Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 202


__ADS_3

ðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧðŸŒŧ


"Dengan keluarga pasien?" tanya suster saat keluar dari ruang UGD


"Kami, sus" ucap Langit dan Diana berbarengan sambil bangun dari duduk. Dua orang yang sedari tadi sedang menunggu itu dengan cepat menghampiri suster.


"Bagaimana keadaan Nana, apa ia sudah sadar?" tanya Diana. Raut wajahnya terlihat begitu sangat khawatir.


"Kondisinya sangat kritis tapi pasien dalam keadaan sadar, Tuan dan Nyonya silahkan masuk" titah suster.


Setelah mengucapkan terima kasih Langit dan Diana bergegas masuk menemui Nana yang terbaring lemah di ranjang pasien setelah mengalami kecelakan, ia di tabrak sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan lumayan kencang. Nana yang di pinta Diana untuk pergi ke swalayan membeli keperluannya ternyata tanpa sengaja mengalami musibah dalam perjalanan pulang saat hendak menyebrang jalan.


"Na, ini saya, Diana" lirihnya sambil terisak.


Langit yang berdiri di sisi ibunya tak bisa melakukan apa-apa kecuali menenangkan wanita itu, Diana terus menangis karna ia tak sampai hati meliihat kondisi perawatnya yang sangat memprihatinkan.


Sedang Langit yang memang tak begitu kenal dekat hanya bisa memberi doa yang terbaik bagi gadis yang selama ini menemani ibunya dalam keadaan apapun itu.


"Mam, sabar ya" bisik Langit sambil terus mengusap bahu Diana.


"Nyo... nya" jawabanya pelan dan terbata.


Nana menoleh sedikit, ada buliah cairan bening di ujung matanya yang jatuh hingga telinga.


Gadis itu menangis menahan sakit di tubuhnya.


"Maaf, maafkan saya. Seharusnya saya tidak memintamu untuk keluar, Na" Ucap Diana penuh sesal.


Nana hanya tersenyum, dari senyumnya seperti mengisyaratkan jika ia tak masalah dengan semua yang di perintahkan Diana padanya karna itu memang sudah tugas Nana sebagai perawat yang merangkap memenuhi segala kebutuhan Diana.

__ADS_1


"Saya akan melakukan yang terbaik untukmu, kamu akan sembuh, Na" Diana terus meyakinkan dirinya dan juga gadis itu.


Lagi lagi Nana hanya tersenyum sambil mengangguk sekali, jika ia bisa mengeluh ia ingin mengatakan jika tubuhnya kini bagai remuk semuanya dengan rasa sakit yang luar biasa.


"Saya akan selalu bersama Nyonya" ucap Nana pelan dengan tersendat karna sembari menahan ngilu.


"Iya, kamu tak boleh kemana-mana, Kita akan selalu bersama sama" jawab Diana sambil terisak, entah kenapa kini merasa takut dan rasa takutnya kini berbeda.


"Mam, sudah. Kasian Nana" Langit semakin tak tega saat ibu kandungny tu justru histeris.


"Mami minta tolong sama kamu, lakukan yang terbaik untuk Nana." mohon Diana pada putranya berharap dengan kekuasaan dan harta yang pastinya melimpah Langit mau memberikan pengobatan yang terbaik untuk perawatnya itu.


"Tanpa Mami minta, Abang pasti lakuin itu semua" jawab Langit meyakinkan.


Diana berhambur memeluk anak tunggalnya, kini ia tak lagi sendiri dalam kedaan apapaun karna ada Langit yang sekarng menjadi sandarannya.


"Nyonya..Tuan" panggil Nana, dua orang itu lalu menoleh dan kembali mendekat.


"Saya ingin meminta maaf jika selama ini saya kurang baik dalam bekerja merawat Nyonnya," ucap Nana pilu denngan nafas berat dan tersengal.


"Jangan katakan itu, kamu sudah sangat baik selama bersama saya" elak Diana yang merasa jika Nana lain dari biasanya.


Nana menjawab dengan anggukan dan senyum, tapi sorot matanya beralih pada Langit. Sosok yang sangat ia kagumi saa pertama kali mereka bertemu.


"Tuan.."


"Panggil kakak ya, jangan panggil saya seperti itu" pinta Langit. Setelah Cahaya memberi peringatan pada Nana, gadis itu memang sudah tak lagi menyebutnya Abang,


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


"Ada yang ingin Nana katakan pada kakak"


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Tolong jangan bisik bisik ya..


karna pasti jiwa kepo ku meronta ronta ðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢ


Nyiapkeun goreng tahu heula ah jeng cabe rawit buat nyimak si Nana ngasih wasiat 😂


Eh.. jahat banget loh gue akhir-akhir ini.


Ada yang sependapat ðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠ

__ADS_1


Maklum belom dapet cium dari 🐘🐘🐘


Like komennya yuk ramaikan


__ADS_2