Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra part 73


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻


"Lo ngapain disini? " suara Air jelas membuat gadis itu tersentak kaget.


"Lo!" Tunjuk nya dengan sisir yang sedang ia pegang.


"Lo ngapain disini?" Air mengulang pertanyaannya, gadis itupun bangun dark duduk.


"Tunggu ya, Nek" ucapnya sebelum menghampiri Air.


Kini dua remaja itu saling berhadapan dan juga saling tatap menantang.


Tangan Air yang melipat di dada berbeda dengan tangan si gadis yang ia letak kan di pinggang rampingnya.


Dengan senyum menyeringai Air mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat.


"Lo gak denger ya sama apa yang gue tanya!"


"Lo gak liat kuping gue ada dua, hah?" sentak si gadis tak terima sambil mendorong tubuh Air hingga ia mundur dua langkah.


"Wow, udah tiga kali Lo dorong gue!"


"Apa?, Mau lagi!"


Air mendecak kesal kemudian melangkah menghampiri wanita tua yang sedari tadi memperhatikan perdebatan mereka.


"Minggir Lo!"


Air langsung duduk di kursi plastik yang ia ambil di sudut kamar, tangannya meraih tangan si nenek yang tampak sudah sangat keriput putih pucat.


"Nenek, sehat?" tanya Ay


Wanita tua beruban itu hanya mengangguk kan kepalanya, sepertinya ia lupa pada pemuda yang kemarin membawanya kemari.


"Udah makan belum?, kalau lapar bilang ya, gak boleh nangis nangis lagi kaya kemarin , ok"


Lagi-lagi ia hanya mengangguk tanpa mau menjawab dengan suara.


"Kayanya nenek bisu" kata si gadis yang masih berdiri di tempat yang sama.

__ADS_1


Air menoleh sambil mengernyitkan dahinya.


"Gue ajak ngomong juga gak bersuara sama sekali" tambahnya lagi.


Air kembali menghadap pada si nenek yang menunduk kan wajahnya sedih.


"Gak apa-apa, kalau emang bener kan nenek masih bisa jadi pendengar yang baik, nenek masih bisa pake bahasa tubuh biar kami disini ngerti apa yang nenek mau, gak usah takut ya disini baik-baik semua pokonya sebelum ada keluarga nenek yang jemput nenek bisa tinggal disini" pesan Air panjang lebar.


Tubuh tinggi sempurna Air langsung di peluk oleh wanita tua tersebut yang menangis tersedu-sedu, Tentu Air membalas dekapannya sambil mengusap punggung si nenek yang terasa hanya tulang berbalut kulit keriput.


"Jangan nangis, nanti kakak ikut sedih. kakak inget Oma" bisik Air yang sudah berkaca-kaca.


wanita tua itu mengurai pelukannya dan mengangguk, Air menghapus air mata nya dan juga air mata si nenek dengan ibu jarinya.


"Istirahat ya, kakak mau ke depan dulu" pamitnya yang di balas Anggukkan lagi.


Setelah membaringkan tubuh ringkih itu, Air langsung menarik tangan si gadis keluar dari kamar.


"Aw, sakit!" pekiknya keras.


"Lo yakin dia bisu?" tanya Air langsung tanpa basa basi.


"Hem, iya sih. Lo siapa? kenapa disini?, mau apa? ada urusan apa?" Air memberondong si gadis dengan banyak pertanyaan.


"Huft, banyak banget sih, gue jawab semua nih?" tanya yang sudah melipat tangan di dada sambil bersandar di tembok.


Air mengangguk dan siap mendengar jawaban.


"Gue Hujan, gue disini ikut Bunda, Bunda gue salah satu tenaga medis keliling di kota ini, ya... cuma mau main aja sih gak Lebih" jelasnya pada Air.


"Oh!"


"Lo juga mau ngapain disini?" Hujan balik bertanya.


"Dih, suka-suka gue lah!" cibir Air dengan senyum ejekannya.


"****!!" umpat Hujan, kesal.


"Lo gak mau tau nama gue siapa?" tanya Ay dengan percaya diri.

__ADS_1


"Buat apa?, gak penting banget!" sahut Hujan, sombong


"Lo harus nanya, sekarang!" titah remaja tampan itu.


Kini air sudah mengungkung tubuh Hujan di tembok dengan kedua tangannya, Gadis itu mulai panik dan tak bisa berkutik mana kala Air malah semakin mendekatkan tubuhnya.


"Lo mundur, atau gue teriak!" ancam Hujan, keningnya mulai mengeluarkan buliran keringat.


"Tanya gue dulu!"


Hujan memalingkan wajahnya saat deru nafas pria itu bagai angin di hadapannya.


"Siapa nama Lo?" Karna rasa takutnya, Hujan akhirnya bertanya dengan nada bergetar.


.


.


.


.


.


.


.


RAHASIA....


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Huaaaaaaa


Cebong nakal 😭😭😭


Udah gede ya kak, jangan rapet rapet ya sayang.


gue belom siap

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan ♥️


__ADS_2