
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hari yang paling di nantikan oleh dua keluarga besar Biantara dan Rahadian akan berlangsung dua hari lagi, dan selama itu juga si bungsu selalu uring-uringan karna tak bisa bertemu dengan Langit yang tak kurang dari empat puluh delapan jam lagi akan menjadi imam dan suaminya.
Ia yang terus digoda oleh dua kakaknya tak henti berteriak dalam pelukan sang Papa yang kini sedang mendekap tubuhnya dengan erat.
"Adek mau jadi istri Abang tapi buat Papa adek tetep little princessnya Papa loh" goda Reza sambil menciumi pipi Cahaya.
"Iya dong, kan adek paling cantik di antara dua cebong" jawabnya sambil terkekeh. Namun, langsung membuat kedua kembarannya itu memicing kan mata.
"Ini sih bayi buayanya Jan Hujan deres" ejek Bumi dengan mencebikkan bibirnya kearah si sulung.
"Jiah, mau cengeng begini yang penting udah laku, Bro" timpal Air, Bumi yang tak terima langsung pindah tempat duduk ke sisi mamanya.
"Duh, kasian nasib anak bawang"
Melisa bukan menenangkan malah ikut menggoda membuat Bumi semakin kesal namun justru berhambur memeluknya.
"Fix, mama jahat!" serunya menahan jengkel.
.
.
Obrolan keluarga bahagia itu berakhir saat datangnya tiga orang tamu yang akan mengurus pernikahan Tuan putri Rahadian. Cahaya dan dua kakaknya langsung masuk kedalam kamar mereka masing-masing dah menutup pintu dengan rapat.
"Kangen Abang" gumam si cantik yang berguling diatas tempat tidurnya.
Ia raih lagi ponselnya untuk mengirim pesan rindu pada Langit karna hanya itu yang bisa di lakukan oleh calon pasangan suami istri tersebut.
Jari lentiknya kini sedang bergoyang di atas benda pipih keluaran tebaru yang pastinya tak banyak orang yang memiliki.
*Cahaya
[ Abang, adek kangen ]
Satu pesan berhasil di kirim si bungsu meski tak langsung mendapat jawaban karna ia tahu jika hari ini Langit sedang ada urusan dengan Papinya.
Langit kini tak lagi menjadi anak angkat keluarga Rahardian secara hukum setelan pembatalan adopsi yang di lakukan Reza dan Melisa. Si tampan yang memiliki segudang prestasi itu telah kembali pada keluarga kandungnya dan memakai nama asli yang di berikan Adam padanya sejak lahir.
__ADS_1
Tak ada yang keberatan meski rasanya sakit dan sulit untuk langsung menerima semua yang terjadi secara tiba-tiba.
Tapi Langit tetaplah Langit, ia tetap menjadi cucu bagi Oppa dan Omma dan tetap menjadi anak bagi Reza dan Melisa dan akan menjadi kakak pertama bagi si kembar, statusnya dalam hati mereka tak akan pernah berubah terutama bagi sang Buna.
******
Langit belum juga membuka matanya meski Diana sudah sepuluh menit membangunkannya, ia hanya bergeliat kecil lalu kembali meringkuk seakan tak terjadi apapun.
"Belum bangun juga?' tanya Adam, pria tinggi itu kini tengah berdiri di ambang pintu kamar putranya.
"Belum, mungkin ia lupa jika hari ini ia akan meniikah" kekeh Diana yang masih duduk di sisi ranjang.
"Langit, ayo bangun. Jangan samapai calon istrimu menunggu terlalu lama"
Langit langsung beranjak dari tidurnya, matanya langsung membulat besar membuat kedua orang tuanya tertawa bersama.
"Kamu kenapa?' tanya Adam yang masih terkekeh.
"Jam berapa ini?" tanya nya bingung dan panik.
"Masih ada waktu dua jam lagi untuk bersiap, setelah itu kita baru berangkat" jawab Diana sambil mengusap kepala sang anak dengan lembut.
Ia terkekeh saat tangan besarnya itu memegang miliknya yang menegang sempurna entah ada angin apa.
"Ini hari terakhir jadi perjaka ya, karna nanti malem mulai lecet" gummnya sambil tergelak sendiri.
.
.
.
Langit turun dari mobil mewahnya menuju masjid tempat di adakan nya proses ijab kabul ia dan Cahaya mengikat janji suci sehidup semati.
Sudah nampak begitu ramai meski masih kurang tiga puluh menit lagi acara di mulai.
Langit yang di apit oleh kedua orangtua kandungnya itupun segera masuk untuk menyapa semua keluarga dan kerabat juga beberapa rekan bisnis mereka yang mau meluangkan waktu menjadi saksi dari pernikahan putri bungsu keluarga konglomerat itu.
"Kali ini masih jadi anak ya" goda Reza saat Langit memeluknya.
__ADS_1
"Yah, besok udah gak dapet transferan duit jajan lagi dong?" jawabnya memasang wajah memelas.
Semua orang tergelek termasuk Adam dan Diana, pasangan yang kembali rujuk di usia yang tak lagi muda itu menatap haru dan bahagia saat keluarga Rahardian memperlakukan Putra mereka dengan limpahan kasih sayang.
"Aku gak bisa bayangin kalo Langit dulu di asuh oleh orang yang salah" ucap Diana dalam rangkulan suaminya.
"Tuhan terlalu baik pada kita, Dee"
Acara tegur sapa berakhir saat penghulu meminta proses ijab kabul segera di langsungkan.
Kini Langit dan Cahaya sudah duduk saling berdampingan di hadapan Penghulu juga Reza yang akan menikahkan sendiri putri kesayangannya.
"Bagaimana, Siap?" tanya pak penghulu.
"Siap, Pak!" jawab Langit tegas.
"Benar kan kalau ini calon mempelai wanitanya?" goda pak penghulu lagi untuk mencairkan suasana tegang semua orang yang hadir.
"Tentu, tak ada yang lebih cantik selain calon istriku." balasnya sambil melirik kearah Cahaya yang menunduk menahan malu dan menyembunyikan rona merah pipinya.
"Baiklah, kita mulai sekarang, Silahkan Tuan Reza"
Reza tersenyum simpul, hatinya sedang berdebar hebat karna ini adalah pengalaman pertama dan sekaligus sekali dalam hidupnya.
"Sekarang, Bang?"
"Sekarang dong, biar cepet halal" sahut Langit pada calon mertuanya itu karna rasa tak sabarnya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Langit Marvelio Biantara bin Adam Biantara dengan putri saya yang bernama Cahaya Rimeza Rahardian Wijaya binti Reza Rahadian Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan satu set perhiasan berlian, di bayar Tunai"
.
.
.
.
Saya Terima nikah dan kawinnya Cahaya Rimeza Rahardian Wijaya binti Reza Rahadian Wijaya dengan mas kawin tersebut, TUNAI."
__ADS_1
🍂🍂🍂🍂🍂🍂 TAMAT 🍂🍂🍂🍂🍂🍂