
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Atas izin semua anak-anaknya, Reza dan Melisa akhirnya pergi keluar kota hanya berdua saja. Mereka ingin menikmati masa masa indah di ujung hari tua lebih intim. Di antar oleh supir, keduanya pun duduk manis di kursi belakang sambil saling menggenggam tangan.
Perjalanan kurang lebih dua jam mereka tempuh dengan membahas banyak hal untuk mengusir rasa jenuh, meski tak begitu jauh hanya sebatas di kota sebelah tapi tetap saja membuat keduanya ingin segera sampai.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, karna Air dan Bumi sudah mengancam sang supir jika terjadi sesuatu di jalan pada orang tua mereka.
Dua anak laki-laki itu benar-benar sangat khawatir sampai si sulung harus menangis di pangkuan mamanya sebelum pergi.
Reza sesekali menoleh kearah belakang, ada tiga mobil yang mengantar mereka. Satu di depan dan dua di belakang yang salah satunya di isi oleh team dokter yang akan siap siaga selama dua puluh empat jam.
"Sepertinya aku sedang melewati jalur karma, Ra" ucap Reza sambil terkekeh.
"Karma? maksud mas Reza apa?" tanya Melisa bingung, ia tak paham apa yang di maksud oleh suaminya karna yang ia tahu jika pria kebanggannya itu tak pernah berbuat macam macam.
"Dulu anak anak sering kesal jika aku memberi penjagaan ketat meski dari jauh dan tersembunyi kecuali Adek yang benar-benar di pantau dari jarak dekat. Si kakak sering marah-marah karna tak leluasa saat balap di jalan atau saat pacaran jamannya ia masih sekolah dulu. Ternyata memang tak enak ya?" jelas Reza seolah mengenang masa lalu puluhan tahun silam.
__ADS_1
Melisa langsung tertawa kecil, ingatannya pun kembali ke masa itu, masa di mana si kembar selalu meledek suaminya yang katanya memiliki baskom ajaib karna selalu tahu apa yang sedang mereka lakukan di luar rumah.
"Aku hanya takut terjadi sesuatu pada mereka, Orang-orang ku harus sigap menolong jika dalam keadaan mendesak"
"Aku paham, Mas. Kamu yang terbaik dalam hal. menjaga kami, Terima kasih, cintamu pada keluarga memang luar biasa" balas Melisa yang berhambur memeluk suaminya.
Reza selalu mengawasi semua keturunannya dengan cara pantauan jarak jauh, Orang-orang suruhannya pun bukan orang sembarangan tapi meski begitu mereka tak pernah memakai pakaian rapih seperti stelan jas hitam seperti pada umumya. Jadi tak salah jika si kembar tak pernah tahu siapa saja yang sedang mengawasi mereka, penjagaan selalu di lakukan se natural mungkin agar anak anak selalu nyaman tanpa merasa di ikuti.
"Mereka ingin melakukan hal yang sama, Mas. Menjaga kita dengan sebaik mungkin"
.
.
"Ayo, Ra. Pegang tanganku, nanti kamu jatuh" ucap Reza seraya mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Khumairahnya.
"Kapan kita terakhir kesini, Mas? . Aku lupa" tanya Melisa dengan sorot mata menatap kearah Villa.
__ADS_1
"Empat atau lima tahun lalu, akupun tak terlalu ingat"
Keduanya masuk kedalam, sudah ada tiga pelayan dan penjaga yang menyambit di depan pintu.
"Semuanya masih sama, bersih dan mewah" ucap Melisa sambil mengedarkan pandangan.
Reza dan Melisa masuk ke kamar mereka yang kini sudah pindah ke lantai bawah. Keduanya menikmati angis sore di teras yang langsung menghadap ke danau buatan.
"Jika seindah ini, seakan membuatku tak ingin kemana mana, Mas" ucap Melisa yang di peluk dari belakang oleh sang suami.
.
.
.
Kehidupan itu bagai bertamu, Ra...
__ADS_1
Semewah dan senikmat apapun hidangannya, kita harus tetap pulang ke tempat asal.