Melisa kembali ke sikap awalnya meski sudah diberi pengertian.
"Bisa kita bicara berdua?" pinta Diana pada Melisa.
Melisa menoleh kearah Reza, Suaminya mengangguk meminta sang istri untuk menyetujui keinginan Diana.
Diana tersenyum senang, begitu pun dengan Langit dan Reza. keduanya ditinggalkan berdua untuk lebih nyaman mengobrol sebagai sesama wanita yang menyayangi Langit.
"Terimakasih banyak sudah menjaga dan merawat Langit sampai detik ini" ucap Diana tulus dari dalam hatinya.
"Ya, sama-sama" jawab Melisa dengan nada angkuh.
"Aku akan terus menitipkan Langit padamu, aku tak kan memaksa atau mengambil Langit dari kalian, Langit sudah mau memanggilku dengan sebutan mami saja, aku sudah sangat bahagia sekali" tutur Diana yang masih terbaring lemah, Matanya sudah mengalirkan cairan bening sedari awal mereka berbicara.
"Tapi satu kumohon padamu" tambahnya lagi
"Apa?" tanya Melissa.
"Jangan larang Langit jika ia ingin menemuiku" pintanya pelan dan tak enak hati.
__ADS_1
"Hah!" Melisa membuang nafas kasar.
Diana langsung diam saat melihat reaksi Melisa tentang permintaannya
"Tak apa jika kamu tak mau, aku mengerti. Aku tahu Sebesar apa kasih sayangmu terhadap putraku" lirih Diana, ia berharap tak salah bicara sampai melukai wanita yang sudah menjadi anaknya.
"Kedatangan mu terlalu tiba-tiba bagiku, dan jujur aku tak pernah mengharapkan mu ada di tengah-tengah keluarga ku. Tapi aku tahu jika ini takdir Tuhan, tak mungkin ia mempertemukan kita tanpa alasan" ucap Melisa penuh penekanan.
.
.
.
.
.
.
Bersikap lah seperti dua puluh tahun belakangan ini, jangan mengusik atau mengecoh keluargaku!
Aku tak akan pernah tinggal diam saat anak dan suamiku di ganggu oleh siapa pun itu, Paham?
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Galak dia tuh 🤣🤣🤣
Dasar pawang Gajah 🙄🙄🙄🐘🐘🐘,
Like komen nya yuk ramai kan ♥️
__ADS_1