
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Aku Nana...
Langit mengernyitkan dahinya lalu bangkit dari duduk, sembari menghapus jejak kebasahan di wajahnya.
Ia menatap gadis cantik itu dengan seksama dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
"Siapa?, apa kamu keluarganya?" Tanya Langit sembari melirik ke arah Wanita yang terbaring tak berdaya.
"Aku yang ngurus nyonya Diana" jawab Nana sambil mengulurkan tangannya.
"Langit"
Gadis itu tersenyum simpul, namun matanya menatap sendu pada ibu Langit.
"Jadi namanya Diana?" tanya Langit, ia kini malah di buat penasaran.
"Iya, Nyonya Diana mengalami stroke setahun belakangan ini, Kesehatannya semakin memburuk" jawab Nana.
Langit menghela nafas berat lalu kembali duduk di sisi wanita yang tak sadarkan diri itu.
"Sejak kapan dia begini?" tanya Langit lagi tanpa menoleh, bahkan ia sudah memberanikan diri menyentuh punggung tangan ibu kandungnya yang terdapat selang infus.
"Enam bulan, Bang"
Langit menoleh, ia menautkan kedua alisnya.
Masih terasa bingung dan belum terbiasa saat ada gadis lain menyebutnya dengan panggilan Abang.
"Oh.." Hanya itu jawaban Langit, lalu ia kembali menatap ibunya.
Tak ada lagi obrolan antara Langit dan Nana yang memperkenalkan dirinya sebagai orang yang mengurus Diana selama wanita itu sakit.
.
.
__ADS_1
.
"Bang..."
Reza yang akhirnya ikut masuk kedalam kamar rawat inap memanggil anak angkatnya.
"Ya, om"
Tubuh tingginya kini sudah berjalan mendekat.
"Om pulang ya?" pamit Reza, begitu banyak pekerjaan yang menunggunya saat ini, termasuk menjelaskan apa yang terjadi pada anak istrinya di rumah karna Melisa tak hentinya menelepon.
"Abang ikut"
"Jangan, temani ibumu dulu disini, Bang" Tolak Reza, ia akan membiarkan Langit untuk mengabdi pada wanita yang melahirkannya itu.
"Tapi Abang mau pulang, Om. Adek sama Buna pasti nunggu Abang" pinta pria tampan itu.
" Nanti Om yang urus semua itu" kata Reza meyakinkan Langit jika semua akan baik baik saja.
"Ya, tapi Om mohon jangan tinggalkan ibumu untuk kali ini, ia membutuhkanmu, semoga kedatanganmu membuat ia sadar kembali" Pesan Reza sambil menepuk pelan bahu anak angkatnya itu.
"Pasti, Om"
Reza menoleh kearah Nana yang juga tersenyum sopan padanya, seorang gadis berambut sebahu berstatus kan anak yatim piatu yang di pilih Reza untuk mengurus Ibu kandung dari anak angkatnya itu.
"Hubungi saya jika terjadi sesuatu" pesan Reza pada Nana.
"Baik, Tuan" jawabnya cepat.
Setelah kepergian Reza, tentu kini tinggal Langit dan Nana yang ada di dalam kamar rawat inap ibunya, Langit yang baru ingat satu hal langsung merogoh saku celananya.
"Mati" gumamnya pelan saat mengusap layar benda pipih di tangannya.
"Ada yang mau Abang hubungi?, Abang bisa pakai ponselku" tawar Nana sambil menyodorkan ponsel miliknya
"Gak usah, biar aku tunggu sampai baterainya penuh nanti" tolaknya halus.
__ADS_1
Langit yang sedari tadi kembali duduk disisi ibu kandungnya itu tak henti menatap wajah pucatnya.
Rasanya masih begitu aneh, dan ia masih menolak semua ini benar terjadi.
"Abang istirahat aja, biar Nana yang jaga Nyonya"
"Gak apa-apa, biar Abang yang jaga ibu" sahutnya yang mulai merebahkan kepalanya disisi tubuh wanita yang di sebutnya ibu itu.
Nana kembali ke sofa dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun itu merasakan hal aneh dalam hatinya..
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebegitu indah Ciptaanmu Tuhan..
sampai aku lupa siapa aku!
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Gue slepet nih ya , 😠😠😠ðŸ˜
Berani Senggol Abang Langit bersiaplah berperang dengan panci cemong!!!
Like komen nya yuk ramai kan.
__ADS_1