Suami Dadakan

Suami Dadakan
Waktunya berpamitan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Bugh...


Air memukul dinding dengan tangan kanannya. Rasa kesal karna tak bisa berbuat apa-apa membuat pria yang sedari tadi menangis itu hanya bisa mengeram marah.


"Kak, jangan gini. Kasihan Mama sama Papa" cegah Bumi yang menarik tangan kakak kembarnya.


Langit hanya duduk lemas di sofa, hatinya sama kacau seperti Air dan Bumi. Mereka bertiga yang ada di ruang kerja rumah utama tak bisa berbuat banyak kecuali menunggu keajaiban datang menghampiri keluarga Rahardian Wijaya.


"Buat apa harta? mama sama papa tetep gak bisa sembuh kan?" cerca si sulung yang hampir kembali berontak jika saja adiknya tak menahan.


"Kak, seenggaknya mama sama papa masih ada sama kita. Aku rasa itu yang paling penting" balas Bumi yang akhirnya ikut kesal.


Air menoleh ke arah Langit yang menutup wajah tampannya. Laki-laki tegas dan berwibawa itu tak tahu harus berbuat apa. Dari semua kehilangan yang pernah ia rasakan hanya kehilangan Buna dan papanya yang begitu ia takutkan selama ini. Entah jadi apa hidupnya tanpa mereka dulu hingga satu persatu kebahagiaan dapat ia rengkuh dengan mudahnya.


"Bang, ini gimana? Abang kenapa diem aja sih!"


"Abang bisa apa? kita semua sekarang cuma bisa dampingin mereka aja saat ini, Kak" jawab Langit saat Air terus merengek. Tingkahnya seolah balita yang mainannya di ambil oleh orang lain.


"Mama sama papa gak apa-apa, kan?"


"Enggak, kak. Mereka baik dan akan selalu baik, banyak berdoa ya" jawab Langit sambil merentangakan dua tangannya agar Air dan Bumi bisa masuk kedalam pelukan Langit.


Tangis mereka pecah secara bersama, tak perduli umur atau siapa mereka kini yang ketiganya tahu mereka adalah anak yang sedang mempersiapkan kehilangan luar biasa.

__ADS_1


Tok... tok... tok..


Suara ketukan pintu berwarna coklat itu membuat mereka mengurai pelukan. Langit menghapus air mata di wajah tampan kedua adik laki-lakinya yang sebenarnya adalah kakak ipar ia sendiri.


"Tunggu disini, Abang buka pintu"


"Ikut, Bang" jawab Air dan Bumi berbarengan. Ketiganya bangun dan melangkah bersama.


Cek lek...


Langit membuka pintu, ada Senja putri bungsunya dengan kedua mata yang merah dan basah. Gadis cantik terus terisak bahkan ia belum mengatakan maksudnya datang ke ruang kerja.


"Ada apa?" tanya Langit dengan suara pelan.


"Pipih dan Uncle di minta ke kamar Appa dan Amma. Tapi...." Senja tak melanjutkan ucapannya. Ia malah berhambur memeluk Langit dan menumpahkan tangis di dada bidang pria baya tersebut.


"Tapi SenSen rasanya mau ilang jauh aja, SenSen gak sanggup disana. Ayo pulang Pih" rengek Senja yang lemas.


"Sabar ya, Nak. Kita semua harus kuat"


Air dan Bumi berjalan lebih dulu ke kamar orangtuanya, di susul Langit dan Senja yang mengekor di belakang dua pria yang melangkah tergesa.


.


.

__ADS_1


Kamar Utama di rumah utama kini menjadi saksi berkumpulnya para keturunan Rahardian Wijaya.


Air Hujan


Bumi Khayangan


Cahaya Langit


Samudera Biru


Gala Asmara


Awan, Senja, Aurora


Embun Rainerly


Mereka adalah anak, menantu, cucu mantu dan cicit Reza dan Melisa. Semuanya berdiri dan duduk di tepi ranjang besar dan empuk yang di atasnya ada pasangan baya sedang saling memeluk seakan tak ingin di pisahkan.


"Mereka sudah ada disini semua, Ra." bisik Reza pelan dan lembut seperti biasanya.


.


.


.

__ADS_1


"Aku tahu, apa ini waktunya kita berpamitan?"


__ADS_2