
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Dingin gak, Ra?"
"Mana mungkin aku merasa kedinginan saat suamiku memeluk dari belakang" jawab Melisa sambil tersenyum simpul.
Tak ada yang membuatnya lebih nyaman kecuali dekapan sang sandaran hati, terlebih Melisa hidup tanpa sentuhan seorang ayah seumur hidupnya.
Reza tak hanya berperan sebagai suami, ia juga sering merangkap sebagai sahabat, kakak, ayah dan juga lawan berdebat. Bohong rasanya jika mereka tak pernah berselisih paham sampai bertengkar tapi kekuatan cinta dan rasa takut kehilangan yang pasangan itu miliki nyatanya mampu menepis ego masing-masing.
"Sepi juga cuma berdua ya, Mas"
"Kamu mau aku gimana biar gak kesepian?" tanya Reza yang semakin mengeratkan pelukan. Pinggang yang masih saja ramping itu membuat Reza selalu puas memeluknya.
"Rayu aku, bagaimana?"
Reza mengurai pelukan, ia putar tubuh langsing sang istri agar berbalik menghadapnya.
"Rayuan ku habis, kata mak othor itu semua untuk jatah cucu dan cicit kita kelak, Sayang" kekeh Reza sambil menangkup wajah cantik Khumairahnya.
"Aku akan menciummu saja"
Tak menunggu persetujuan, kedua bibir itupun saling bersentuhan dengan sangat lembut dengan kedua mata saling terpejam. Reza melakukannya perlahan dan berkali-kali karna ia paham betul dengan napas sang istri yang tak sekuat dulu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu" ucap Melisa saat ia menarik napas sebelum mendapat serangan lagi.
.
.
.
Pagi yang tak secerah biasanya karna gemericik air hujan membuat pasangan baya itu enggan bangun dari ranjang hangat mereka. Pelukan di bawah selimut seolah menjadi saksi bagaimana kuatnya cinta yang keduanya kini rasakan.
"Berapa hari kita disini, Mas?" tanya Melisa, ia memainkan ujung jarinya di dada sang suami yang berbalut piyama biru laut.
"Anak-anak hanya mengizinkan tiga hari, tiga hari yang akan kita lalui seperti saat pengantin baru" jawab Reza.
"Maaf, sayang. Tapi bukankah kamu sudah menghukum ku dengan cara memukuliku dengan bantal dan botol, kan?" kata Reza dengan seringai di ujung bibirnya. Tapi tidak dengan Melisa yang malah tertawa sampai kedua matanya menyipit.
Sungguh ingatan manis itu masih mereka ingat sampai detik ini, dimana Melisa yang baru beberapa saat menikah harus rela di tinggalkan oleh sang suami yang entah kemana.
"Boleh ku pukul lagi sekarang?"
"Tentu, lakukan semua yang bisa membuat mu bahagia, Ra" kata Reza tak kalah terkekeh.
Bukan memukul, Melisa malah menciumi wajah suaminya sampai berkali-kali. Reza yang mendapat serangan cukup mendadak itu tentu hanya tergelak menahan tawanya.
__ADS_1
"Terimakasih sudah selalu berusaha membuatku bahagia meski kamu sendiri harus siap terluka, Mas"
Perbincangan hangat mereka terhenti saat mendengar ketukan pintu kamar, keduanya pun berbarengan menoleh kearah benda bercat coklat tua tersebut.
"Siapa, Mas?"
"Mungkin Mbak yang mau kasih tau kalau sarapan sudah siap, Ra" sahut Reza hanya menerka.
"Oh, ya sudah kita mandi"
"Mandi berdua?" tanya Reza menggoda.
"Iya, Gajahku sayang. Apa mau sekalian aku cuci juga belalainya yang sekarang jadi imut imut mengkerut?" kekeh wanita cantik khas keibuan itu.
Reza yang mendengar lelucon istrinya malah tertawa setelah ia membulatkan kedua matanya sempurna.
"Awas kamu ya, Ra"
.
.
.
__ADS_1
Mas Reza gak usah sok ngancem, kan udah gak bisa kasih hukuman enak lagi 🤣🤣🤣