Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 169


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻


Semua berjalan normal setelah pernikahan Air dan Hujan, malah keduanya kini sudah melanjutkan lagi aktifitas kuliahnya seperti biasa.


Adanya anggota keluarga baru di rumah tentu membuat apartemen milik Reza dan Melisa kini bertambah ramai. Ada saja tingkah pengantin baru itu yang membuat sang mama harus memijit pelipisnya.


Yang paling senang tentu disini adalah si bungsu karna ia punya teman mengobrol yang seusianya.


Cahaya yang tak di izinkan keluar rumah setelah lulus sekolah membuatnya sangat kesepian.


Hidupnya bagai di sangkar emas atau seakan menjadi Rapunzel versi modern.


.


.


.


"Kak Hujan baru pulang?" tanya Cahaya saat berpapasan dengan kakak iparnya itu di tengah tangga.


"Eh, iya, kenapa?" Hujan balik bertanya.


"Mau balik ke kampus lagi?"


Si bungsu yang sudah hafal dengan jadwal kuliah Hujan yang sangat padat terkadang kecewa saat gadis itu kembali meninggalkannya.


"Enggak, cuma habis ini mau ke toko buku, mau ikut gak?" ajak sang kakak ipar yang langsung membuat Cahaya berjingkrak senang.


"Mau..mau..mau"


" Ya udah, izin Mama dulu ya. Kakak tadi udah izin pas di bawah, kakak ganti baju dulu ya" ucapnya pada si bungsu.


"Siap kak" jawabnya dengan mengacungkan dua jempolnya.


Hujan tersenyum sambil mengusap lengan Cahaya, dalam segi umur Ia memang lebih muda beberapa bulan dari si kembar tapi tetap saja, Cahaya akan selalu menjadi bungsu dan Hujan tetap akan menjadi kakak tertua.


Gadis manja itu meneruskan langkahnya ke lantai bawah untuk menemui Melisa yang sedang membantu ART di Gudang, ada beberapa barang yang akan Melisa sumbangkan seperti biasa.


"Maaaah" panggilnya di depan pintu.


"Iya, sayang, jangan masuk banyak debu" ucap Melisa yang melarang Putri Kesayangannya itu mendekat.


Cahaya kembali mundur dua langkah menuruti permintaan sang mama.


"Ada apa , sayang?, kamu lapar?" tanya Melisa setelah membuka celemek dan sarung tangannya.

__ADS_1


"Enggak, Mah. Aku mau ikut kak Hujan ke toko buku, boleh?" pintanya dengan memelas.


Melisa mengernyitkan dahinya


"Kamu tau, kan. Mama gak bisa kasih izin kamu keluar rumah, telepon papa ya. Minta izin sama papa, Ok" saran Melisa, Ia memang tak berani melakukan hal itu karna jika hal buruk terjadi pada si bungsu sudah bisa di pastikan betapa murkanya sang suami nanti.


"Ih, Mama" dengusnya kesal sambil meraih ponsel di saku celananya.


Gadis cantik Kesayangan Reza itupun mulai menghubungi papanya yang baru saja selesai mengadakan rapat di salah satu hotel miliknya.


"Hallo, Papa" sapanya pada Reza.


"Iya, sayang. Ada apa?" tanya Reza langsung.


"Aku mau ikut kak Hujan ke toko buku, boleh?" izinnya dengan manja agar Pria posesif itu mengizinkannya.


"Mau apa?, pesan aja nanti di kirim buku nya kerumah"


Cahaya merengut kesal, jika Reza ada di hadapannya mungkin ia sudah mengeluarkan jurus jitunya yaitu memeluk sambil merengek.


"Gak, aku mau ikut kak Hujan" ucapnya lagi dengan sedikit memaksa.


Reza menghela nafas, rasa tak rela dan khawatir mulai menghinggapi hatinya yang selalu merasa takut jika putrinya pingsan di luar sana.


"Dek, nurut sama papa ya sayang" pinta Reza pada Cahaya hidupnya itu.


"Ok, tunggu dua puluh menit lagi ya" titah Reza yang akhirnya mengalah.


Cahaya langsung tersenyum saat papanya mengizinkan ia keluar rumah, ia hadiahi begitu banyak ciuman untuk Reza sampai pria itu harus terkekeh di sebrang sana.


.


.


Hujan yang sudah berganti pakaian pun turun kembali menghampiri adik dan mama mertuanya yang sedang mengobrol di ruang tengah.


"Yuk, dek" ajak Hujan.


"Jangan lama-lama ya, Mama titip Adek" pesan Melisa dengan sorot mata menatap sang putri.


"Iya, Mah. Kalau udah dapet bukunya kita langsung pulang kok" jelas Hujan pada mama mertuanya.


"Ya sudah, hati hati di jalan ya"


Dua gadis cantik itu mengangguk berbarengan, Cahaya yang sudah sangat senang langsung bergelayut manja di lengan kakak iparnya.

__ADS_1


CEKLEK..


Keduanya terkejut saat ada enam pria berpakaian rapih lengkap dengan kaca mata hitam sudah ada di depan pintu apartemen.


"Wow, ada apa ini?" gumam Hujan.


"Selamat sore Nona muda" ucap mereka berbarengan dengan sopan.


"Mau apa ya?" tanya Hujan yang merasa bingung, ia yang memang baru masuk ke dalam keluarga RAHARDIAN tentu belum banyak mengerti.


"Kami ditugaskan Tuan besar untuk mengawasi nona muda selama di luar" jawab salah satunya.


Hujan menelan Salivanya kuat kuat sedangkan Cahaya merengut kesal.


"Papa nyebelin!!" umpatnya marah.


Hujan hanya mengangguk pasrah lalu menarik adiknya itu untuk berjalan lebih dulu menuju lift sambil berbisik..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dek, di ikutin begini kok kakak berasa jadi tersangka ******* ya??


💕💕💕💕💕💕💕💕


Emang enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣


Antara suami dadakan, Air Hujan dan Heavnly Earth akan berbeda waktu mulai part ini ya 🙏🙏

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan ❤️


__ADS_2