
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Cup..
Satu kecupan mendarat di pipi Reza saat si tengah datang secara tiba tiba kerumah utama seorang diri tanpa istri dan anak anak mereka. Bumi langsung duduk di sisi papanya yang sedang menonton film, ia peluk pria baya itu seakan ada yang ingin ia tumpahkan.
"Kenapa, ada masalah?" tanya Reza sambil mengusap kepala Putra yang kini sudah berusia lebih dari setengah abad.
"Gak apa apa, lagi peengen peluk papa aja, kangen" jawab Bumi tanpa mendongakkan wajahnya.
"Benarkah, tapi matamu bukan hanya tersirat kerinduan tapi ada rasa kecewa, ayo ceritakan ke papah, ada apa?" Reza memberi pengertian sembari mengulang pertanyaannya.
Bumi memang tak seperti Air yang bisa mengungkap kan perasaanya di depan siapapun, Bumi tak bisa begitu, ia butuh ruang privasi untuk mengelurkan keluh kesahnya, seperti hari ini. Cukup pada Reza ia akan menceritakan apa yang sedang mengganjal di dalam hatinya, ia tak ingin mengganggu kesehatan Melisa dengan hal kecil yang sedang ia alami dalam rumah tangganya.
"Aku kesel sama Yayang" adunya langsung tanpa basa basi lagi, pelukan hangat sang gajah benar benar membuat perasaanya semakin nyaman.
__ADS_1
" Ada apa dengan menantu Papa, ia tak mungkin melakukan hal macam macam kan?" tanya Reza lagi.
"Hanya satu macam, menurutku ia terlalu mandiri, Pah. Aku seakan tak ada artinya untuk dia yang bisa apapun tanpaku" keluh Bumi, ia yang memiliki istri yang satu tahun usianya lebih tua tentu lebih dewasa juga sikapnya.
"Kamu mengenalnya bukan sepuluh atau dua puluh tahun, kak. hampir setengah abad dan kamu masih mengeluhkan hal ini?" tanya Reza tak habis pikir.
"Tapi, pah.."
"Itu satu konsekuensi seorang suami jika memiliki istri mandiri, Yayang bukan type orang yang suka menunggu dan merepotkan ia akan melakukaknnya sendiri selagi bisa, tak jauh berbeda dengan Hujan. Mereka wanita kuat yang tak mau menggantungkan diri pada suami, tapi bukan berarti tak menganggapmu. Lain hal dengan Cahaya dan Biru, mereka justru sangan bergatung karna manja". jelas Reza.
"Aku paham itu, Pah. Tapi apa gak bisa Yayang minta tolong sama aku, malah saat aku nawarin diri buat nemenin ke pasar aja gak mau, aku tuh lebih milih ikut dia muter muter pasar dari pada aku harus nunggu istriku di rumah, astagfirullah aku gak kuat nahan kangennya padahal cuma tiga jam loh" ujar Bumi, ia memang paling tak bisa di tinggal sang pemilik hati, karna sudah merasa sangat kenyang selalu berpisah saat belum halal.
"Itu karna mereka gak mau kita ribetin, Kak."
"Aku bantuin loh, gak ribetin." protes Bumi.
__ADS_1
"Tapi yayang suka kesel kalo kamu ganggu dia lagi nawar barang, kak" ucap Reza, ia tahu hal itu tentu dari istrinya yang juga menjadi tempat mencurahkan keluh kesah sang menatu dengan sikap para suami mereka yang tentunya para keturunan Gajah yang over posesif.
"Aku pusing dengernya, pah. Tinggal beli aja gak usah di bikin ribet sampe harus debat dulu."
"Itu, kan emang seninya para perempuan saat ke pasar. Kamu cukup menikmatinya di pojokan sambil minum teh kotak" kekeh Reza yang dulu juga sering mengalaminya saat mengantar Melisa ke pasar.
"Seni yang aneh" rutuknya kesal.
"Aneh bagi kita, tapi bahagia untuk mereka, apalagi saat mendapat harga sesuai keinginan. hanya adek dan ontymu yang tak pernah melakukan hal itu jadi yang paling beruntung disini adalah abang Langit dan uncle Ricko"
"Ya, aku paham pah"
.
.
__ADS_1
Dengerin Papa ya, kak...
Kalau kamu mau dan dapet perempuan manja, kamu harus siap dia bergantung padamu. Tapi kalo kamu mau dan dapat perempuan kuat dan mandiri kamu harus siap saat dia gak bisa selalu tunduk padamu. pahami sikap dan karakternya selagi dia menghargai mu sebagai suami.