Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 165


__ADS_3

🌻🌻🌻


Senyum mengembang diwajahnya Melisa semenjak Keluar dari ruangan dokter Rissa, dengan menggendong baby Cha dalam dekapannya ia melangkah bersama sang suami untuk segera kembali kerumah mengumpulkan anak-anaknya.


Reza yang sesekali melirik kearah istrinya ikut merasa sangat bahagia, baginya tak ada yang lebih berarti selain membuat KHUMAIRAHnya tersenyum.


"Mau beli makanan dulu gak?" tawar Reza saat keduanya dalam perjalanan pulang.


"Enggak, Mas. Mas Reza mau sesuatu?" Melisa justru balik bertanya.


"Aku mau nasi goreng, kita cari sebentar ya"


Melisa hanya mengangguk, ia terus mengusap kepala baby Cha sambil sesekali menciuminya tanpa bosan.


"Ra, kamu tahu gak?"


"Apa?" Melisa langsung menoleh dan menatap suaminya bingung.


"Hari ini kita belum ciuman" kekeh Reza dengan mengedipkan satu matanya.


"Masa sih?" Melisa nampak berfikir sejenak ia sedang mengingat setiap detik kejadian hari ini sedari bangun tidur pagi hari.


"Udah, ah!" elak Melisa kemudian.


"Belom, Ra... baru mau eh di ganggu sama Bu pas dia Kentut kenceng banget akhirnya kamu malah ketawa, terus gak jadi" kata Reza menceritakan bagaimana kecewanya ia saat ia menikmati bibir ranum sang istri namun harus di skak oleh dentuman bom baby Bu.


"Hahaha, Mas Reza inget aja" kekeh Melisa, ia ikut tertawa mengingat kejadian hal itu.


"Tadi Rissa nawarin alat kontrasepsi ya?"


"Iya, tapi aku masih bingung, kayanya aku harus ngobrol dulu sama Mama Karna aku gak ngerti sama sekali kaya gitu" jawab Melisa.


"Emang harus? ada efeknya loh, Ra" kata Reza


"Pasti ada, makanya aku gak mau gegabah, Mas. karna ini menyangkut tubuh aku sendiri nantinya" jelas Melisa.


"Kalo gak pake alat kontrasepsi gimana?" tanya Reza.


"Ya, aku bisa hamil lagi hamil lagi" kekehnya.


"Mas Reza mau punya anak banyak?" sambung Melisa lagi.


"Emang ini kurang banyak?, sampe mau nambah" ucap Reza di sela gelak tawanya.


"Segini aja udah lah, tiga aja mau peluk susah banget, hiks" ujar Reza dengan tampang di buat sesedih mungkin.


CUP..


Melisa langsung mencium pipi kiri suaminya sekilas, namun siapa sangka ke isengan nya justru seperti membangunkan singa lapar..


"Lagiiiiiiii... yang ini yang ini yang ini yang ini yang ini yang ini yang ini yang ini pokoknya semuanya!" pinta Reza sambil menunjuk seluruh wajahnya dengan jari telunjuk.


"Gak usah aneh aneh, cepet ah, kasian Cahaya takut badannya sakit di gendong terus"


Reza hanya bisa memanyunkan bibirnya, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil mencari kedai nasi goreng incarannya.

__ADS_1


Sampai pada saat ia menepikan kereta besi itu di depan sebuah angkringan yang ramai pembelinya.


"Kamu mau gak?" tawar Reza sebelum keluar dari mobil.


"Enggak, Aku makan di rumah aja, masih ada sup pangsit ayam buatan eyang" sahutnya.


"Ok, kamu tunggu disini ya"


Reza akhirnya keluar untuk memesan nasi goreng favoritnya, kini tinggal Melisa dan Cahaya di dalam mobil menunggu.


"Cup cup cup, sayang"


Melisa mencoba menenangkan baby Cha yang mulai merengek.


"Bentar lagi sampe rumah ya, nanti bobo bareng sama kakak Ay sama Kakak Bu"


Ia mulai menyodorkan wadah ASI alaminya ke dalam mulut mungil si bungsu dengan Sabar karna bagaimana pun selama di rumah sakit Cahaya sudah terbiasa dengan dot botol.


"Nangis ya?" kata Reza setelah masuk kembali membawa bungkusan di tangannya


"Iya, Mas"


"Ya udah kita pulang"


Reza langsung menyalakan mesin mobilnya, menjalankannya dengan kecepatan hampir penuh membuat Melisa harus berkali-kali mengingatkan suaminya itu agar berhati-hati karena tak jarang Reza menekan klakson pada pengendara lain yang menghalanginya jalannya.


Sampai di garasi rumah, Melisa dengan segera masuk kedalam disusul Reza yang mengekor di belakangnya dengan membawa beberapa perlengkapan baby Cha di tangannya.


"Wah, kumpul semua disini" kata Melisa saat memasuki ruang tengah kelurga


"Rewel ya, Mah?" tanya Reza.


"Enggak, cuma lagi main main aja disini" sahut mama.


"Cucu papa satu lagi datang nih" ujar papa yang langsung bangun dari duduknya.


"Cantik, cantik sekali"


Papa menatap Cahaya dengan sorot mata yang sangat hangat, meski sedikit berkaca-kaca.


Reza yang peka akan hal itu langsung mengambil Bu dari papa, dan Melisa menyerahkan Chaca pada papa.


"Anak gadisnya, oppa" Bisik papa sambil mencium pucuk kepala cahaya yang tertutup topi rajutan berwarna merah muda.


"Kapan hotel yang di kota x rampung Za?" tanya papa tiba-tiba.


"Dua bulan lebih lagi kayanya, kenapa?" tanya Reza bingung dengan pertanyaan papa yang tiba tiba membahas hotel yang sembilan bulan ini sedang dalam masa pembangunan.


"Berikan nama Cahaya untuk hotel itu" titah papa, yang membuat Melisa menelan salivanya kuat kuat.


***


Usai bermain main diruang tengah bersama kakek dan neneknya selama Reza dan Melisa makan malam kini saatnya mereka membawa ketiga anaknya masuk kedalam kamar karna waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Baby Ay, Bu dan Chaca sudah terlelap di box nya masing masing yang berjejer rapih di samping tempat tidur.

__ADS_1


"Kapan mereka nempatin kamarnya sendiri?" kata Reza sambil memeluk Melisa dari belakang saat Istrinya sedang menyisir rambut panjangnya yang terurai Sepinggang.


"Nanti, Mas, kalau udah gede" sahut Melisa sambil mengelus tangan Reza yang melingkar di Perutnya.


"Udah jarang begini ya? padahal anak anak baru seminggu" keluh Reza dengan dagu yang sudah ia letakan di bahu kanan istrinya.


"Aku cinta kamu, Ra. cinta banget sama kamu"


Melisa langsung memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Reza, kini kedua tangannya sudah ia letakkan di leher sang suami, dengan senyum manisnya ia mampu membuat Reza tergoda dan tanpa membuang waktu lama keduanya pun menikmati sentuhan bibir satu sama lain, pelan namun pasti hingga akhirnya saling menuntut untuk lebih memperdalam ciumannya.


Reza semakin menekan tengkuk Melisa, ia hanya memberi jeda beberapa detik untuk mengambil nafas kemudian melanjutkannya kembali sampai tak terasa kini Melisa sudah berada di bawah Kungkungan suaminya diatas ranjang. Dengan nafas memburu Reza terus melayangkan aksinya tak perduli dengan sang istri yang harus tersengal berkali-kali.


"Mas"


Lenguhan sang istri justru membuatnya semakin menggila, tak lagi bibir ranum yang ia nikmati, leher putih sang istri pun tak luput dari sentuhannya hingga ada beberapa jejak merah yang sengaja ia buat sebagai bukti bagaimana akhir akhir ini ia sangat merindu.


"Eeeaaaaaaaakk"


"Awas, Mas" Melisa langsung membuka matanya dan reflek mendorong tubuh Reza dari atasnya saat mendengar tangis salah satu anaknya.


Hufttt bathin Reza, kesal!


Melisa bangun dari tidurnya sambil merapihkan piyama tidurnya yang seluruh kancingnya sudah terbuka, bahkan bungkus kedua gunung Everest nya pun sudah terlepas dari pengaitnya.


"Ra..." panggil Reza yang kini sudah terlentang di tengah kasur.


"Apa?" sahutnya sambil duduk bersandar punggung ranjang menyusui Ay.


"Aku mau ganti nama Ay" ucapnya santai sambil menatap langit langit kamarnya.


"Ganti nama? kenapa? tanya Melisa bingung


"Ay tuh ya ampun kalo nangis heboh banget kaya abis di gigit Singa suaranya" oceh Reza.


"Lalu?"


"Mau aku ganti!" jawabnya sambil menoleh.


"Apa?, mas Reza mau ganti nama Air pake apa?" tanya Melisa sambil memicingkan matanya.


" P E T I R !!!!"


⚡⚡⚡⚡⚡⚡⚡⚡


Geludug bang sekalian...


Makanya bikin anaknya yang slow dong jangan teriak teriak🤭🤭🤭🤭🤭...


Like komennya yuk ramaikan ♥️🤗🤗


Alhamdulillah kumpul


Air.. bumi.. cahaya 🤩🤩


__ADS_1


__ADS_2