Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 235


__ADS_3

🌻🌻🌻


" Ya ampun Raaaaaa... kamu selingkuh lagi!"


Teriakan Reza di ambang pintu mengalihkan perhatian Melisa yang sedang mengusap punggung Langit dengan penuh kasih sayang.


"Aku tungguin di kamar, malah peluk pelukan, udah kaya drama Teletubbies!" sungutnya kesal sambil meraih tangan Melisa agar berdiri, setelah itu ia peluk dengan erat.


"Ini punya om, paham!" ocehnya dengan kepala berada bahu istrinya.


Langit tertawa pelan melihat kelakuan pria dewasa di hadapannya itu, Rasa cemburu Reza padanya memang di luar nalar manusia normal, tapi sejatinya memang bocah sembilan tahun itu selalu menjadi saingan terberatnya selama tujuh tahun ini.


perhatian Melisa kini sudah terpecah belah dan tercecer dimana-mana itulah yang kadang membuat pria yang kini berusia tiga puluh enam tahun itu sering uring-uringan setiap malam.


"Yuk tidur" ajaknya setelah mengurai pelukannya.


"Hem" sahut Melisa malas.


"Jawab gak, atau aku cium depan Abang?" ancamnya dengan tangan menangkup wajah KHUMAIRAHnya.


"Ish, Iya.. iya.. ayok tidur!" jawab Melisa dengan kesal.


Langit yang sudah bersiap membuang muka akhirnya terkekeh.


"Langsung tidur ya, bang. Besok kita kerumah oppa" kata Melisa mengusap pipi Langit.


"Iya, Bun"


Reza berjalan keluar kamar sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang membuat Melisa harus berkali-kali menyikut perut suaminya itu karna Sulitnya ia berjalan.


"Awas, mas" dengusnya kesal yang terus minta di lepaskan.


BRUK..


Reza mendorong Istrinya ke sisi ranjang dengan posisi duduk, Melisa yang terkejut hanya diam menatap suaminya yang berdecak pinggang.


"Mas Reza mau apa?" tanya Melisa.


"Huft!" Reza membuang nafasnya kasar, kemudian ikut duduk di sisi istrinya.


"Sakit!" ucapnya dengan wajah menyedihkan, saat ia meraih tangan Melisa untuk menyentuh dadanya.


"kenapa?" tanya Melisa bingung.


"Ini kamu di sentuh Abang lagi.. lagi... lagi." Reza menunjuk gundukan daging kenyal milik istrinya yang menjadi lahan favoritnya jika sedang piknik.


"Aku cuma peluk Abang, gak ngapa-ngapain" jelas Melisa, ia tahu kini Suaminya sedang merajuk tak jelas.


"Aku tuh lagi ngambek, lagi marah bukannya di rayu malah sekalian pelukan sama Abang!" ocehnya sambil mengusap tengkuk Melisa sampai bulu halus wanita itu meremang menahan geli.


"Mas Reza ngambekin apa?" Ia tahu namun memilih pura pura tak tahu.

__ADS_1


"Abis ngobrol sama si duren eh lanjut pelukan sama berondong, kamu pikir aku gak punya hati?"


"Hahahaha, mas Reza gak jelas, udah ah aku mau tidur!"


" Eh aku belom selesai bicara, Ra" keluh Reza saat Melisa sudah meringsek ke tengah kasur menarik selimutnya sampai sebatas leher.


"Ngomong aja sana sama tembok, aku males denger" gumamnya pelan dengan mata yang sudah terpejam.


Reza yang melihat sikap acuh istrinya semakin frustasi, mengacak-acak rambutnya sendiri untuk melupakan rasa kesalnya.


"Ra, aku gak peluk kamu ya!" ancamnya.


"Hem.."!


"Raaaaa, mau aku peluk gak?"


"Enggak, gerah"


"Ya ampun, kamu jahat hari ini, Ra"


Melisa tak lagi menjawab, hari ini ia rasa cukup sangat melelahkan ditambah drama kecemburuan Suaminya yang membuat ia merasakan sakit di kepalanya antara kesal dan gemas.


"Tapi aku pengen peluk, Ra.. tapi aku juga lagi kesel.." umpatnya yang sudah ikut berbaring disisi Melisa.


Lama ia menatap wajah cantik alami istrinya itu, pipi putih mulus yang selalu banjir air mata saat ketiga anaknya sakit atau terluka, bibir ranum merah yang selalu menggoda untuk ia nikmati, mata lentik yang meneduhkan hatinya saat ia merasa kacau.


Pelan-pelan Reza pun meringsek mendekati tubuh langsing istrinya, di rengkuhannya bahu putih mulus itu dalam dekapannya.


Bukan aku lagi tempat kamu bersandar mencurahkan apa yang kamu rasakan.


Aku takut matamu bukan lagi ada aku!


Reza bergumam dalam hati dengan pikiran melayang jauh, sampai tak terasa ia pun akhirnya ikut terlelap.


****


"Huaaaaaaaaaa, mama kakak!" jeritan tangis Ay menggelar ke seisi dapur dan ruang tengah, Reza yang baru selesai mandi pun langsung turun kebawah dengan hanya memakai handuk sebatas pinggangnya.


"Ada apa, kak?" tanya nya yang panik, Reza langsung meraih tubuh si sulung dari gendongan istrinya.


"Perih, papa. kakak di gigit pisau mama" ucapnya sambil terisak, Reza yang bingung hanya mengernyitkan dahinya.


"Kena apa ini, kok gini?" tanyanya lagi saat melihat ujung jari anak kesayangannya itu sudah terbalut plester


"kena pisau dikit, aku bilang jangan tapi gak denger" jawab Melisa yang akhirnya duduk di kursi meja makan karna tubuhnya mendadak lemas.


"Akibat gak denger omongan mama gitu tuh" Reza mengusap jari Ay dengan lembut.


"Sakit papa, perih banget, pisaunya yang nakal"


"Udah, jagoan gak boleh nangis yuk ke kamar, papa mau pake baju dulu" Reza berlalu naik lagi ke kamarnya sambil menggendong Air.

__ADS_1


"Kakak kenapa?" tanya Langit yang baru keluar bersama Bumi dari kamarnya.


"Di gigit pisau, bang" adunya sambil menyodorkan ujung jari yang terluka.


"Pisau mama keren ya punya gigi" cibir Bumi yang lalu melengos pergi sambil tersenyum simpul.


"Bu, nakal, papaaaaaa!" rengeknya lagi.


Reza kemudian mencium pipi Air untuk menenangkan si sulung agar tak kembali menangis.


Kini Usai sudah drama gigitan pisau mamanya, ya.. itulah yang Air katakan pada siapapun yang bertanya tentang sebab ia menangis pagi-pagi tadi


Sekarang semuanya sudah berkumpul di meja makan menikmati sarapan pagi sebelum berangkat kerumah mewah kakek dan nenek si kembar.


"Kalo adek jadi sendok, Abang jadi garpu ya, biar kita sepasang" ujar Cahaya saat menyuapkan potongan roti ke mulutnya.


"Haha, adek lucu" kekeh Ay.


"Kalo aku jadi Air, harusnya Bumi jadi ember, biar kita sepasang juga, iya kan, Bu?" gelak tawa Air membuat semua yang ada di meja makan pun ikut tertawa, termasuk Bumi yang hanya tersenyum kecil dengan candaan kakak kembarnya itu.


"Gak sekalian aku jadi gayung nya?" balas Bumi.


"Gak usah kamu jadi ember aja agak gedean, hahaha" kekehnya lagi.


"Kalo mama sama papa mau jadi apa?" tanya Cahaya.


"Kalo mama jadi Upin, papa yang jadi ipin nya deh kalo gitu" kata Reza dengan senyum menggodanya.


"Kok gitu, kenapa?" tanya Melisa.


.


.


.


.


"Iya.. biar aku selalu bilang betul..betul..betul.. mencintaimu!!!"


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕***


Sakarepmu baaaaaang!


gue mah no komen lah udah klepek-klepek duluan 🤭🤭🤭🤭


bisa ae lu bikin baper emak emak 😝😝😝


Like KOMENNYA yuk RAMAIKAN


Nih bocah berdua sampe bengong liat kebucinan bapaknya 😂😂😂

__ADS_1



__ADS_2