
π»π»π»
"Mas, ayo dimakan"
Suara Melissa mengagetkannya yang sedang fokus menatap serius ke arah layar ponsel, ia bahkan hampir saja menjatuhkan benda pipih itu karna tersentak.
"Iya,Ra. aku kira pesenan nya belum datang"
"Mas Reza terlalu fokus, kalo aku tinggal juga gak akan sadar tuh kayanya" cibir si ibu hamil sambil melepas telur puyuh dari tusukannya.
"Enggak, Sayang!"
"Chat sama siapa sih?, sampe segitunya" Melisa terus mengoceh namun matanya tak sedetikpun melihat kearah sang suami.
"Lagi bahas kamar, Ra" hanya itu alasan yang Reza berikan, lalu mengaduk bubur di hadapannya memberikan kecap manis lagi dan sambal kedalam mangkuk.
"Emang kita mau tinggal dirumah terus? gak akan pulang ke apartemen?"
Reza menoleh, ia sedikit mengernyitkan dahinya.
"Kamu mau pulang?" tanya Reza kemudian setelah menyuapkan satu sendok bubur kedalam mulutnya.
"Enggak sih, nanya aja. bukannya mas Reza yang bilang pengen kita mandiri"
"Aku gak mau ambil resiko buat saat ini"
kini Melisa yang bergatian mengernyitkan dahinya, bingung.
"Aku kenapa?, resiko apa yang sedang mas Reza akan hadapi?"
"Sayang, punya bayi gak semudah yang kita bayangin. Iya, bikinnya gampang tapi pas udah jadi bayi pasti repot saat kamu udah melahirkan nanti, aku gak mau kamu terlalu cape, kamu harus punya waktu buat diri kamu sendiri dan buat kita, kalau di rumah mama banyak yang jagain kamu bisa leluasa istrirahat dan lakuin kegiatan lain tanpa harus takut bayi kita sendiri, Ok"
"Iya, Mas"
"Jangan jadikan anak alasan buat bilang kamu gak sempet untuk MeTime"
"Kamu prioritas ku, kamu jantungnya rumah kita, Ra" lanjutan nya lagi, yang membuat istrinya mengulum senyum karna tersentuh dengan kata katanya.
"Kalau udah balita, kita baru pindah ya"
Melisa hanya mengangguk, ia raih tangan suaminya kemudian di genggam.
"Terima kasih, Mas atas pengertian mu"
"Sama sama sayang, cepet abisin habis ini kita pulang. Eh ke kantor dulu sebentar ada yang mau aku ambil"
"Apa?"
"Kerjaan, Ra. tadi aku lupa"
Keduanya melanjutkan makan hingga habis tak tersisa, melakukan transaksi dan kembali kedalam mobil.
__ADS_1
Dua puluh menit waktu yang di lewati Reza untuk sampai di lobby parkiran kantornya saat ini.
"Mau ikut?, aku sebentar doang sih"
"Gak deh, aku tunggu disini aja"
"Diem diem ya, jangan keluar aku cuma lima belas menit" pesan nya pada sang istri.
"Iya"
Reza membuka pintu mobilnya untuk keluar memasuki gedung pencakar langit miliknya, langkah kakinya langsung masuk kedalam Iift khusus para petinggi perusahaan termasuk dirinya.
"Sore, Pak" sapa Viana yang langsung bangkit dari duduknya saat melihat bos besarnya berjalan semakin dekat
"Sore, Vi. saya langsung pulang tolong semua kamu kirim lewat email aja ya, termasuk agen saya besok"
"Siap, Pak. tapi besok bapak jangan lupa ada kunjungan ke luar kota, di kota x tepatnya"
"Ya ampun saya lupa, harus saya ya yang kesana?" tanya Reza.
"Iya, Pak, bulan kemarin kunjungan bapak sudah di cancel" sahut Viana menginformasikan.
"Ya sudah, saya masuk dulu ya"
"Iya, Pak, silahkan"
Reza membuka pintu ruangannya, ia menghela nafasnya berat sebelum melanjutkan langkah menuju meja kerjanya.
***
"Ko lama?"
Melisa langsung menodong suaminya dengan pertanyaan saat Reza baru saja masuk kedalam mobil.
"Katanya cuma lima belas menit, ini udah dua puluh tujuh menit" Melisa menunjuk kan timer ke hadapan wajah reza.
Suaminya terkekeh saat melihat angka di layar ponsel istrinya.
"Aku udah kaya pelari Marathon aja,Ra"
"Abis lama banget" dengusnya kesal.
"Maaf, aku tadi bicara sebentar sama Viana, dia kasih tau kalau besok aku ada kunjungan keluar kota" ucap Reza sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Besok? keluar kota?" tanya Melisa.
"Iya, sayang gak lama ko' aku bisa pulang kerumah kaya biasanya"
"Sama siapa?, Viana?"
"Enggak, dia mah khusus di kantor" kekehnya sembari terus memfokuskan mata ke arah jalanan di depannya.
__ADS_1
Pintu gerbang terbuka sebelum Reza menekan klakson mobilnya, para penjaga sangat sigap jika menyangkut masalah kedatangan para majikannya.
Tak pernah sampai menunggu Karna sepersekian detik pagar besi yang menjulang tinggi itu akan terbuka dengan sangat lebar
"Aku langsung mandi, mau bareng gak?"
"Gak, nanti aja" sahutnya yang langsung berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian.
Melisa terdiam di sebuah cermin besar yang bisa memperlihatkan full body nya dengan nyata.
Entah kenapa kepergian suaminya esok langsung mengganggu fikirannya.
"Aku sebesar ini sekarang?"
"Aku terlalu gemuk!"'
"Ya ampun, pipi ku"
Melisa lalu berputar di depan cermin tersebut beberapa kali, mengusap perutnya yang entah sebesar apa, malah justru lebih besar dari buah semangka.
"Kenapa?" tanya Reza yang langsung memeluknya dari belakang dengan dagu sudah berada di bahu suaminya.
"Aku gak kaya dulu, aku gendut, aku besar banget" lirihnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu pasti malu ya kalau bawa aku keluar? maaf Mas" kini ia sudah terisak.
"Ya ampun,Ra. aku gak pernah malu Sayang, aku malah seneng kemanapun sama kamu"
"Tapi aku gendut banget"
"Kan karna ada anak kita, nanti habis lahiran kan bisa kurus lagi"
"Aku sebesar ini udah gak menarik banget, Mas"
"Siapa bilang? kamu selalu menarik buat ku, Ra. buktinya aku nempel terus sama kamu"
Melisa langsung memutar tubuhnya agar bisa mencubit perut Reza yang polos.
"Eh, aku gak narik loh, aku tadi cuma mau Cubit" Melisa mundur satu langkah dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Masa?, ko bisa jatoh anduknya kalo bukan kamu yang narik?" goda Reza.
"Bener, sumpah! aku gak narik, Mas, itu lepas sendiri"
"Ya udah, terlanjur tegang, lemes in lagi nih cepetan" ledeknya sambil meraih tangan istrinya.
ππππππππππ
Tegang mulu bang, rileks Napa..
Baperan banget sihπππ
__ADS_1
Like komennya nya ya jangan lupa π₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ