
🌻🌻🌻🌻
Baiklah, aku akan menikahinya.
Hujan dan Dokter Anna langsung menoleh ke arah Air yang mengucapakan kalimat tadi dengan sangat lugas dan jelas.
Hujan yang tak percaya dengan apa yang di dengarnya langsung bangun dan mendekat kearah Air.
"Apa maksud Lo!"
Pemuda yang masih terlihat kebasahan diwajahnya itu langsung menarik pinggang Hujan untuk di peluk.
"Iyain aja dulu, gue mau pulang, laper!" bisik Ay
"Tapi ini lebih konyol, Ay" balas Hujan sambil meronta ingin dilepaskan
"Besok kita bicarakan lagi"
Air melepaskan pelukannya, keduanya berdiri berdampingan menghadap dokter Anna yang juga sudah ikut berdiri.
"Kita ke rumahmu sekarang!" Ajak wanita berkacamata itu dengan tegas.
Air dan Hujan saling pandang, masalah semakin rumit saat mereka di tarik paksa
"Ayo, Cepat!"
"Bu, jangan sekarang. Kasih saya waktu buat bicarain semua ini dengan keluarga saya" pinta Air.
"Lebih cepat lebih baik"
"Dua hari!, kasih saya waktu dua hari"
Dokter Anna melepaskan tangannya yang mencekal pergelangan tangan Air.
Ia menelisik manik mata Air untuk mencari kesungguhan.
"Baiklah, Lusa saya tunggu kabar darimu"
Air dan Hujan membuang nafas kasar, lega hati mereka saat bisa sedikit meluluhkan keegoisan dokter Anna.
__ADS_1
"Ayo, pulang" ajaknya sedikit ketus pada Hujan, gadis itu mengikutinya dari belakang ia menoleh sesaat kearah Air dengan ekspresi wajah yang tak bisa pemuda itu mengerti.
.
.
.
Sepeninggal Hujan dan dokter Anna, Air pun berpamitan pulang pada mbak Aish dan Nisa.
Dua wanita itu memeluk Air secara bersamaan mengusap punggung adik mereka yang terkenal baik hati dan tak sombong walau memiliki banyak kekasih tapi Air adalah sosok yang begitu polos.
"Pulangnya hati hati dijalan ya, langsung istirahat" pesan mbak Aish sambil menghapus air mata Ay.
"Iya, mbak. Kakak mau langsung tidur, nanti sebelum merem kakak mau berdoa moga ini cuma mimpi" lirih Ay sedih.
"Tapi kakak beneran gak ngapa-ngapain, kan?" tanya Nisa memastikan.
"Enggak! seinget kakak gak ngapa-ngapain, tapi gak tau juga kalo sebenernya kali aja kakak yang di apa-apain"
Mba Aish dan Nisa memukul Air secara berbarengan.
"Tar aku cek dulu, lecet apa enggak!" kekeh Air pada dua wanita yang langsung membulatkan kedua matanya itu.
"Kakak!!!!!!!"
******
Air menaiki tangga apartemen rumahnya dengan pelan karna suasana sudah nampak sepi semuanya telah masuk kamat mereka masing-masing.
"Kak.."
"Hem..Apa?" tanya Ay pada adik kembarnya.
"Dari mana? malem banget?"
"Iya, ada urusan dikit" jawabnya lagi dengan senyum kecil.
"Ada urusan apa justru ada masalah?" tanya Bumi.
__ADS_1
Air memutar tubuhnya melangkah lebih dekat pada sosok yang sembilan puluh delapan persen mirip dengannya itu.
"Kamu bisa menyembunyiin apapun dari kakak, tapi kayanya kakak gak bisa ya nutupin hal sekecil apapun dari kamu" kata Ay sambil menghela nafas.
"Perasaan aku gak enak dari sore, aku telepon gak di angkat. Ada apa?"
Bumi memang selalu lebih peka dan perasa di antara ketiganya, anak kedua itu bisa merasakan apa yang dirasakan para kembarannya.
Tak jarang Bumi tiba-tiba ikut berkeringat dingin saat penyakit adik bungsunya itu kambuh, Atau mendadak merasakan ngilu saat Air kecelakaan kecil.
"Gak mungkin cuma gara-gara di putusin cewe kan?" kekeh Bumi, ia berharap perasaannya kali ini keliru.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Kakak mau nikah!!"
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Panik gak?
panik gak?
paniklah....masa enggak 😂😂😂😂
Like komennya yuk ramaikan ❤️
__ADS_1