
π»π»π»
Reza..
Pukul enam pagi terdengar riuh ramai di depan klinik tempat dimana Reza di rawat, banyak orang berpakaian serba hitam dengan mobil berjejer terparkir sampai ke bahu jalan, Ana yang baru terlelap kurang dari dua jam akhirnya bergeliat, terpaksa membuka matanya yang cukup berat, rasa pusing langsung terasa di kepalanya.
BRAKK
Pintu dibuka dengan cara cukup keras membuat Rafka yang baru saja keluar dari kamar mandi harus terlonjak kaget sambil mengusap dadanya dengan mata yang membulat sempurna.
"Ada apa?" tanya Rafka yang bingung saat ada empat pria orang berperawakan tinggi besar berotot masuk secara tiba-tiba kedalam kamar rawat inap Reza.
"Tuan muda!" seru salah satunya, lalu ketiga orang lainnya pun mengangguk kan kepalanya.
"Bagaimana?" kini terdengar suara pria tampan dengan memakai kaos putih yang masuk begitu saja, siapa lagi kalau bukan Ardi.
"Ini benar tuan muda, tuan!" jawab salah satu dari keempat pria tinggi besar tersebut.
Ardi terus melangkah mendekat sampai harus membuat Ana minggir dua langkah dari sisi ranjang tempat Reza terbaring.
"Enak banget Lo tidur?, saat semuanya nyariin Lo, ckck!" gumam Ardi dengan senyum lega.
"Maaf, anda siapa?" tanya Ana dengan sangat hati-hati, suaranya pun terdengar sangat ketakutan.
Ardi langsung menoleh kearah wanita yang matanya terlihat sedikit merah dengan wajah pucat ditambah rasa takut yang sangat jelas terlihat sampai ada bulir keringat di dahinya.
"Lo perawat disini?" Ardi balik bertanya saat ia dengan seksama memperhatikan baju yang di kenakan Ana.
"I--iya" jawab Ana dengan terbata.
"Gue Ardi" Ia langsung mengulurkan tangannya pada Ana, gadis cantik itu harus beberapa detik terdiam lebih dulu sebelum menyambut uluran tangan pria tampan di hadapannya itu.
"Ada perlu apa ya?" Kini Rafka sudah mendekat dan berdiri di sisi Ana dengan tangan merangkul bahu adik kesayangannya itu.
"Gue sahabat Reza!" jawabnya cepat.
"Oh, bang Reza ya?, bang Rezanya belum sadar" sahut Ana sambil melirik kearah Reza yang masih terpejam.
__ADS_1
"Sama sekali?" Ardi mengernyitkan dahinya.
"Tadi sempat sadar, hanya minta air!" jawab Ana.
"Saya udah Periksa semuanya, ini hanya efek obat tidak ada yang serius" tambah Ana lagi.
Ardi hanya mengangguk sekali lalu melempar pandangannya langsung ke arah Reza.
"Bangun woy, mau pulang gak?" bisik Ardi di telinga kanan Reza.
Belum ada respon sama sekali dari Reza membuat Ardi menghela nafas panjangnya tak lama ia merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel miliknya.
Setelah memencet beberapa angka di layar benda pipih itu, Ardi langsung meletakkannya di telinga kanannya
"Hallo, om" ujarnya.
"Sudah Om, Reza ada di sebuah klinik di ujung kota, tempatnya lumayan jauh dari hotel tempat dia menginap"
Ana dan Rafka hanya saling pandang, Rafka langsung mengeratkan rangkulannya di bahu Ana.
"Iya, Om"
"Belum tau keadaan sebenarnya, Om. mungkin nanti Ardi akan bicarakan dengan pihak dokternya"
"Pasti, om. Ardi akan lakukan yang terbaik"
"Ardi akan telepon ke nomer Melisa, om"
Ana terus saja memandangi wajah Reza yang pucat namun tetap tampan, dengan telinga yang fokus mendengar kan pembicaraan Ardi yang entah dengan siapa ia pun tak ingin memikirkannya.
Perasaan akan berpisah dengan pria yang meneduhkan hatinya itupun seakan menggelitik perasaannya.
"Aku sudah menemukannya dengan keadaan tak sadar, bicara lah dengannya, Mel" kata Ardi saat menghubungi Melisa.
Dengan cepat Ardi langsung meletakan ponselnya di telinga kanan Reza.
Yang terdengar hanya Isak tangis suara wanita di sebrang sana yang begitu lirih siapapun yang mendengarnya pasti ikut tenggelam dalam kesedihannya.
__ADS_1
"***Mas... ini aku!"
"Mas Reza lagi apa?, denger aku kan?"
"Aku belum tidur, gada yang peluk aku, mas!"
"Mas Reza pulang ya, Ay kangen papanya, Bu juga sama, hari ini Chaca jadwalnya kerumah sakit dari kemarin dia demam!"
"Mas Reza, aku mohon pulang ya.."
"Aku gak mau sendirian kaya gini"
"Pulang mas.. kumohon, buka matamu dan datanglah padaku lagi"
"Ada aku yang selalu menunggumu"
"Aku tempatmu Kembali sejauh apapun kamu pergi.."
"Aku merindukanmu, mas!"
"Aku mencintaimu***!!"
Ana menjatuhkan air matanya, begitu sedih suara tangis wanita yang berbicara pada pria di hadapannya itu, terlalu sakit rasanya walau itu hanya sekedar mendengar.
Mungkin itu istrinya dan beberapa nama yang disebutkan mungkin itu juga anak-anak nya, fikir Ana sambil mengusap air matanya.
"Raaaaa....."
ππππππππππ
Rambutan?
ngomong yang jelas bangπ€π€π€..
bab 175 padahal udah up jam 10 malem tapi jam 4 subuh gini masih riview.
Tau deh bab ini akan lama atau gak..
__ADS_1
males bgt kalo gini tuhπππ..
Like komennya yuk ramaikan β₯οΈπ€π€