Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 200


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻


Langit yang baru keluar dari kamar rawat inap Cahaya terus berjalan sedikit menjauh dari pintu, Ada empat orang yang berjaga disana maka itu Langit tak ingin pembicaraannya terganggu.


"Hallo, Mam" sapanya saat Diana mengangkat telepon dari Langit.


"Iya, Nak. Bagaimana Cahaya?" tanya Ibu kandungnya.


Langit tak menjawab, hanya isak tangis pelan yang bisa Diana dengar di sebrang sana, dan itu cukup menyampaikan bagaiamana kondisi Cahaya saat ini.


"Sabar ya sayang, Mami tetap mendoakan kalian dari sini. Mami pun khawatir sekali" ucap Wanita baya itu menenangkan putra kesayangannya.


"Mam, Abang takut" lirih Langit dengan nada bergetar.


"Tak ada yang harus kamu takuti, semua akan baik-baik saja. Tetap bersamanya ya, karna Mami rasa cuma kamu satu-satunya yang bisa menguatkan Cahaya" pesan Diana.


"Iya, Mam. Terimakasih atas doanya. Abang tenang karna sekarang ada Mami yang mau dengerin Abang"


"Mami akan selalu ada untukmu, tolong jaga calon menantu Mami yang cantik ya, Sayang" kekeh Diana mencoba terus menenangkan Langit yang pasti sedang merasa takut.


"Kalau malam ini Chaca sadar, besok pagi Abang akan menikahinya, Mam. Abang udah gak tahu harus gimana lagi, Abang bingung. Abang harap Mami mau nerima Keputusan Abang. Mami mau merestui pernikahan Abang" Mohon Langit dengan suara parau menahan jerit tangis.


"Tentu, Mami sangat merestui, Mami hanya butuh melihatmu bahagia, Nak. Senyum mu adalah hal yang paling berharga. Mami tak kan pernah menghambat niat baikmu" ucap Diana sebelum akhirnya sambungan telepon berakhir.


Tangis Langit kini semakin pecah, saat ia mendengar suara Diana, wanita itu ternyata bisa menguatkan hatinya yang kini sedang rapuh.


Namun di sela isak tangisnya, Langit langsung tersentak kaget saat punggungnya di usap lembut seseorang.


"Buna... "


Melisa tersenyum seperti biasanya, ia rentangkan kedua tangannh bersiap memeluk Langit.


"Udah sering Buna bilang, jangan pernah nangis sendiri, Bang"


"Maaf, Bun. Abang cuma pengen tenang"


Melisa terus menguatkan anak Angkatnya, yang mungkin besok akan menjadi menantunya jika Langit dan Cahaya berjodoh.


Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali saling menggenggam tangan dengan terus berdoa dalam hati.

__ADS_1


Berharap si bungsu segera membuka mata kembali setelah hampir seharian terbuai di bawah alam sadarnya.


"Abang mau nyiapin buat besok, Bun. Sekalian mau ke apartemen Mami, Boleh?" pamit Langit, bagaimanapun ia masih punya satu Ibu yang harus ia jaga hatinya jangan sampai ada salah paham lagi di tengah keadaan yang sedang tak baik seperti ini.


"Baiklah, biar Buna yang akan Chaca disini bersama Hujan"


Wanita cantik itu tak bisa lagi egois, ia harus merelakan kapanpun sang anak ingin menemui Ibu kandungnya.


Tak ada lagi larangan atau kemarahan seperti dulu meski ada sedikit cemburu. Tapi selagi ia tak melihatnya secara langsung Melisa masih bisa menyembunyikan itu semua.


"Abang pamit dulu sama Adek ya"


"Iya, kita kamarnya sekarang" ajak Melisa, keduanya langsunh bangun dari duduk berjalan beriringan menuja kamar rawat si bungsu.


.


.


Langit dan Melisa berdiri di sisi ranjang Cahaya, wajahnya tetap cantik seperti sedang tertidur biasa, meski bibirnya sedikit kering dan pucat.


Langit terus menggenggam tangan gadis kecilnya sambil sesekali ia ciumi, entah harus dengan apa lagi ia membuktikan rasa cintanya dan memohon pada Tuhan agar menguatkan calon istrinya.


"Iya, Bun. Abang tunggu disini" jawabnya sambil mengangguk paham.


Selepas kepergian Melisa, kini tinggal Langit yang mendampingi Cahaya. Ia duduk dengan sesekali mengusap pipi si bungsu.


.


.


"Bangun ya cantik, Jangan siksa Abang terus kaya gini. Apa Kurang kasih sayang Abang buat kamu sampe gak bisa bikin kamu kuat?, bukan satu atau dua tahun tapi ini udah dua puluh tahun kita berjuang sama-sama demi kamu. Buka mata kamu ya, Abang akan penuhi permintaan kamu" lirih Langit sambil terus terisak menangis pilu.


Hatinya begitu sakit meski ia sering dalam keadaan seperti ini.


Getar ponsel di saku celana menghentikan Ia mencurahkan semua isi hatinya.


"Abang angkat telepon dulu ya"


Langit menghapus air matanya, ia berdehen kecil untuk menetralkan suaranya yang parau.

__ADS_1


"Ya, Hallo"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


kecelakaan??



🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Siapa Bang?


kan.. kan.. kan.. kepo maksimal 😌😌

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan


__ADS_2