
,🌻🌻🌻🌻
"Lo mau mahar apa dari gue?"
PLAAAAKKKKK...
"Ini otak tolong di kondisikan ya" sungut Hujan setelah memukul bahu pria di sisinya itu
"Heh, Hujan deres! cewe dimana-mana ditanya mahar seneng! Lo kenapa mukul gue?"
"Heh, Aer comberan!, gue seneng kalo yang nanya itu calon suami gue. Nah ini pacar bukan, temenan enggak tapi nanya mau mahar apa?"
Hujan melipat tangannya di dada dengan posisi duduk menghadap ke depan.
"Ya kali gue nikahin Lo gak pake mahar?" gumam Air, kepalanya kini sudah sangat pusing tujuh keliling, rencana yang ia susun dengan Hujan justru malah berantakan.
"Jadi kita nikah nih?" tanya Hujan pelan, tatapannya serius.
"Iya kita coba dulu ya" jawab Air.
Hujan membulatkan kedua matanya tak percaya.
"Coba-coba?, Lo kira gue apaan, Ay!"
Air menghela nafasnya dalam-dalam, ia mencoba menetralkan sedikit emosinya agar tak terus tersulut karna memang gadis si sampingnya itu sangat keras kepala.
"Gue cuma punya kos-kosan empat puluh lima pintu, dua bengkel dan tiga cafe, itu milik gue pribadi sendiri.
Gada campur tangan orangtua gue. Gue punya itu dari uang jajan gue selama ini" jelas Air.
"Terus?" tanya Hujan, hatinya kini mulai berdebar, tak seperti tadi yang kesal pada Air
"Kalo kita nikah, Lo minta maharnya jangan aneh-aneh"
Hujan tertawa kecil sambil menggeleng kan kepalanya
__ADS_1
Pria di sebelahnya itu terlalu banyak membuat kejutan baginya, terlalu banyak sisi lain dari sosoknya yang mudah berubah semaunya.
"Pegawe gue banyak, Lo jangan macem-macem"
"Emang nanti bakal pake uang Lo?" goda Hujan.
"Eh.. ya kali gue yang ngawinin Lo, kenapa papa gue yang kasih Lo mahar! Lo kawin sama gue apa sama papa?" Umpatnya yang kembali menaikan nada bicaranya lebih keras.
Hujan tertawa, kali ini ia begitu gemas pada Air, entah ia akan menyebut apa pada pemuda itu, karna tak ada status apapun di antara mereka.
"Gue belom mikirin itu, kalo emang Lo bakal kasih gue mahar dengan uang Lo, Ya udah kasih gue semampu Lo aja" jawabnya santai.
"Bener Lo ya!"
Hujan mengangguk meski ragu.
*****
Hari yang melelahkan dan penuh drama di akhiri dengan Air mengantar Hujan kerumahnya yang baru ia tahu ternyata di sebuah rumah tepat di belakang rumah sakit milik keluarga Rahardian, tempat dimana Adik perempuannya di rawat jika penyakitnya sedang kambuh.
"Ini rumah Lo" tanya Air setelah memberhentikan mobil sesuai petunjuk Hujan
Air memutar bola matanya malas, ia sedang tak ingin membahas wanita berkacamata itu.
"Mampir yuk sebentar" ajak Hujan sebelum ia turun dari mobilnya.
"Gak ah, gue langsung pulang aja, bentar lagi juga ada yang jemput kesini" jawabnya.
"Mau langsung pulang?"
Air menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Gue ambil motor dulu ke kampus, besok gue gak ada kelas"
Air merapihkan rambutnya sedikit dan mengusap wajahnya dengan tissue yang ia ambil dari atas dashboard mobil.
__ADS_1
"Gue balik ya, udah di jemput tuh" pamitnya pada Hujan.
gadis itu menoleh ke belakang mobilnya yang ternyata ada satu mobil yang baru saja berhenti.
"Di jemput siapa?" tanya Hujan
"Pacar gue lah!" sahutnya sambil membuka pintu mobil.
Hujan langsung diam tak lagi berkata-kata, bagai di timpah batu besar dadanya mendadak sesak apalagi saat pria yang baru sejam lalu menawarinya mahar itu benar-benar pergi dari hadapannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Ups... sorry ya! calon mantan pacar maksud gue!"
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Nih anak pengen gue timpuk Rasanya!!!!
Baperin gue Mulu ,🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Cebong kesayangan 💋💋💋
Like komen nya yuk ramai kan ♥️