
🌻🌻🌻🌻🌻
Kak... adek capek.
CUP..
Air dan Bumi langsung mencium kedua pipi Cahaya secara bersamaan, kasih sayang kedua kakaknya kembali memberikan kekuatan untuk si bungsu Kesayangan semua keluarga.
Ikatan batin antara tiga saudara yang begitu erat mampu membuat gadis cantik yang kini terlihat lemah itu sedikit demi sedikit membuka mata lentik nan teduhnya.
Alhamdulillah....
Semua mengucap rasa syukur begitu pun dengan Reza dan Melisa yang ternyata sedari tadi berdiri di ambang pintu menyaksikan betapa manisnya sikap anak-anak mereka.
"Hasil kerja keras kita luar biasa ya, Ra" kekeh Reza sambil menghapus air mata KHUMAIRAHnya.
"Hem, iya. Sangat luar biasa, mereka tumbuh dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh waktu meski ketiganya kini sudah beranjak dewasa" lirih Melisa, wanita itu dengan bangganya memuji anak-anak yang dengan susah payah ia lahirkan ke dunia.
"Kamu ibu yang hebat, dengan kesabaran juga tangan lembutmu mereka selalu jadi yang terbaik"
Melisa berhambur memeluk suaminya, menyadarkan kepala di dada bidang sang pemilik hatinya.
"Kamu juga ayah yang baik, Mas, cara mendidikmu yang penuh kasih sayang membuat mereka saling menguatkan"
Langit, Air, Bumi dan Cahaya pun ikut menoleh kearah pintu saat menyadari kehadiran orang tua mereka.
Dengan senyum hangat dan rasa bangga keduanya pun berjalan menuju tempat tidur si bungsu.
Bumi langsung bangun, ia membiarkan Reza duduk di sisi adik perempuannya.
"Anak nakal, gadis kecil papa selalu saja senang membuat kita khawatir" ucapnya sambil memeluk Cahaya hidupnya, anak yang selalu dia manjakan dengan limpahan kasih sayang tak terhingga.
"Maaf.. adek selalu merepotkan" jawabnya lirih sambil terisak.
"Gak apa-apa, biar dua kakakmu ini ada kerjaan" kekeh Reza sambil mencubit hidung mancung Cahaya yang mirip sekali dengan sang istri.
"Cih, si papa" Protes Air yang justru bermanja pada mamanya.
.
__ADS_1
.
.
Semua kini bisa bernafas lega setelah beberapa jam lalu merasakan rasa takut yang luar biasa karna Cahaya terlalu lelap dalam tidurnya usai meminum obat.
"Ya ampun! aku lupa sama si Jan Hujan!" pekik Air yang langsung terlonjak dari tempat tidur adiknya, anak sulung yang masih hiperaktif itu bergegas turun ke lantai bawah.
"Aku juga kok bisa lupa sama Yayang sih" Gerutu Bumi yang ikut menyusul kakaknya, karna seingat Bumi ia melihat kedua gadis itu duduk di ruang tengah dengan rasa khawatir yang sama.
Reza dan Melisa tertegun melihat dua anak laki-laki nya itu yang menurut Melisa sangat menggemaskan sekali.
"Udah berasa tua belom, Mas?" goda KHUMAIRAHnya.
"Enak aja!" sungut Reza kesal jika sang istri menyebutnya Tua.
"Senior kali, Bun, agak halus gitu" ucap Langit sambil mengulum senyum membuat Reza langsung memicingkan mata pada calon menantunya itu.
"Awas kamu ya!" ancam Reza.
Langit dan Cahaya pun terkekeh bersama apalagi saat Reza menarik tangan Melisa untuk keluar dari kamar, sepertinya mereka cukup peka membiarkan pasangan itu berdua lebih dulu.
.
.
"Udah aku bilang, Bang. aku udah terlalu lelah semakin hari aku semakin lemah" ucap gadis yang masih terlihat cantik meski dalam keadaan pucat.
"Enggak! sayangnya Abang tuh kuat, gak lemah apalagi putus asa begini"
Langit mulai berpindah duduk agar lebih dekat pada Cahaya, ia memeluk gadis itu agar masuk kedalam dekapannya.
"Rasanya sakit banget, Bang" lirih Cahaya yang selalu merasa nyaman dan aman didepan dada pendamping hidupnya itu.
"Andai sakit itu bisa dibagi, Abang mau, Dek. Abang akan lakuin apapun untuk kamu agar kita bisa bersama selamanya" Langit berkata sambil buru-buru mengusap cairan bening disudut matanya, ia tak ingin Cahaya tau bahwa ia sangat terluka mendengar keluhan rasa sakit yang di alami gadis itu.
"Kapan aku dapet donor jantung?, aku mau menikah dengan Abang sesuai dengan permintaan Abang selama ini" Cahaya bertanya sambil mendongakkan wajahnya kini kedua mata mereka saling menatap dengan tatapan sendu.
"Kita masih mencari yang tepat untukmu, jika saja jantung Abang cocok denganmu tentu sudah sedari dulu Abang berikan Padamu, sayang"
__ADS_1
Cahaya menarik tubuhnya , ia tak suka dengan perkataan yang dilontarkan Langit padanya.
"Lalu aku akan hidup dengan siapa?"
Langit menarik nafas sambil tersenyum, ia mengusap halus pipi Cahaya dengan tangan lembutnya.
"Sayang, jika keadaan tetap begini pun, Abang tak kan sanggup tanpamu?"
Mereka kembali berpelukan, kali ini lebih erat dari sebelumnya bahkan Langit tak mengusap lagi air matanya, ia biarkan rasa sedih itu tumpah dalam dekapan Cahaya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jika hari itu tiba..
Mari kita mati bersama!!!!
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Jangan gitu bang, ntar othor di bully Readers 🤭🤭
Sehat-sehat pokonya buat kalian ya..
Aku udah siapin nama buat malaikat kecilnya Cahaya Langit yang pasti bakalan bikin repot si gajah Tua 🐘🐘🐘🐘🐘😂😂😂😂
Emesh banget pengen liat babang Reza di gangguin cucu.. aku Takan berhenti menyiksamu, Bang 😝😝😝
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan ❤️