
🌻🌻🌻🌻
Langit yang menginap di apartemen sudah lebih dulu bangun dan bersiap, tubuh tingginya menghampiri Melisa yang sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur.
"Pagi, Buna" sapa Pemuda yang kini kian semakin dewasa itu.
"Pagi sayang" Sahutnya setelah mendapat kecupan di pipi kanannya
"Bun, yang semalem itu pacarnya adek ya?" tanya Langit.
"Enggak tahu, Buna belum tanya-tanya sama adekmu karna belum ketemu berdua, tau sendiri kan kalau Bumi itu paling susah di ajak ngobrol kalo dia gak mau"
Langit hanya mengangguk, ia meneguk sedikit demi sedikit susu yang sudah di siapkan Melisa di atas meja.
"Abang sih tau, dulu pernah cerita sama Abang cuma udah lama gak pernah cerita lagi semenjak Abang kuliah"
"Hem, sama Buna juga beberapa waktu lalu sempet cerita bahkan sampe nangis" bisik Melisa.
"Wah, berarti maen perasaannya dalem dong ya" sahut Reza yang tiba-tiba datang.
"Ih, udah kaya lalat aja kamu tuh, Mas" ucap sang istri yang terkejut saat tubuhnya di peluk dari belakang ketika sedang bergosip dengan anak angkatnya.
"Kangen!" bisik Reza semakin mengeratkan pelukannya.
Langit membuang muka, sambil memasukkan satu cake ke mulutnya.
"Maaaaaaaah, jaket kakak mana sih?" teriak si sulung dari arah tangga.
"Omegot!!!!! mata kakak pagi-pagi sudah ternoda" ocehnya pada kedua orangtuanya itu.
"Tau nih, awas dulu, Mas" Melisa meronta minta dilepaskan.
Reza mau tak mau mengurai pelukannya, padahal ia sedang sangat menikmati bau harum tubuh istrinya yang masih sama meski sudah dua puluh dua tahun bersamanya.
Reza duduk di sebelah Langit, sedangkan Air kembali ke kamarnya untuk mencari lagi jaket yang ia maksud.
"Pagi" sapa Cahaya dan Bumi yang turun berbarengan dengan si bungsu bergelayut manja di lengan kakaknya.
"Pagi sayang"
Usai menyapa dan mencium kedua pipi orangtuanya Chaca dan Bu langsung duduk di kursinya masing-masing.
.
.
.
"Hem, iya"
__ADS_1
"Kasih ke Bumi aja ya"
"Ok, nanti aku jemput"
Semua mata menatap kearah si sulung yang datang sambil berbicara dengan seseorang yang mereka yakin itu adalah Kahyangan lewat sambungan telepon.
"Nanti kamu ambil jaket kakak ya di Yayang" titah Ay pada adiknya itu dengan santai.
Melisa yang tau wajah anak keduanya itu berubah langsung mengusap punggungnya.
"Hem, iya" jawab Bumi setelah melihat mamanya mengangguk.
Air yang pergi lebih dulu tak menghabiskan sarapannya bahkan susu yang Melisa siapkan tak di sentuh sama sekali.
"Buru-buru banget, kak" tanya Melisa pada Air yang sudah bangun dan mengambil tasnya.
"Iya mah, mau ke bengkel sebentar" sahutnya yang sudah siap berangkat.
Air berpamitan dan bergegas keluar.
****
Sedangkan di depan rumah tak berpagar mobil sport Bumi sudah terparkir, baru saja ia mematikan mesin mobilnya ternyata pemilik hatinya sudah datang menghampiri.
"Pagi, Bu" sapa yayang sambil tersenyum saat masuk kedalam mobil.
"Pagi, Yang"
"Kamu sendiri?" tanya Bumi.
"Hem, iya. Ibu udah jalan tadi" jawab Yayang.
Dari obrolannya di telepon semalam, Bumi akhirnya tahu jika Kahyangan adalah anak tunggal dan anak yatim, ia dibesarkan sendiri oleh ibunya yang hanya memilki usaha catering kecil-kecilan.
Ayahnya yang meninggal sepuluh tahun silam menjadikan Kahyangan sosok gadis yang mandiri meski sebenarnya ia sangat rapuh dan butuh perlindungan dari sosok seorang pria yang bisa menggantikan ayahnya.
"Jalan sekarang ya" ucap Bumi sambil menyalakan mesin mobilnya.
Selama perjalanan menuju kampus Yayang hanya obrolan ringan yang mereka bicarakan, jarak yang tak terlalu jauh membuat waktu keduanya tak banyak.
"Tolong berikan ini pada Ay"
Yayang memberikan paperbag pada Bumi berisi jaket yang dulu sempat di pakainya saat kehujanan.
"Apa ini?" tanya Bumi pura-pura tak tahu.
"Jaket Ay, dulu dia pinjemin aku pas hujan pulang ngajar anak-anak" jelas Yayang.
"Terus hari ini kamu mau kemana lagi?"
__ADS_1
"Aku mau ke pasar lama, mau cari buku sastra katanya banyak disana" jawab Yayang jujur dan apa adanya.
"Sekarang ada aku, gak usah minta kakak buat anter jemput kamu!" tukas Bumi serius.
Gadis itu mengernyitkan dahinya, ia menatap kedua mata Bumi dengan tatapan bingung
"Kenapa?" tanya Yayang.
"Aku gak suka!"
"Seposesif ini kamu sama aku?" desah Yayang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ya... karna Kamu milikku satu-satunya, dan aku tak ingin berbagi meski dengan saudaraku sekalipun!
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
JLEB..
bapaknya banget nih 😪😪😪
Ntar kalo udah halal pasti di ketekin Mulu tuh si yayang 🤣🤣🤣🤣🤣
Tapi aku tak merestuimu , Bu ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
kalian harus merubuhkan batako yang kini sudah mulai ku bangun untuk memisahkan kalian.
kabooooooooooooorrrr...
__ADS_1
like komen vote jangan lupa ya
Senen ini Senen!!!