
π»π»π»
" Bunaaaa"
Teriak langit, bocah tiga tahun itu langsung berhambur memeluk Melisa yang sudah berjongkok merentangkan kedua tangannya di ruang tengah yang sengaja menunggu kedatangannya.
"Ugh, lama gak ketemu ya" ujar Melisa yang langsung menghujaninya dengan ciuman di seluruh wajah anak polos itu.
Kemudian menyapa dan memeluk Mba Asih yang datang bersamanya mengantar langit sesuai dengan keinginan Melisa.
"Kangen" balasnya dengan memanyunkan bibir.
"Haha, iya Buna juga kangen sama langit, langit udah makan belum?"
Bocah itu hanya mengangguk beberapa kali, namun setelahnya ia langsung mengedarkan pandangan seperti mencari sesuatu.
"Dede bayinya mana?"
"Oh, langit cari Dede bayi" goda Melisa.
"Iya, kata Umi banyak, bener kan mba Asih?"
"Iya, Mel.. Langit nanyain anak anakmu terus" kata mba Asih sambil menjiwil pipi putih Langit.
"Bayinya lagi bobo, Kita makan kue dulu yuk" ajak Melisa sembari menuntun tangan mungil Langit kerah meja makan.
"Wah, bagus banget warna warni" tunjuknya pada sebuah kue berbentuk kotak diatas meja.
"Kue pelangi ya Buna?" tanya Langit yang sudah siap menyantapnya.
"Iya, namanya rainbow cake, sayang" sahut Melisa.
"Enak, manis banget"
"Kamu tuh semua kue juga doyan" timpal mba Asih yang gemas dengan Langit.
"Asal habis makan ini sikat gigi ya"
*****
Usai menghabis kan hampir semua kue yang ada akhirnya Melisa mengajak Langit dan mba Asih kekamar nya untuk bertemu Air dan Bumi, karna kini ia merasakan Payu dara nya mulai berdenyut.
"Eyang, nangis ya?" ujar Melisa saat memasuki kamar.
Selama ia dan langit juga mba Asih di bawah eyang lah yang menemani si kembar di kamar , namun saat ia masuk terdengar rengekan dari Bu, si manis yang jarang menangis.
"Tumben nangis, kenapa?" seloroh ibu muda itu pada si tengah sambil menyodorkan wadah ASI alami miliknya.
"Eyang kira pup, taunya enggak" justru eyang yang menjawab.
"Bu kangen mama ya?, iya Sayang"
Walau mata bayi mungil itu terpejam tapi Melisa tetap mengajaknya berbicara.
"Ini bayinya?" tanya Langit yang sedari tadi duduk diam memperhatikan.
__ADS_1
"Iya, sayang, ini namanya Dede Bu" sahut Melisa.
"Bulan?" tanya langit polos namun mampu membuat tiga orang dewasa ini tergelak menahan tawa karna mengingat Ay yang tertidur.
"Bukan, tapi Bumi" jawab Melisa.
"Ooooooooooh" bocah tampan itu hanya membulatkan kan bibirnya sambil mengangguk.
" kalau dua lagi siapa?" Langit mulai mengintrogasi.
"kakaknya namanya Ay, dan dede bayi yang paling kecil namanya Cha"
"Ay?" aku!"
"Bukan lagi sayang, tapi Air" jawab Melisa yang kembali terkekeh.
"Yang paling kecil siapa? ,Cha?" tanyanya lagi belum berhenti.
"Iya, Cahaya" sahut Melisa.
"Ay Bu Cha?"
Langit mengeja satu per satu nama bayi Melisa dengan wajah menggemaskan.
"Gendong, boleh?" pintanya tanpa ragu sudah menyodorkan kedua tangannya siap menerima Bu.
"Haha, kakak langit masih kecil, belum bisa gendong aku" kata Melisa menirukan suara anak kecil.
"Aku kakak?, yeeeee aku kakak" soraknya dengan bertepuk tangan riang sampai membangunkan Ay yang sedang tertidur.
"Gak apa-apa, emang udah waktunya bangun buat nyusu" kata Melisa sambil bangun dari duduknya, menyerahkan Bu pada eyang dan mengambil Ay di boxnya.
"Kamu gimana ngurusinnya, Mel" tanya mba Asih sambil menggelengkan kepala salut.
"Gak gimana gimana" sahut Melisa santai.
"Kalo nangis bareng gimana?"
"Selama empat hari ini sih gak ada halangan, nangisnya bergantian itu yang bikin aku bersyukur banget sih itu"
"Banyak yang ngasuh juga kan, Mel"
Melisa hanya mengangguk dan menoleh kearah eyang yang sedang menyelimuti Bu di boxnya.
"Yang rewel cuma ini, jadi aku berasa cuma punya ini" kekehnya sambil mengusap pipi bulat Ay.
"Tapi entahlah kalau besok, aku belum tau Chaca gimana" tambahnya lagi dengan suara lirih dengan tatapan kosong.
"Sabar, semua pasti baik baik aja, keluarga suamimu pasti melakukan yang terbaik" ujar mba Asih.
"Tapi aku takut"
"Bunaaaaaaaa, kepalanya goyang goyang" teriak Langit tiba-tiba yang tanpa di sadari Melisa dan mba Asih sudah ada di dekat Bu.
"Langit, gak boleh berisik, atau kita pulang!" ancam mba Asih.
__ADS_1
CEKLEK..
suara knop terbuka membuat semua orang yang berada di dalam kamar menoleh kearah pintu.
"Wah, rame ya" sapa mama yang baru datang bersama Ameera, keduanya langsung mencuci tangan sebelum menghampiri si kembar.
"Iya, Ibu. Saya nganter Langit kemari" ujar mba Asih sambil bersalaman.
"Iya, gak apa-apa, main main kesini temenin Melisa" sahutnya.
"Langit, main yuk ke kamar kakak" ajak Ameera pada bocah laki laki yang fokus memperhatikan Bu yang sedang di pakainkan diaper.
"Hayuk, kak" sahutnya antusias.
Keempat orang dewasa inipun akhirnya berkumpul di sofa depan TV sambil mengobrol santai banyak yang mereka bicarakan seputar bayi, masakan bahkan rencana acara aqiqah triplets.
"Aku terserah mama aja" ucap Melisa saat mama bertanya.
"Haha, ok..ok.. kamu tau beres aja ya sayang.
***
Reza yang baru pulang bekerja langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
"Mas Reza mau makan dimana?" tanya Melisa setelah menyisir rambut suaminya.
"Disini aja sama kamu, aku mau main main dulu sebentar"
Aroma khas bayi sangat menggoda Indra penciuman Reza untuk mendekat dan menggoda dua jagoannya yang sedang menggeliat di tengah ranjang mereka..
"Halo NAGA" sapa Reza sambil meringsek mendekat.
Melisa yang mendengar hanya menoleh sambil mengernyitkan dahinya.
"Apa, Naga?" tanyanya bingung setelah meletakan sisir di atas meja riasnya.
"Kamu gak tau, Ra?" Reza justru balik bertanya dengan senyum jahilnya.
Sang istri hanya menggelengkan kepalanya.
"Huuuuh, mama payah gak tau Naga ya" ejek Reza sambil terkekeh.
"Apa sih?,mas Reza gak usah aneh aneh ya" ancam Melisa dengan tatapan tajam.
"Haha, gak lah, Ra. takut banget sih" sahutnya sembari usel usel di pipi Bu.
"Lalu?"
"Hallo Naga.... aNAk GAnteng, ckckck"
ππππππππ
Suka suka Lo deh bang, π€π€π€π€
itu cebong udah lahir jadi Nagaππππ
__ADS_1
Like KOMENNYA yuk RAMAIKAN β₯οΈπ€π€